Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wakil Rektor UMJT: Media Sosial Organisasi Harus Dikelola sebagai Aset Digital

Iklan Landscape Smamda
Wakil Rektor UMJT: Media Sosial Organisasi Harus Dikelola sebagai Aset Digital
Dr. Fajar Junaedi saat membahas strategi komunikasi digital dalam program Peningkatan Kapasitas Kader GRASS. Foto: UMJT
pwmu.co -

Media sosial organisasi tidak cukup hanya dipenuhi unggahan. Setiap akun perlu diperlakukan sebagai aset digital yang dirancang untuk membangun kepercayaan, menjaga reputasi, dan memperluas jangkauan pesan organisasi.

Menurut Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si. pengelolaan seperti itu membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat video atau desain yang menarik. Organisasi perlu memiliki arah pesan yang jelas agar setiap konten yang dipublikasikan saling terhubung dan memperkuat identitas lembaga.

“Di sinilah pentingnya content pillar dan content plan. Pilar konten menjadi kerangka untuk menentukan pesan utama, sedangkan perencanaan konten membantu mengatur siapa yang dituju, apa yang ingin dicapai, platform yang digunakan, serta ritme publikasi,” katanya, Selasa (29/9/2026).

Tanpa dua fondasi tersebut, trang dia, akun organisasi mudah berubah menjadi ruang unggahan yang mengikuti apa yang sedang ramai. Kontennya mungkin menarik secara visual, tetapi belum tentu memiliki kekuatan untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan publik.

Fajar Junaedi juga menyampaikan hal itu saat membahas strategi komunikasi digital dalam program Peningkatan Kapasitas Kader GRASS dalam Pembuatan Konten Edukasi Kesehatan Digital yang diselenggarakan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI).

Menurut dia, media sosial harus dikelola sebagai aset digital organisasi.

“Kalau tidak ada pilar konten dan perencanaan yang terukur, akun kader hanya menjadi tempat unggahan acak. Reputasi digital justru rawan rusak,” ujarnya.

Fajar menekankan, reputasi digital tidak dibangun oleh satu konten yang viral. Reputasi tumbuh dari konsistensi organisasi dalam menentukan isu, memeriksa informasi, memproduksi pesan, dan menerbitkannya secara teratur.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, menurut dia, kedekatan kader dengan masyarakat perlu diterjemahkan menjadi strategi komunikasi. Isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, verifikasi sumber, dan etika digital harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

“Pilar konten dan content plan bukan formalitas. Itu cara organisasi menjaga konsistensi, kredibilitas, dan kepercayaan publik di media sosial,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, setiap konten tidak berhenti sebagai materi publikasi, tetapi memiliki fungsi yang lebih jelas: membangun kepercayaan, melawan hoaks, dan memperluas jangkauan edukasi kesehatan.

“Kalau media sosial diperlakukan sebagai aset, setiap konten punya fungsi: membangun kepercayaan, menolak hoaks, dan memperluas jangkauan edukasi. Tanpa pilar dan perencanaan, aset itu mudah tergerus,” tegasnya.

Program penguatan kader GRASS tersebut dirancang dalam tiga tahap, yakni dua webinar, inkubasi produksi konten, dan pendampingan selama satu bulan melalui grup WhatsApp. Peserta diarahkan menghasilkan portofolio konten untuk WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube.

Ratusan peserta dari seluruh Indonesia mengikuti program tersebut. Dalam rangkaian ini, Fajar menempatkan content pillar dan content plan sebagai fondasi sebelum peserta memasuki tahap storytelling, produksi video, editing, hingga publikasi lintas platform. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 29/09/2026 09:05
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu