Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Suster Fanti, Biarawati dengan IPK 3,90 yang Berpeluang Jadi Lulusan Terbaik UMJT

Iklan Landscape Smamda
Suster Fanti, Biarawati dengan IPK 3,90 yang Berpeluang Jadi Lulusan Terbaik UMJT
Fantiana Maria Mo’ong saat menjalani ujian skripsi. Foto: UMJT
pwmu.co -

Ada yang menarik dari daftar mahasiswa yang bersiap menutup perjalanan akademiknya di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) tahun ini. Salah satunya Fantiana Maria Mo’ong.

Mahasiswa yang akrab disapa Suster Fanti itu bukan hanya baru saja menyelesaikan ujian skripsi. Ia juga mencatat prestasi akademik yang cukup tinggi dengan IPK 3,90 dan berpeluang menjadi salah satu kandidat lulusan terbaik UMJT pada wisuda periode 2026.

Menariknya lagi, Suster Fanti adalah seorang biarawati Katolik yang datang dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMJT.

Senin (7/9/2026), menjadi salah satu hari penting dalam perjalanan akademiknya. Di Ruang Rapat I Kampus I UMJT, Suster Fanti menjalani ujian skripsi. Ia dinyatakan lulus setelah mempertanggungjawabkan penelitian yang dikerjakannya selama sekitar enam bulan.

Skripsi itu berjudul “Pola Asuh Demokratis untuk Anak Down Syndrome.”

“Ya, sudah lulus setelah saya melakukan riset dengan bimbingan dosen Prodi Kesejahteraan Sosial UMJT yang sabar membimbing riset kami,” ujar Suster Fanti seusai mengikuti ujian skripsi.

Meneliti Pola Asuh Anak Down Syndrome

Skripsi Suster Fanti berangkat dari perhatian terhadap bagaimana anak down syndrome mendapatkan pola pengasuhan yang tepat.

Dalam penelitiannya, ia membahas sejumlah unsur penting dalam pola asuh demokratis. Di antaranya kasih sayang dan dukungan emosional, komunikasi dua arah, disiplin yang mendidik, kebebasan yang tetap terarah, serta penghargaan terhadap keberhasilan anak.

Menurutnya, pola pengasuhan bukan sekadar persoalan bagaimana mendampingi anak dalam keseharian. Lebih dari itu, pola asuh yang tepat dapat membantu membangun kepercayaan diri dan kemandirian anak.

“Dengan pola asuh demokratis seperti ini diharapkan dapat menghilangkan label negatif soal anak down syndrome. Dengan pola asuh yang benar nantinya anak down syndrome bisa mandiri dan bisa diterima,” terang Suster Fanti.

Penelitian tersebut dilakukan di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun. Di lembaga yang dikelola Yayasan Bhakti Luhur Madiun itu terdapat enam anak down syndrome. Namun, Suster Fanti mengambil tiga anak sebagai sampel penelitian.

Penelitian tersebut juga tidak sepenuhnya berjarak dari kesehariannya. Suster Fanti merupakan guru di SLB Bhakti Luhur Madiun. Karena itu, tema yang ia teliti bersentuhan langsung dengan dunia yang selama ini ia jalani.

“Saya melakukan penelitian anak down syndrome yang ada di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun. Di sana ada enam anak down syndrome, tetapi saya ambil sampel tiga saja,” katanya.

Dari enam bulan proses penyelesaian skripsi, sekitar tiga bulan di antaranya digunakan untuk penelitian.

Lulus Skripsi, IPK 3,90

Dalam ujian skripsi tersebut, Suster Fanti diuji oleh Nuril Endi Rahman, M.A. dan Muh. Niam, M.Kesos. Ia dibimbing oleh Qoni’ah, M.Kesos.

Setelah ujian, terdapat sejumlah catatan perbaikan, terutama terkait sistematika penulisan dan penambahan bagian latar belakang. Namun, evaluasi tersebut tidak menghalangi kelulusannya.

“Tadi ada sedikit evaluasi di sistematika penulisan. Ada tambahan latar belakang yang harus ditulis. Jadi ada sedikit revisi. Tadi dinyatakan lulus langsung,” ujarnya.

Dengan kelulusan ujian skripsi tersebut, Suster Fanti juga telah menyelesaikan seluruh mata kuliah yang harus ditempuh di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Jika seluruh proses administrasi dan akademiknya berjalan lancar, ia berpeluang mengikuti wisuda sarjana UMJT periode 2026 yang dijadwalkan pada Desember mendatang.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketika ditanya mengenai IPK terakhirnya, jawabannya singkat, “3,90.”

Angka itu membuat Suster Fanti masuk dalam pembicaraan mengenai kandidat lulusan terbaik UMJT tahun ini.

Namun, ia hanya tersenyum ketika kemungkinan tersebut disampaikan kepadanya.

Bukan Sekadar soal IPK

Kepala Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT Qoni’ah, M.Kesos, mengakui capaian akademik Suster Fanti sangat baik. Namun, penentuan lulusan terbaik tidak semata-mata didasarkan pada IPK.

“Mantap dapat IPK tinggi. Tapi nanti saya lihat dulu nilai dari mahasiswa lain. Misalnya Rani IPK 3,7 atau 3,8, tetap Rani yang jadi terbaik karena Rani lulus di semester 8,” jelas Qoni’ah.

Rani yang dimaksud adalah Maria Regina Asal Jawang, mahasiswa Katolik yang juga menempuh pendidikan di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT.

Dengan demikian, persaingan menuju predikat lulusan terbaik masih terbuka. Suster Fanti memiliki keunggulan dari sisi IPK, tetapi faktor lain dalam ketentuan akademik tetap menjadi pertimbangan.

Yang menarik, Suster Fanti dan Rani bukan nama yang asing dalam kegiatan pengembangan kepemimpinan mahasiswa lintas agama.

Keduanya pernah lolos seleksi Muhammadiyah Youth Interfaith Leadership Program (MY-ILP) di Denpasar, Bali, pada akhir Januari 2025.

Program tersebut merupakan pelatihan kepemimpinan lintas agama bagi mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA). Program ini diselenggarakan Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Jadi Bagian dari Kampus Muhammadiyah

Perjalanan Suster Fanti di UMJT menunjukkan bahwa kampus Muhammadiyah menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi mahasiswa dengan latar belakang berbeda.

Ia datang dari Maumere dan menjalani kehidupan sebagai biarawati. Namun, di kampus ia belajar, meneliti, berdiskusi, menyelesaikan skripsi, dan berproses bersama mahasiswa lainnya.

Kini, setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah dan lulus ujian skripsi, perjalanan akademiknya tinggal menunggu satu tahap lagi: wisuda.

Apakah Suster Fanti akan menjadi lulusan terbaik UMJT tahun 2026? Jawabannya masih harus menunggu seluruh proses akademik selesai.

Tetapi satu hal sudah pasti. Dengan IPK 3,90, skripsi yang telah dipertahankan, serta pengalaman dalam program kepemimpinan lintas agama, Suster Fanti telah meninggalkan jejak yang cukup kuat dalam perjalanan UMJT.

Dari kampus Muhammadiyah di Jawa Timur itu, seorang biarawati asal Flores bersiap membawa pulang gelar sarjana—bersama pengalaman akademik dan perjumpaan lintas iman yang menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/09/2026 21:03
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu