Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Asembagus, Kabupaten Situbondo, menggelar Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Mujahidin, Perante, Kecamatan Asembagus, Situbondo, diikuti oleh ratusan warga Muhammadiyah Asembagus. Pengajian mengangkat tema “Indah dan Sempurnanya Akhlak Rasulullah”, menghadirkan K.H. Abu Hasanuddin Al Hafidz, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember, sebagai penceramah.
K.H. Abu Hasanuddin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Maulid Nabi bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW sekaligus memperkuat komitmen untuk meneladani akhlaknya.
Bergembira atas Lahirnya Rasulullah
Mengawali kajian, K.H. Abu Hasanuddin menjelaskan bahwa kegembiraan atas kelahiran Rasulullah merupakan bagian dari ekspresi syukur dan kecintaan kepada beliau.
Ia menjadikan Surah Yunus ayat 58–59 sebagai salah satu dasar untuk menjelaskan pentingnya bergembira atas rahmat dan karunia Allah.
Menurutnya, Allah berfirman dengan kata “Qul” atau “Katakanlah”, yang menunjukkan bahwa pesan tersebut merupakan sesuatu yang penting dan perlu disampaikan secara terbuka.
“Rahmat Allah itu harus kita syukuri. Salah satu rahmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia adalah diutusnya Rasulullah Muhammad SAW,” tuturnya.
Ia mengingatkan, jangankan kelahiran Rasulullah, kelahiran seorang bayi dari ibunya saja sudah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga.
Karena itu, momentum Maulid Nabi semestinya menghadirkan kebahagiaan yang lebih besar karena yang diperingati adalah kelahiran manusia pilihan Allah, Rasulullah Muhammad SAW.
“Perasaan senang ini bukan sesuatu yang biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa momen ini luar biasa karena yang kita ingat adalah pribadi yang luar biasa, yaitu Rasulullah Muhammad SAW,” jelasnya.
Karakter Nabi Muhamamd SAW
Memasuki pembahasan tentang karakter umat Rasulullah, K.H. Abu Hasanuddin mengutip Surah Al-Fath ayat 29.
Ayat tersebut menggambarkan karakter umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki ketegasan terhadap kekafiran dan kemunkaran, tetapi memiliki kasih sayang dan kelembutan kepada sesama orang beriman.
Umat Rasulullah juga digambarkan sebagai orang-orang yang tekun dalam rukuk dan sujud.
Menurutnya, karakter seorang Muslim tidak cukup hanya terlihat dari perkataan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Umat Nabi Muhammad SAW harus menjadi pribadi yang pekerja keras, bergerak cepat, tidak bermalas-malasan, dan menjadikan kerjanya sebagai bagian dari upaya mencari rida Allah SWT.
“Dasar kerja keras kita adalah mencari rida Allah,” ungkapnya.
K.H. Abu Hasanuddin kemudian mengingatkan jamaah melalui Surah Ali Imran ayat 31 bahwa pengakuan cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW.
Menurutnya, cinta kepada Rasulullah bukan sekadar ungkapan lisan. Cinta tersebut harus melahirkan ittiba’ atau kesediaan mengikuti tuntunan Rasulullah.
“Kalau kalian menyatakan cinta kepada Allah, maka ikutilah Rasulullah,” jelasnya.
Mengikuti Rasulullah akan melahirkan kecintaan Allah dan menjadi jalan memperoleh ampunan-Nya.
Karena itu, ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan hanya seberapa sering seseorang menyebut nama beliau, tetapi sejauh mana akhlak, ibadah, muamalah, dan kehidupannya berusaha mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Beliau mengutip Surah At-Taubah ayat 128–129 yang menggambarkan kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.
Peduli terhadap Umat
Rasulullah SAW memiliki sifat sangat peduli terhadap keadaan umat. Beliau merasakan beratnya penderitaan yang dialami umat dan memiliki kasih sayang yang besar kepada orang-orang beriman.
Dari sini, jamaah diajak memahami bahwa Rasulullah adalah teladan dalam menentukan kebenaran sekaligus sumber keteladanan dalam membangun ketenangan hidup.
“Kebenaran itu melahirkan ketenangan. Kalau tidak benar, biasanya hati kita resah,” ungkapnya.
Melanjutkan pembahasannya pada Surah At-Taubah ayat 128–129. Beliau menegaskan bahwa dlam kehidupan di dunia ini, tidak semua yang direncanakan manusia akan sesuai dengan kenyataan. Karena itu, jamaah juga diingatkan agar memiliki kemampuan menerima kenyataan dengan tetap berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seorang Muslim tidak boleh larut dalam kekecewaan. Ia perlu mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dengan membaca:
“Hasbiyallahu la ilaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhim.”
Allah menjadi tempat bergantung dan tempat menyerahkan segala urusan.
Menjelang penutup, K.H. Abu Hasanuddin juga mengingatkan jamaah tentang realitas kehidupan masyarakat yang penuh dengan perbedaan.
Jangankan masyarakat luas, di dalam lingkungan sendiri pun terdapat perbedaan pandangan dan pilihan.
Namun, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan.
Dalam kehidupan organisasi, pada hal-hal tertentu warga mengikuti keputusan dan arahan pimpinan. Yang terpenting adalah setiap langkah memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengajian Maulid Nabi yang diselenggarakan PCM dan PCA Asembagus tersebut menjadi momentum bagi warga Muhammadiyah untuk kembali mengingat dan meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.
Maulid tidak berhenti pada kegembiraan memperingati kelahiran Nabi. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi pengingat agar kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan dalam kehidupan nyata: beribadah dengan benar, bekerja keras, rendah hati, peduli kepada sesama, lembut kepada saudara, tegas terhadap kemungkaran, serta senantiasa mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments