Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Sampai Dunia Terang, tetapi Batin Gelap

Iklan Landscape Smamda
Jangan Sampai Dunia Terang, tetapi Batin Gelap
Ustaz HM. Yasri

Manusia bisa memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan akal untuk berpikir. Namun, semua perangkat itu tidak otomatis membuat seseorang mampu menemukan kebenaran. Tanpa petunjuk, manusia bisa saja melihat tetapi tidak memahami, mendengar tetapi tidak menangkap pesan, serta memiliki pengetahuan tetapi tetap salah menentukan arah kehidupan.

Karena itu, Al-Qur’an tidak cukup hanya ditempatkan sebagai kitab yang dibaca. Al-Qur’an harus menjadi sumber kesadaran, cara pandang, sekaligus bekal manusia dalam menjalani kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan mubaligh Muhammadiyah Drs. H. Muhammad Yasri, MHI, dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Dalam telaahnya, Yasri mengupas kandungan sejumlah ayat, terutama Surah An-Nahl, tentang iman, kekufuran, ketenangan jiwa, kecintaan kepada dunia, hingga pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi hati.

Menurut Ustaz Yasri, Al-Qur’an memiliki peran sangat mendasar karena manusia sebelum bertindak harus memiliki pemahaman mengenai apa yang akan dilakukan, untuk apa dilakukan, dan bagaimana melakukannya.

“Kalau cara pandangnya salah, praktiknya juga salah,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.

Ustaz  Yasri menjelaskan, kesadaran manusia menentukan tindakannya. Ketika seseorang menjauh dari Al-Qur’an, yang rusak bukan hanya pengetahuan keagamaannya, tetapi juga sisi kejiwaan.

Dia mengaitkan penjelasan tersebut dengan Surah An-Nahl ayat 106 dan ayat-ayat di sekitarnya. Ia mengingatkan adanya orang-orang yang berusaha menjauhkan manusia dari Al-Qur’an dengan berbagai tuduhan terhadap Rasulullah saw.

Pada masa Rasulullah, misalnya, muncul tuduhan bahwa Nabi Muhammad saw mempelajari kitab-kitab terdahulu lalu menyusun Al-Qur’an berdasarkan kreativitasnya sendiri.

Padahal, menurut Ustaz Yasri, Al-Qur’an justru menunjukkan karakter yang berbeda. Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab yang jelas dan komunikatif.

Ia menjelaskan istilah mubin yang berkaitan dengan makna menjelaskan atau menerangkan. Karena itu, kitab yang berfungsi memberikan penjelasan tentu menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan dikomunikasikan kepada manusia.

“Berarti bahasanya dipersiapkan paling komunikatif,” katanya.

Dari sini,  Ustaz Yasri mengajak umat Islam melihat Al-Qur’an bukan sebagai teks yang jauh dari kehidupan. Al-Qur’an justru hadir untuk membimbing manusia memahami kehidupan dan menentukan jalan yang benar.

Salah satu bahaya yang ditekankan Yasri adalah ketika hati manusia sudah dikuasai kebencian atau kecintaan yang berlebihan.

Dia menguraikan makna ghisyawah, yakni penutup yang membuat manusia tidak lagi mampu melihat dan mendengar kebenaran dengan jernih.

Seseorang dapat memiliki mata, tetapi kecintaannya membuat ia tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya. Demikian pula kebencian dapat membuat seseorang menolak kebenaran hanya karena datang dari pihak yang tidak disukainya.

Ustaz Yasri mengingatkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada umat terdahulu. Orang beriman pun harus berhati-hati karena hati manusia dapat berubah.

Karena itu, iman bukan sekadar pengakuan di lisan. Iman membutuhkan penjagaan hati agar tidak membuka ruang bagi sesuatu yang bertentangan dengan petunjuk Allah.

Dia mengibaratkan ketaatan sebagai sesuatu yang menghadirkan ketenangan. Ketika perintah Allah dijalankan dan larangan-Nya dijauhi, hati mendapatkan kemantapan.

Iman Melahirkan Ketenangan Jiwa

Dalam pembahasannya tentang Surah An-Nahl, Ustaz Yasri menyoroti istilah mutmainnun bil iman, hati yang tenang karena iman.

Menurutnya, iman yang benar akan melahirkan respons nyata. Seorang Muslim tidak hanya mengetahui perintah Allah, tetapi berusaha menjalankannya. Ia juga tidak hanya mengetahui larangan Allah, tetapi berusaha menjauhinya.

“Kalau sudah menancap di dalam hati lewat perintah yang dijalani, larangan yang dijauhi, itu membentuk kemantapan iman,” tuturnya.

Ketenangan tersebut berbeda dengan rasa nyaman yang bersumber dari kekayaan atau fasilitas duniawi. Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap gelisah. Sebaliknya, orang yang sederhana dapat memiliki ketenteraman karena hatinya memiliki pegangan.

Ustaz Yasri memberi gambaran bahwa manusia sering lebih mudah menghindari aturan dunia ketika ada celah untuk menghindarinya. Namun, seorang Muslim memiliki kesadaran berbeda ketika berhadapan dengan perintah Allah.

Misalnya dalam kewajiban zakat. Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa zakat merupakan perintah Allah, ia tidak mencari-cari alasan untuk menghindarinya. Ada dorongan iman yang membuat hati merasa tidak nyaman apabila kewajiban tersebut ditinggalkan.

Inilah, menurut Yasri, salah satu bentuk respons iman.

Ustaz Yasri kemudian mengingatkan umat Islam agar tidak memberikan ruang dalam hati untuk menerima kekufuran.

Dia mengutip bagian ayat yang menjelaskan tentang orang yang “melapangkan dada” untuk kekufuran dan konsekuensi berupa kemurkaan Allah.

Pesan tersebut bukan sekadar berbicara tentang identitas, tetapi tentang bagaimana hati manusia menentukan pilihan. Ketika seseorang terus-menerus membuka dirinya terhadap sesuatu yang bertentangan dengan iman, kepekaan hatinya terhadap kebenaran dapat semakin melemah.

Sebaliknya, iman harus dirawat melalui pemahaman dan pengamalan.

Menurut Ustaz Yasri, seseorang yang masih memiliki iman ketika tersesat masih mempunyai jalan untuk kembali. Al-Qur’an menyediakan petunjuk mengenai arah perjalanan, tujuan, serta jalan yang harus ditempuh.

“Kalau kita punya Al-Qur’an, kita punya garis untuk memahami kesesatan,” ujarnya.

Karena itu, Al-Qur’an menjadi sangat penting bagi seorang Muslim. Tanpa petunjuk, manusia akan kesulitan membedakan mana jalan yang benar dan mana yang membawa dirinya semakin jauh dari tujuan.

Kisah Thalut: Kepemimpinan Jangan Diukur dari Harta

Dalam kajiannya, Ustaz Yasri juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan kisah Thalut dalam Al-Qur’an.

Ketika Bani Israil meminta seorang pemimpin untuk menghadapi musuh, mereka justru mempertanyakan kelayakan Thalut karena tidak memiliki kekayaan dan bukan berasal dari garis keturunan raja.

Menurut Ustaz Yasri, kisah tersebut memberikan pelajaran penting tentang bagaimana manusia sering mengukur kepemimpinan berdasarkan harta dan status.

Padahal, ukuran kepemimpinan dalam perspektif wahyu tidak berhenti pada kekayaan, keturunan, atau kedudukan sosial.

SMPM 5 Pucang SBY

Ustaz Yasri bahkan mengingatkan agar proses kepemimpinan tidak dikendalikan oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai agama.

Kisah Thalut juga menunjukkan bahwa Allah memberikan ukuran yang berbeda dari ukuran manusia. Kemampuan, kapasitas, dan tanda-tanda yang ditetapkan Allah menjadi bagian dari pertimbangan.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ibadah individual, tetapi juga memberikan pelajaran mengenai kehidupan sosial dan kepemimpinan.

Bagian lain yang mendapat perhatian dalam kajian Yasri adalah kecenderungan manusia mencintai dunia secara berlebihan.

Dia mengingatkan bahwa masalahnya bukan memiliki dunia. Harta, jabatan, ilmu, dan berbagai fasilitas adalah pemberian Allah. Persoalannya muncul ketika kehidupan dunia lebih dicintai daripada kehidupan akhirat.

Yasri mengutip makna ayat yang menggambarkan orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia dibandingkan akhirat.

Menurutnya, dunia pada dasarnya merupakan tempat mempersiapkan bekal. Karena itu, manusia harus berhati-hati menentukan bekalnya.

Ustaz  Yasri menggunakan perumpamaan perjalanan. Orang yang akan melakukan perjalanan panjang tentu harus mempersiapkan bekal sesuai tujuan. Jika bekalnya salah, perjalanan yang dilakukan bisa kehilangan arah.

Demikian pula kehidupan manusia. Harta dan fasilitas yang dimiliki seharusnya digunakan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat, bukan menjadi tujuan akhir.

“Gunakan pemberian Allah untuk menggapai Alhamdulillah,” katanya.

Salah satu bagian paling kuat dalam kajian tersebut adalah penjelasan Yasri tentang doa Rasulullah saw yang memohon agar Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam kehidupan batin manusia.

Ustaz Yasri menguraikan doa Rasulullah saw yang memohon kepada Allah agar Al-Qur’an menjadi penyubur hati, penerang dada, penghilang kesedihan, dan pengusir kegundahan.

“Ya Allah, suburkan hati saya dengan Al-Qur’an. Ya Allah, cemerlangkan dada saya dengan Al-Qur’an. Hilangkan kesedihan dan kegundahan saya dengan Al-Qur’an,” jelasnya.

Menurut Ustaz Yasri, doa tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memiliki fungsi membentuk dan merawat kehidupan batin.

Hati, kata dia, juga membutuhkan makanan. Jika hati tidak diisi dengan pemahaman Al-Qur’an, hati akan menjadi kering.

Karena itu, membaca Al-Qur’an perlu dilakukan secara terus-menerus. Namun, membaca tidak berhenti pada pelafalan. Ayat-ayat tersebut harus dipahami dan dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan.

Al-Qur’an Mengajarkan Cara Melihat

Ustaz Yasri kemudian menjelaskan bahwa salah satu masalah manusia adalah memiliki perangkat indra, tetapi kehilangan kemampuan untuk menggunakannya secara benar.

Mata dapat melihat berbagai macam benda, tetapi belum tentu mampu melihat kebenaran. Telinga dapat mendengar suara, tetapi belum tentu mampu menangkap petunjuk.

Dalam konteks inilah Al-Qur’an menjadi pembimbing.

“Al-Qur’an luar biasa. Kita punya Al-Qur’an itu,” katanya.

Al-Qur’an mengajarkan cara mendengar, cara melihat, dan cara menganalisis. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an harus dibangun bukan sekadar sebagai rutinitas, tetapi sebagai proses pembentukan cara berpikir.

Yasri menilai seorang Muslim harus membiasakan diri bertanya kepada Al-Qur’an ketika menghadapi kehidupan: apa yang benar, apa yang salah, apa yang diperintahkan, apa yang dilarang, dan ke mana kehidupan harus diarahkan.

Untuk menggambarkan pentingnya kedekatan dengan Al-Qur’an, Ustaz Yasri juga menceritakan pengalaman seorang perempuan yang pernah mengikuti pengajian.

Perempuan tersebut mengalami kondisi kesehatan yang membuat ingatan dan kemampuan komunikasinya menurun. Namun, ketika mendekati ajal, ia masih mampu membaca Al-Qur’an dengan jelas.

Kisah itu, menurut Ustaz Yasri, menjadi pengingat bahwa apa yang dibiasakan seseorang sepanjang hidup dapat menjadi bagian penting dari dirinya.

Karena itu, membangun hubungan dengan Al-Qur’an tidak seharusnya menunggu usia tua atau ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan.

Al-Qur’an harus menjadi teman sejak manusia masih sehat, kuat, dan memiliki kesempatan untuk belajar.

Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang tetap dapat dibaca dan dihafalkan setelah Rasulullah SAW wafat. Berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu yang telah berakhir seiring wafatnya para nabi, Al-Qur’an terus hadir dan diwariskan kepada umat.

Pada bagian akhir kajiannya, Yasri mengajak umat Islam menjadikan rumah sebagai tempat yang hidup dengan salat dan bacaan Al-Qur’an.

Dia mengutip pesan agar rumah diterangi dengan salat dan bacaan Al-Qur’an. Pesan itu menjadi perumpamaan yang kuat. Jangan sampai manusia sibuk membuat rumahnya terang secara fisik, tetapi membiarkan kehidupan batinnya gelap.

Jangan pula sampai dunia yang dimiliki semakin luas, sementara hati semakin sempit. Jangan sampai harta bertambah, tetapi ketenangan berkurang. Jangan sampai pengetahuan meningkat, tetapi kemampuan menerima kebenaran justru melemah.

Karena itu, kata Ustaz Yasri, Al-Qur’an harus ditempatkan sebagai bekal utama dalam perjalanan hidup.

Al-Qur’an menyuburkan hati, menerangi dada, menghilangkan kegundahan, sekaligus memberikan arah agar manusia tidak kehilangan jalan.

Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan bekal untuk menjalani kehidupan dunia. Ia membutuhkan bekal untuk kembali kepada Allah.

Dan salah satu bekal terpenting itu adalah hati yang dekat dengan Al-Qur’an—membacanya, memahaminya, mengamalkannya, dan menjadikannya cahaya dalam menentukan setiap langkah kehidupan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/08/2026 10:26
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu