Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KKM Universitas Muhammadiyah Cirebon Dorong Kemandirian Desa Ciledug Wetan melalui Ekonomi Sirkular Berbasis Digital

Iklan Landscape Smamda
KKM Universitas Muhammadiyah Cirebon Dorong Kemandirian Desa Ciledug Wetan melalui Ekonomi Sirkular Berbasis Digital
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon. (Masdum Mustaqwa/PWMU.CO).
pwmu.co -

Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 10 di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Kegiatan pembukaan dan penerimaan mahasiswa dilaksanakan di Ruang Pertemuan Kantor Kecamatan Ciledug, Rabu (12/8/2026).

KKM Kelompok 10 mengusung tema “Membangun Kemandirian Desa Melalui Penguatan Ekonomi Sirkular Berbasis Digitalisasi UMKM, Pengelolaan Sampah, dan Ketahanan Pangan.”

Kegiatan KKM akan berlangsung selama lebih dari satu bulan, mulai 12 Agustus hingga 17 September 2026.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Ciledug H Mpep Maman Surahman SP, Kepala Desa Ciledug Wetan Wastar, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Masdum Mustaqwa MT, serta Ketua KKM Kelompok 10 Gali Putra Efendi, bersama mahasiswa peserta KKM.

Harapan Camat Ciledug

Dalam sambutannya, Camat Ciledug H Mpep Maman Surahman SP menyambut baik kehadiran mahasiswa UMC dan berharap kegiatan KKM tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah desa dalam menghadirkan gagasan, inovasi, dan pendampingan yang dapat memperkuat potensi lokal.

“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa KKM Universitas Muhammadiyah Cirebon di Kecamatan Ciledug, khususnya di Desa Ciledug Wetan” terangnya.

“Kami berharap mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat, memahami persoalan yang ada di lapangan, kemudian memberikan solusi yang aplikatif dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat setelah KKM selesai” ujar Mpep Maman Surahman.

Ia juga menilai tema yang diangkat Kelompok 10 memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan desa saat ini.

Digitalisasi UMKM, pengelolaan sampah, dan ketahanan pangan, menurutnya, merupakan tiga sektor yang dapat dikembangkan secara terpadu untuk memperkuat kemandirian masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Ciledug Wetan, Wastar, menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM di wilayahnya. Ia berharap program yang dibawa mahasiswa dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat Desa Ciledug Wetan.

“Kami dari Pemerintah Desa Ciledug Wetan sangat terbuka dan menyambut baik program KKM ini. Harapannya mahasiswa tidak hanya menjalankan program yang bersifat seremonial, tetapi benar-benar dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah desa untuk menggali potensi yang ada” ungkap Wastar.

Menurut Wastar, penguatan UMKM, pemanfaatan sampah, dan ketahanan pangan merupakan isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat memberikan perspektif baru, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi dan pengembangan inovasi.

“Kalau potensi desa dapat dikelola dengan baik, kemudian dipadukan dengan teknologi dan kreativitas generasi muda, tentu akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat” tambahnya.

KKM sebagai Laboratorium Sosial Mahasiswa 

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Masdum Mustaqwa MT menegaskan bahwa KKM harus dipandang sebagai ruang pembelajaran. Sekaligus pengabdian yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas kehidupan masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa tidak datang ke desa sebagai pihak yang merasa paling mengetahui persoalan. Melainkan sebagai mitra masyarakat untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah, mengembangkan potensi, dan merancang solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“KKM bukan sekadar memindahkan mahasiswa dari kampus ke desa. KKM adalah laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar memahami masyarakat sekaligus mengimplementasikan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata” jelas Masdum.

Ia menjelaskan bahwa tema ekonomi sirkular dipilih karena pembangunan desa tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan konsumsi.

Tetapi juga harus memperhatikan bagaimana sumber daya dapat digunakan secara efisien, limbah dikurangi, dan produk atau material yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan kembali.

“Karena itu, tiga fokus utama yang kita bawa—digitalisasi UMKM, pengelolaan sampah, dan ketahanan pangan—sebenarnya saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi sirkular” katanya.

Dalam konteks digitalisasi UMKM, mahasiswa akan diarahkan untuk membantu pelaku usaha desa dalam meningkatkan kemampuan pemasaran digital, penguatan identitas produk, pembuatan konten, pemanfaatan media sosial dan marketplace, serta pengembangan pencatatan usaha yang lebih baik.

Pada aspek pengelolaan sampah, program diarahkan pada peningkatan kesadaran masyarakat, pemilahan sampah dari sumber, pengolahan sampah yang memiliki nilai ekonomi, serta pengembangan pendekatan yang memungkinkan sampah tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Sementara dalam aspek ketahanan pangan, mahasiswa akan mendorong pemanfaatan potensi lokal melalui kegiatan yang dapat mendukung ketersediaan pangan keluarga dan masyarakat. Termasuk edukasi, pemanfaatan lahan, serta pengembangan inovasi pangan berbasis potensi desa.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 14/08/2026 10:09
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu