Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kenapa Pimpinan Cabang Cenderung Diam Saat AUM Bermasalah?

Iklan Landscape Smamda
Kenapa Pimpinan Cabang Cenderung Diam Saat AUM Bermasalah?
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Deddy Surahman, S.E., M.M. (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) menekankan pentingnya proses silent assessment atau penilaian diam-diam dalam merespons berbagai dinamika dan persoalan di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Langkah tersebut diambil untuk menjaga objektivitas kepemimpinan sebelum melahirkan sebuah keputusan strategis, Selasa (8/9).

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Deddy Surahman, S.E., M.M., punya penilaian tersendiri. Menurutnya, sikap pasif yang kerap diperlihatkan jajaran pimpinan cabang tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai bentuk ketidakpedulian, ketidaktahuan, atau ketidakmampuan organisasi. Pimpinan justru sedang mengambil jarak sejenak dari pusaran dinamika agar tidak terjebak dalam kedekatan emosional (emotional attachment) yang berisiko mengaburkan penilaian realistis.

“Dalam mengelola AUM, pimpinan tidak selalu harus hadir dengan suara keras atau keputusan cepat. Ada kalanya pimpinan justru perlu mengambil jarak sejenak dari dinamika organisasi agar tidak terjebak dalam keterikatan emosional,” ujar Deddy sembari sesekali membetulkan letak kacamatanya saat memberikan penekanan pada poin-poin krusial,” jelas Deddy.

Deddy menjelaskan, kedekatan antar-pengelola, relasi persaudaraan, sejarah panjang perjuangan, hingga rasa memiliki yang tinggi terhadap AUM memang menjadi kekuatan utama persyarikatan. Namun, di sisi lain, hal itu dapat menjadi pembenaran atas kesalahan apabila tidak dikelola dengan bijak. Di sinilah penerapan emotional detachment—atau melepaskan keterikatan emosional sementara—menjadi aspek vital agar keberpihakan yang berlebihan tidak mendominasi pertimbangan teknis.

“Pimpinan yang baik itu bukan yang paling nyaring bersuara atau terburu-buru mengambil tindakan emosional. Silent assessment ini cara kita belajar mendengar dan memahami persoalan secara utuh. Tujuannya bukan cuma mencari siapa yang salah, tapi bagaimana kita tetap bisa merawat dan menyelamatkan orang-orang di dalam AUM,” kata Deddy sembari membetulkan letak kacamatanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Melalui silent assessment, pimpinan diberi ruang penuh untuk belajar mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan mengamati keadaan secara menyeluruh. Proses ini ditujukan bukan sekadar untuk mencari kesalahan pengelola AUM, melainkan juga menjaga aspek kemanusiaan di dalam tubuh organisasi. Pimpinan cabang juga dituntut memiliki self-compassion dalam memetakan masalah secara proporsional.

“Terkadang memberi waktu untuk memahami adalah bentuk kepedulian; menjaga jarak adalah cara untuk tetap objektif; dan diam adalah bagian dari proses sebelum amanah itu diterjemahkan menjadi keputusan,” tutur dosen prodi Akuntansi tersebut.

Ia menegaskan, tolok ukur kepemimpinan yang baik dalam tata kelola AUM tidak diukur dari seberapa nyaring pimpinan bersuara di publik. Publik dan warga persyarikatan diimbau untuk melihat sikap diam PCM sebagai bentuk kehati-hatian dalam mematangkan langkah, sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar lahir dari kejernihan analisis. Bukan reaksi emosional sesaat.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 09/09/2026 10:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu