SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik menggelar kegiatan Tadabur Al-Qur’an bertema “Muslimah Tangguh Berbekal Wahyu” bagi siswi kelas X dan XI, Jumat–Sabtu (11–12/9/2026).
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman keislaman, keteguhan hati, dan akhlak peserta didik melalui kajian ayat Al-Qur’an serta refleksi kehidupan muslimah.
Kegiatan dibuka Wakil Kepala Sekolah Bidang Ismuba, Khudzaifaturrahman, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa muslimah tangguh merupakan pribadi yang tidak mudah mengeluh dan mampu menghadapi kehidupan dengan keyakinan.
“Muslimah tangguh tidak mudah mengeluh. Perempuan itu feminin, tetapi tidak boleh menye-menye,” pesannya.
Khudzaifaturrahman juga menjelaskan bahwa kegiatan Tadabur Al-Qur’an menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan bekal keagamaan kepada peserta didik. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu disertai penguatan iman dan akhlak.
Materi utama disampaikan Ustadzah Fatma Hajar Islamiyah, M.Pd., Ketua Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Gresik. Ia mengajak para siswi memahami Al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang menjadi pedoman seorang muslimah dalam menjalani kehidupan.
Menurut Fatma, muslimah yang menjadikan wahyu sebagai bekal tidak mudah terbawa arus dan kehilangan arah. Nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan serta menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Muslimah yang berbekal wahyu tidak mudah terbawa arus, tidak mudah kehilangan arah, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang Allah ajarkan,” ujarnya.
Dalam kajian QS Fatir ayat 32, Fatma mengajak peserta merefleksikan tiga golongan manusia dalam menerima Al-Qur’an. Ketiga golongan tersebut ialah orang yang menzalimi diri sendiri, orang yang berada di tengah-tengah, dan orang yang berlomba dalam kebaikan.
Fatma kemudian mengajukan pertanyaan reflektif kepada para siswi.
“Ukhti-ukhti semuanya, kalian memilih menzalimi diri sendiri atau tidak?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut mengajak peserta mengevaluasi diri dan menentukan pilihan hidup berdasarkan petunjuk wahyu.
Pembahasan juga mengaitkan QS An-Nisa ayat 1 dengan kesadaran bahwa seluruh manusia berasal dari satu sumber penciptaan. Fatma menjelaskan bahwa kesadaran tersebut dapat menjadi landasan bagi muslimah untuk tidak minder, membangun rasa percaya diri, dan menjadikan ketakwaan sebagai dasar kehidupan.
Selain itu, Fatma menyampaikan kisah Umar bin Khattab yang tersentuh setelah mendengar bacaan QS Taha ayat 1–4. Kisah tersebut digunakan untuk menggambarkan pengaruh Al-Qur’an dalam menyentuh hati dan mendorong perubahan diri.
Seorang muslimah yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan memiliki hati yang peka terhadap kebaikan dan terdorong untuk meningkatkan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan refleksi bagi para siswi. Melalui refleksi tersebut, peserta diajak memahami bahwa muslimah tangguh bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah, melainkan mampu menghadapi persoalan dengan menjadikan wahyu sebagai pegangan.
Fatma berharap para siswi semakin memahami makna Al-Qur’an, mencintai proses membaca dan mentadaburinya, serta menjadikannya sebagai teman dan pedoman hidup.
“Lebih baik memilih membuka dan memahami Al-Qur’an daripada sekadar larut dalam TikTok dan media sosial,” pungkas Fatma. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments