Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Semua Kita Pernah Salah, Ustaz Furkan Abidin Ingatkan Jalan Kembali kepada Rahmat Allah

Iklan Landscape Smamda
Semua Kita Pernah Salah, Ustaz Furkan Abidin Ingatkan Jalan Kembali kepada Rahmat Allah
Ustaz Furkan Abidin Ali.
Oleh : Danar Trivasya Fikri

Rahmat Allah tidak hanya dicari melalui doa, tetapi juga melalui kebaikan yang terus dilakukan dan kesediaan untuk segera memohon ampun ketika melakukan kesalahan. Istigfar menjadi salah satu jalan penting untuk kembali mendekat kepada Allah.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz Furkan Abidin Ali, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, seperti dilansir di kanal YoutubeMasjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.

Menurut Ustaz Furkan, kesempatan dapat melaksanakan salat Subuh berjamaah merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan dan kemampuan untuk menjalankan ibadah tersebut.

“Allah mengilhamkan kepada kita untuk mampu salat Subuh berjamaah. Ini sebuah kenikmatan yang besar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, rahmat Allah merupakan kebutuhan manusia sejak kehidupan di dunia hingga akhirat.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri, tetapi harus senantiasa memohon pertolongan dan kasih sayang Allah.

Ustaz Furkan mengutip Surah Hud ayat 114 yang menegaskan bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

“Inna rahmatallahi qaribum minal muhsinin. Secara umum rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik,” katanya.

Menurut dia, kebaikan yang dilakukan seorang Muslim menjadi salah satu jalan untuk mendatangkan rahmat Allah.

Sebaliknya, seseorang yang memperoleh kekayaan atau jabatan dengan cara yang melanggar syariat tidak serta-merta dapat disebut mendapatkan rahmat Allah.

Rahmat Allah, lanjutnya, bukan sekadar banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya kenikmatan dunia. Rahmat berkaitan dengan keridaan Allah terhadap kehidupan dan amal seseorang.

Karena itu, ia mengingatkan jemaah agar menjauhi kemaksiatan. Jika seseorang terlanjur melakukan kesalahan, jalan yang harus ditempuh bukan mempertahankan kesalahan tersebut, melainkan segera bertobat dan memohon ampun.

Jangan Merasa Mampu Tanpa Allah

Ustaz Furkan juga mengajak jemaah belajar dari kisah para nabi. Nabi Sulaiman, misalnya, tetap memohon rahmat Allah meskipun telah dianugerahi kekuasaan yang besar.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak nikmat yang diterima seseorang, semakin besar pula kebutuhannya kepada Allah.

“Ya Allah, dengan rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,” jelasnya, merujuk pada doa Nabi Sulaiman.

Dia juga mengangkat kisah Nabi Adam dan Nabi Musa sebagai pelajaran tentang pentingnya istigfar. Kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, semestinya tidak membuat seseorang larut dalam kesombongan.

Al-Qur’an menggambarkan perbuatan dosa sebagai bentuk menzalimi diri sendiri. Karena itu, ketika melakukan kesalahan, seorang Muslim dianjurkan segera kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

SMPM 5 Pucang SBY

“Siapa yang tidak pernah salah? Semua kita salah,” katanya.

Ustaz Furkan menegaskan, ajakan untuk beristigfar bukan berarti membenarkan seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan. Istigfar justru menjadi bentuk kesadaran bahwa manusia memiliki kelemahan dan membutuhkan ampunan Allah.

Dia mengingatkan bahwa Allah memiliki sifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Namun, kesempatan mendapatkan ampunan tersebut seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, bukan mengulangi kesalahan.

“Ketika kita melakukan kesalahan, agar tidak digolongkan orang yang menzalimi diri sendiri, cepat-cepat mohon magfirah-Nya,” tuturnya.

Selain berbuat baik dan memperbanyak istigfar, ia menyebut sejumlah amal lain yang dapat menjadi jalan meraih rahmat Allah.

Di antaranya bertakwa kepada Allah, berjihad di jalan Allah, menaati Allah dan Rasul-Nya, serta mendengarkan dan memperhatikan Al-Qur’an dengan baik.

Doa Memohon Rahmat Allah

Menjelang akhir ceramah, Ustaz Furkan mengajak jemaah mengamalkan doa yang diajarkan Rasulullah untuk memohon rahmat Allah.

Ia mengutip hadis riwayat Abu Dawud nomor 5090:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, rahmat-Mu yang aku harapkan. Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau.”

Menurut Ustaz Furkan, doa tersebut mengandung pesan penting agar manusia tidak merasa mampu menjalani seluruh urusannya hanya dengan kekuatan sendiri.

“Kita mohon kepada Allah, urusan kita ini tidak ditinggalkan oleh Allah walaupun dalam sekejap mata,” ujarnya.

Dia menyebut doa tersebut juga menjadi pengingat untuk melembutkan hati dan membangun kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan pertolongan Allah.

Pada akhirnya, meraih rahmat Allah bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan dalam kehidupan, menjauhi kemaksiatan, serta segera kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.

“Insyaallah kita sama-sama belajar,” pesan Ustaz Furkan kepada jamaah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/08/2026 16:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu