Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terus terulang. Kerugian, fisik dan nonfisik, sangat besar. Perhatikan, dua judul berita ini: Kerugian Ekonomi akibat Karhutla 2026 Diperkirakan Capai Rp 167 Triliun (https://money.kompas.com/ 17 Oktober 2026). Karhutla Terjadi Tiap Tahun, Mengapa Kebakaran Hutan Masih Terus Berulang? (https://umm.ac.id/ 24 Agustus 2026).
Simak juga, dua berita ini: 7 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla, dari ISPA hingga Gangguan Jantung (https://www.ucareindonesia.org/id/ 23 Agustus 2026). ‘Pemerintah jangan buta, banyak yang kena ISPA’ – Nasib anak-anak yang meninggal di tengah kepungan asap karhutla (https://www.bbc.com/ 19 Oktober 2026).
Atas karhutla yang terus terulang, bagaimana tanggung jawab pemimpin (baca: penguasa) dalam penanggulangannya? Apa yang telah dilakukan, baik pencegahan maupun penyelesaiannya?
Muhasabah Umar Ra
Menunaikan amanat memimpin secara benar, harus diutamakan. Lihatlah, teladan Umar bin Khaththab Ra dalam hal memikirkan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.
Sering, sebagai khalifah, Umar Ra sendirian di malam hari mengamati secara diam-diam situasi sosial-ekonomi masyarakatnya. Pernah di sebuah malam, ditemani Aslam (salah seorang sahabatnya), Beliau Ra mendapati fakta pahit: Seorang ibu terpaksa ”memasak” batu sekadar untuk memberikan harapan kepada anak-anaknya yang kelaparan.
Atas fakta itu, Umar Ra terhenyak. Bersegera Beliau Ra ke Baitul Maal untuk mengambil sekarung gandum dan memanggulnya sendiri. Mengetahui hal itu, Aslam menawarkan diri untuk membantu memanggulnya. Tapi, Umar Ra tak berkenan, sebab yang demikian itu bagian dari tanggung-jawabnya sebagai pemimpin.
“Biar saya yang memikulnya, wahai Khalifah,” kata Aslam.
“Tidak, terima kasih. Kelak, apa Anda bisa memikul dosa saya di akhirat karena saya telah membiarkan rakyat kelaparan,” respons Umar Ra cepat.
Kisah serupa di atas, banyak dilakukan Umar Ra. Umar Ra ingin, amanat kepemimpinan yang disandangnya dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan, keselamatan seekor keledai, tak luput dari perhatian Umar Ra juga.
“Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad, niscaya Umar akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah,” demikian muhasabah Umar Ra. Berkata begitu, sambil Beliau membayangkan dirinya ditanya, ”Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?”
Teladan Ibnul Jauzi
Umar Ra, sebagai pemimpin, sadar betul terhadap amanat yang harus ditunaikannya. Tanpa diingatkan, Beliau Ra rajin bahkan ketat dalam menjalankan amanat kepemimpinan.
Memang, tak semua penguasa punya performa seperti Umar Ra. Maka, beruntunglah umat Islam yang menghidup-hidupkan sunnah untuk saling menasihati. Nasihat, akan lebih bermakna jika datang dari ulama.
Di titik ini, ada fragmen menarik dari ulama bernama Ibnul Jauzi. Siapa Ibnul Jauzi? Mari baca buku Ulama yang Dirindukan Umat, karya Zaid Al-Fayyadh (2026: 136-138).
Disebutkan, bahwa Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah berkata, “Ia (Ibnul Jauzi) menonjol dalam berbagai cabang ilmu dan unggul sendirian dibanding yang lain. Ia menyusun berbagai karya tulis, baik yang besar maupun yang kecil, sekitar 300 judul. Ia menulis dengan tangannya sendiri setara dengan 200 jilid buku”.
Mungkin, yang dimaksud Ibnu Katsir di kalimat di atas, adalah bahwa: Dari 300 karya buku karya Ibnul Jauzi, 200 di antaranya ditulis dengan tangannya sendiri dan sisanya dituliskan oleh orang lain seperti para muridnya.
Ibnul Jauzi memiliki keunikan dalam seni memberi nasihat. Ini khas, tidak ada yang mampu menyamai kedudukannya, baik dalam metode maupun gaya dalam memberi nasihat. Beliau dikenal karena kefasihan lisannya serta keindahan untaian kalimatnya.
Nasihat-nasihatnya kuat menghujam. Beliau mampu menyelami makna-makna yang indah, serta mampu mendekatkan hal-hal yang abstrak melalui perumpamaan hal-hal yang nyata. Ungkapannya ringkas namun cepat dapat dipahami. Dia mampu mengumpulkan makna yang banyak dalam kata-kata yang sedikit.
Ibnul Jauzi sering menghadiri majelis dan memberi nasihat kepada para khalifah, menteri, ulama, orang fakir, serta seluruh lapisan umat manusia. Jumlah orang yang berkumpul di majelisnya pada saat itu, ribuan orang.
Ibnul Jauzi hidup di masa Khalifah Al-Mustadhi’. Khalifah tersebut punya nama lengkap, Al-Mustadhi’Al-Hassan bin Al-Mustanjid bin Billah. Dia khalifah ke-33 dan lahir pada 536 H. Adz-Dzahabi berkata, “Pada masa pemerintahannya, aliran Syiah Rafidhah melorot di Baghdad dan musnah sama sekali. Penduduk merasa aman dan tenteram. Mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa di masa pemerintahannya. Saat itu para khatib di masjid-masjid di Yaman, Barqah, Tuzur, Mesir hingga Aswan, mengucapkan doa keselamatan untuk khalifah” (https://khazanah.republika.co.id/ 5 Mei 2011).
Suatu hari, di sebuah majelis saat Ibnul Jauzi sedang memberikan nasihat, dia menoleh ke arah Khalifah Al-Mustadhi’. Lalu dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jika aku berbicara, aku mengkhawatirkanmu karena kebenaran yang pahit. Jika aku diam, aku mengkhawatirkan keselamatanmu”.
Lalu, Ibnul Jauzi melanjutkan: ”Sesungguhnya, ucapan seseorang kepadamu yaitu ‘Bertakwalah kepada Allah’ itu jauh lebih baik bagimu daripada ucapan ‘Kalian adalah keluarga ahli bait yang dosanya telah diampuni’.”
”Dahulu Umar bin Al-Khaththab,” lanjut Ibnul Jauzi, pernah berkata, ‘Jika sampai kepadaku kabar tentang pegawaiku yang berbuat zalim lalu aku tidak menindaknya, maka akulah yang zalim’.”
“Wahai Amirul Mukminin,” masih kata Ibnul Jauzi, ”Dahulu Nabi Yusuf tidak pernah makan sampai kenyang di masa paceklik agar dia tidak melupakan orang yang lapar. Dahulu Umar bin Al-Khaththab memukul perutnya sendiri pada tahun kelaparan (Tahun Ramadah) seraya berkata, ’Berbunyi-lah karena lapar atau jangan berbunyi. Demi Allah, Umar tidak akan mencicipi samin (lemak mentega) maupun daging sampai rakyatnya hidup makmur kembali’.”
Mendengar nasihat itu, Khalifah Al-Mustadhi’ menangis. Lalu, dia bersedekah dengan harta yang banyak, membebaskan para tahanan dan memberikan pakaian kepada banyak orang fakir.
Ingat dan Tunaikan!
Demikianlah, kisah Umar bin Khaththab Ra. Semoga bisa memberikan pelajaran, bahwa, sebagai seorang pemimpin hendaknya selalu sadar untuk berusaha bisa menjadi faktor perantara bagi teraihnya kesejahteraan masyarakat.
Begitu juga, kisah Ibnul Jauzi, mudah-mudahan dapat mendatangkan kesadaran kepada semua ulama untuk tak ragu-ragu memberi nasihat kepada siapa saja. Ulama tak perlu enggan, dan apalagi takut, memberi nasihat kepada pemimpin/penguasa. Bahkan, jika perlu, berilah peringatan para penguasa.
Pun, para penguasa, hendaknya bisa meneladani Khalifah Al-Mustadhi’. Mendapat nasihat dari Ibnul Jauzi, dia tak hanya menangis terharu. Dia lalu berbuat dengan bersedekah harta yang banyak, membebaskan para tahanan dan memberikan pakaian kepada banyak orang fakir.
Kembali ke negeri ini. Apa kabar para pemimpin? Sejauh mana penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang?
Terakhir, mudah-mudahan para pemimpin dapat meneladani Umar bin Khaththab Ra yang bahkan keselamatan seekor keledai nun jauh di sana juga dipikirkannya. Semoga segenap pemimpin bisa seperti Khalifah Al-Mustadhi’ yang memperhatikan nasihat ulama agar memperhatikan rakyatnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments