Ada penipuan yang tidak membuat korbannya merasa dirugikan. Sebaliknya, ia justru merasa senang, bangga, bahkan yakin sedang memperoleh kebaikan.
Apa yang dilihat tampak meyakinkan, yang dikejar terasa membahagiakan, dan yang dipercayai seolah-olah dibenarkan banyak orang.
Di situlah bahayanya. Bagaimana jika sesuatu yang semu telah lama dipercaya hingga tampak nyata, bahkan dianggap sebagai ukuran keberhasilan hidup?
Gejalanya hadir di sekitar kita. Orang merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren, menganggap kekayaan dan kedudukan sebagai ukuran kemuliaan, atau mempercayai informasi hanya karena ramai dibagikan.
Di ruang digital, popularitas kerap lebih cepat membentuk keyakinan daripada pemeriksaan fakta.
Bukan berarti harta, teknologi, dan popularitas selalu buruk. Semuanya dapat menjadi sarana kebaikan. Masalah muncul ketika sarana berubah menjadi tujuan, penampilan menggantikan kenyataan, dan keinginan diperlakukan sebagai kebutuhan.
Dalam khazanah Islam, keadaan ketika manusia terpedaya oleh anggapan atau penilaian yang menyesatkan dikenal sebagai ghurur.
Surah Fathir ayat 5 mengingatkan agar manusia tidak terpedaya oleh kehidupan dunia dan tidak membiarkan sang penipu memperdayakannya tentang Allah.
Peringatan ini bukan ajakan membenci dunia, melainkan seruan untuk jernih menilai apa yang dikejar dan dipercayai. Sebab, bahaya terbesar bukan hanya ketika manusia tertipu, melainkan ketika ia tidak lagi menyadari kemungkinan bahwa dirinya sedang tertipu.
Ghurur dalam Kehidupan Beragama
Kita sering lebih mudah melihat kekeliruan orang lain daripada memeriksa diri sendiri. Ketika pandangan dipertanyakan, kita mencari pembenaran.
Ketika kelompok yang kita cintai dikritik, kita buru-buru membela. Keyakinan yang seharusnya menuntun kepada kebenaran justru dapat menjadi alasan untuk menutup diri dari koreksi.
Dalam kehidupan beragama, ghurur dapat muncul ketika seseorang merasa cukup dengan ibadah, ilmu, atau aktivitas dakwahnya.
Padahal, ibadah semestinya memperbaiki akhlak, ilmu menumbuhkan kerendahan hati, dan dakwah mendorong kepedulian kepada sesama.
Ghurur juga dapat terjadi ketika seseorang meyakini amalan yang tidak memiliki landasan syariat yang benar sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Karena merasa sedang melakukan kebaikan, ia tidak melihat perlunya memperbaiki diri. Ketika diingatkan, nasihat justru dianggap sebagai serangan terhadap keyakinan atau tradisi yang dipegangnya.
Surah Al-Kahfi ayat 103–104 memberikan peringatan tentang orang-orang yang amalnya merugi, sementara mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.
Perasaan sedang melakukan kebaikan tidak otomatis menjamin kebenaran amal di sisi Allah. Ayat ini bukan alasan untuk sembarangan menunjuk kelompok tertentu, melainkan peringatan agar setiap orang bersedia memeriksa dirinya.
Al-Ghazali membahas persoalan ini dalam Kitab Dhamm al-Ghurur, bagian dari Ihya’ ‘Ulum al-Din. Orang berilmu dapat terpedaya oleh ilmunya, sebagaimana orang yang tekun beribadah dapat terpedaya oleh amalnya.
Sesuatu yang baik pun bisa menjadi sumber kelengahan ketika membuat seseorang merasa tidak perlu lagi memperbaiki diri.
Kecintaan kepada guru, organisasi, atau kelompok tidak boleh mengalahkan kebenaran. Amalan perlu ditimbang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, bukan semata-mata karena telah menjadi tradisi atau dilakukan oleh orang yang kita hormati.
Namun, kita tidak bisa menyamaratakan keadaan setiap orang yang menjalankan amalan keliru. Ada yang belum mengetahui atau belum memperoleh penjelasan memadai.
Karena itu, koreksi perlu disampaikan dengan ilmu dan akhlak. Tujuannya bukan mempermalukan, melainkan membuka jalan menuju perbaikan. Kesediaan mengakui kekeliruan merupakan langkah penting menuju tobat.
Ilusi Dianggap Kemajuan, Keinginan Disangka Kebutuhan
Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat dan informasi lebih mudah diakses. Semua itu patut disyukuri. Namun, kemajuan sarana tidak selalu berarti kemajuan kebijaksanaan.
Informasi semakin melimpah, tetapi kemampuan membedakan fakta dan kepalsuan belum tentu meningkat.
Surah Al-Hadid ayat 20 mengingatkan tentang kehidupan dunia yang dipenuhi permainan, kesenangan, perhiasan, serta perlombaan dalam harta dan keturunan.
Ini bukan larangan menikmati dunia, melainkan pengingat agar gemerlapnya tidak membuat kita kehilangan ukuran tentang apa yang sungguh bernilai.
Salah satu gejalanya adalah ketika keinginan berubah menjadi kebutuhan. Barang yang masih layak pakai terasa ketinggalan karena muncul model baru.
Gaya hidup orang lain menjadi standar yang harus dikejar. Kita membeli bukan karena membutuhkan, melainkan karena takut dianggap tidak mengikuti zaman.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini melalui fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren atau pengalaman orang lain.
Kita melihat kehidupan yang tampak sempurna di layar, lalu membandingkannya dengan kehidupan sendiri yang penuh persoalan. Sesuatu yang sebelumnya tidak dibutuhkan pun terasa mendesak.
Persoalan serupa muncul dalam dunia informasi. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan tulisan, gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan, padahal isinya belum tentu benar.





0 Tanggapan
Empty Comments