Tidak semua masjid tumbuh dalam kondisi ideal. Ada yang berada jauh dari permukiman penduduk, dikelilingi kawasan industri, bahkan tidak memiliki jamaah tetap. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, untuk terus hidup dan berkembang.
Masjid yang berada di tengah kawasan industri tersebut justru membangun pola pengelolaan yang berbeda. Pelayanan kepada musafir, keterlibatan generasi muda, pemanfaatan media sosial, dan berbagai inovasi program menjadi kekuatan dalam menghidupkan masjid.
Hal tersebut menarik perhatian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan, Bantul, Yogyakarta, yang melakukan studi tiru ke Masjid Ar-Royyan melalui program “Wisatamu”. Program rutin ini memadukan rekreasi, silaturahmi, dan pembelajaran pengelolaan masjid. Pada pelaksanaan Wisatamu yang ketiga, sebanyak 55 peserta berkunjung ke Masjid Ar-Royyan.
Rombongan tiba sekitar pukul 02.30 WIB dan disambut pengurus takmir. Karena mengembangkan konsep Masjid Ramah Musafir, pengurus telah menyiapkan tempat beristirahat di lantai dua, lengkap dengan berbagai kebutuhan dasar.
Setelah beristirahat, rombongan mengikuti salat Subuh berjamaah dan Pengajian Gerbang Surga, kajian rutin Ahad pagi yang diikuti ratusan jamaah. Kegiatan dilanjutkan dengan sarapan bersama yang disiapkan pengurus. Momen tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara pengurus, jamaah, dan rombongan PCM Banguntapan Selatan.
Belajar dari Masjid di Tengah Kawasan Industri
Ketua PCM Banguntapan Selatan Bantul, Dr. Aris Abdullah, M.Si., menjelaskan bahwa Wisatamu memang dirancang tidak sekadar untuk rekreasi. Setiap kunjungan selalu disertai agenda pembelajaran ke masjid yang memiliki hal menarik untuk dipelajari.
“Untuk kali ini sengaja kami memilih Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran karena kami mendengar, melihat, dan membaca di media sosial bahwa masjid ini sudah dikenal luas,” ujarnya.
Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Ridwan Manan, menjelaskan bahwa letak geografis menjadi tantangan tersendiri. Masjid berada jauh dari permukiman dan dikelilingi kawasan industri. Bahkan, rumah para pengurus takmir berjarak sekitar empat kilometer dari masjid.
“Masjid ini tidak dekat dari permukiman warga. Bahkan kami pengurus takmirnya, rumahnya berjarak mulai sekitar empat kilometer dari masjid ini,” ungkapnya.
Kondisi tersebut mendorong pengurus melihat kebutuhan masyarakat yang melintas. Salah satunya dengan membuka pintu masjid selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas bagi musafir.
“Layanan musafir juga kami siapkan, mulai dari kopi, teh yang bisa dibuat 24 jam, air minum dingin, Wi-Fi, kasur, sabun mandi, dan berbagai kebutuhan lainnya,” kata Ridwan.
Memberi Ruang kepada Generasi Muda
Selain pelayanan kepada musafir, Masjid Ar-Royyan memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan masjid. Mereka diberi amanah di bidang media sosial, keamanan, hingga Badan Usaha Milik Masjid.
“Di samping mereka diberikan ruang penuh untuk aktif dan berekspresi di masjid, mereka juga kami berikan amanah dan tanggung jawab,” ujar Ridwan.
Menariknya, sekitar 90 persen anak muda yang aktif di Ar-Royyan sebelumnya merupakan pengurus atau pernah aktif di masjid masing-masing. Menurut Ridwan, mereka membutuhkan ruang untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas.
“Kalau di masjid ini, semuanya kami tampung dan kami fasilitasi,” katanya.
Pengelolaan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lokasi dan minimnya jamaah tetap tidak harus menjadi penghalang. Ketika tidak memiliki basis jamaah tetap, Ar-Royyan membuka diri bagi musafir. Ketika berada di kawasan industri, masjid menghadirkan pelayanan bagi masyarakat yang melintas. Ketika generasi muda membutuhkan ruang, masjid memberikan kepercayaan.
Melalui pelayanan yang tulus, pengelolaan adaptif, keterlibatan generasi muda, serta pemanfaatan media sosial, Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran membuktikan bahwa masjid tidak harus berada di tengah permukiman atau memiliki bangunan megah untuk terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments