Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masjid Muhammadiyah Tidak Cukup Dimiliki, tapi Harus Dihidupkan

Iklan Landscape Smamda
Masjid Muhammadiyah Tidak Cukup Dimiliki, tapi Harus Dihidupkan
foto: Dok/Pri
Oleh : Dr. Hasan Ubaidillah Ketua LPCRPM PWM Jawa Timur

Beberapa waktu lalu, saya hadir dalam sebuah agenda konsolidasi Pimpinan Cabang, Ranting, dan Takmir Masjid. Agenda resminya evaluasi dan penguatan program.

Namun, di sela-sela sesi, sebuah pertanyaan tiba-tiba membuat ruangan hening. Seorang bapak takmir, mungkin berusia lima puluhan, dari sebuah Ranting di pinggiran kota mengangkat tangan. Suaranya tenang. Tetapi ada getaran di ujung kalimatnya.

“Masjid kami itu masjid Muhammadiyah,” katanya. “Tapi kajiannya sudah bukan kajian Muhammadiyah. Ustad-ustadnya bukan dari kita. Jamaahnya pun sudah bergeser. Bagaimana, Pak? Ini salah kami?”

Tidak ada yang langsung menjawab. Pertanyaan itu menggantung.

Belakangan saya sadar, pertanyaan tersebut bukan hanya milik satu masjid. Dalam berbagai forum yang saya hadiri, dari Cabang di kota besar hingga Ranting di pinggiran, kegelisahan serupa beberapa kali muncul dengan wajah dan intonasi berbeda.

Muara pertanyaannya sama: Mengapa masjid kita terasa bukan milik kita lagi? Di sinilah barangkali kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat kembali apa yang selama ini kita lakukan.

Siapa yang Merawat, Dia yang Menghidupkan

Ada hukum sederhana dalam kehidupan sosial: siapa yang paling konsisten hadir, melayani, dan membangun hubungan, dialah yang paling besar pengaruhnya.

Tidak perlu ada konspirasi. Tidak perlu ada operasi terselubung. Cukup ada ruang yang kosong, lalu ada orang lain yang datang mengisinya.

Bayangkan sebuah kebun yang lama ditinggalkan. Tidak ada yang menyiram. Tidak ada yang menyiangi. Tidak ada yang merawat.

Beberapa waktu kemudian, tanaman liar tumbuh memenuhi halaman. Bukan karena tanaman liar itu jahat. Ia hanya tumbuh karena ada ruang yang tersedia.

Masjid pun demikian. Ruang sosial yang tidak dirawat akan diisi oleh siapa pun yang hadir. Jamaah akan mengikuti orang yang menyapa. Anak-anak akan mendekati orang yang memberi perhatian. Orang tua akan datang kepada ustaz yang mau mendengar persoalan mereka.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan: “Siapa yang masuk ke masjid kita?”

Melainkan: “Di mana kita selama ini?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Sebab ia tidak menunjuk orang lain. Ia menunjuk diri sendiri.

Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membangun kehidupan umat. Masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha menjadi jejak panjang perjalanan Persyarikatan.

Tetapi ada satu hal yang perlu terus kita ingat: Memiliki aset tidak otomatis berarti memiliki kehadiran.

Nama Muhammadiyah yang tertulis di papan nama masjid adalah identitas penting. Tetapi identitas tidak hidup hanya karena tulisan.

Ia hidup melalui praktik. Melalui imam yang hadir. Takmir yang mudah ditemui. Kajian yang menjawab persoalan jamaah. Program sosial yang menyentuh kehidupan warga. Anak-anak muda yang merasa masjid adalah rumah mereka. Kader yang mengenal jamaah bukan sekadar sebagai angka dalam daftar hadir.

Di sinilah semangat tajdid Muhammadiyah menemukan relevansinya. Tajdid bukan hanya berbicara tentang pembaruan pemahaman keagamaan. Ia juga menuntut keberanian untuk bertanya: apakah cara kita berdakwah masih relevan dengan perubahan masyarakat?

Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertahankan label, tetapi lupa menghidupkan nilai yang terkandung di balik label itu.

Al-Ma’un dan Pertanyaan tentang Kehadiran

Kegelisahan KH Ahmad Dahlan terhadap pemahaman umat atas Al-Ma’un merupakan salah satu fondasi penting gerakan Muhammadiyah.

Surah Al-Ma’un tidak berhenti pada persoalan ibadah individual. Ia menghubungkan keberagamaan dengan kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan pertolongan.

Artinya, Islam harus hadir. Bukan hanya dalam ucapan. Bukan hanya dalam pengajian. Bukan hanya dalam simbol. Tetapi dalam tindakan yang bisa dirasakan manusia.

Karena itu, ketika sebuah masjid Muhammadiyah mengalami pergeseran, pertanyaan mendasarnya bukan semata-mata: “Mengapa orang lain masuk?”

Tetapi: “Seberapa besar kehadiran Muhammadiyah dirasakan jamaah?”

Apakah ketika jamaah memiliki persoalan keluarga, mereka tahu harus mengadu kepada siapa? Apakah ketika anak-anak muda membutuhkan ruang bertumbuh, masjid menyediakan ruang itu?

Apakah ketika warga sekitar mengalami kesulitan ekonomi, masjid hadir? Apakah kajian yang diselenggarakan mampu menjawab persoalan kehidupan nyata? Apakah takmir mengenal jamaahnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terasa sederhana. Tetapi justru dari situlah dakwah diuji.

Jika jamaah tidak merasakan kehadiran, pelayanan, dan perhatian, sangat mungkin mereka mencari rujukan lain yang lebih dekat dengan kebutuhan mereka.

Itu bukan selalu bentuk pengkhianatan. Bisa jadi itu adalah respons manusiawi terhadap kebutuhan akan perhatian dan pembinaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Muhammadiyah sebenarnya memiliki modal yang sangat besar: kaderisasi. Ada IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan berbagai organisasi otonom lainnya.

Di sana ada ribuan anak muda dengan energi, gagasan, dan kemampuan yang bisa menjadi kekuatan dakwah masjid. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak ada kader.

Pertanyaannya: seberapa jauh kader hadir di tengah jamaah?

Dakwah tidak tumbuh hanya dari surat keputusan. Tidak pula dari struktur organisasi. Dakwah tumbuh dari perjumpaan. Dari orang yang menyapa. Dari anak muda yang bersedia mengajar anak-anak mengaji. Dari mahasiswa yang membuka kelas literasi.

Dari kader yang membantu mengelola media sosial masjid. Dari pemuda yang membuat kegiatan olahraga. Dari ibu-ibu yang mengorganisasi kegiatan sosial. Dari takmir yang mau mendengar keluhan jamaah.

Masjid tidak akan hidup hanya karena struktur kepengurusan lengkap. Ia hidup karena ada manusia yang bersedia hadir.

Islam Berkemajuan Tidak Boleh Berhenti di Podium

Ketika melihat masjid Muhammadiyah mengalami pergeseran, ada godaan untuk merespons secara defensif. Kita merasa kehilangan. Lalu buru-buru ingin mengembalikan keadaan seperti semula.

Bahkan, dalam situasi tertentu, perbedaan pemahaman keagamaan bisa berubah menjadi ketegangan. Padahal, konflik terbuka di dalam masjid justru bisa membuat jamaah menjauh.

Masjid akhirnya kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang persaudaraan dan pelayanan umat. Karena itu, mungkin kita perlu kembali kepada gagasan Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan yang indah dalam seminar. Ia harus terasa di lantai masjid. Dalam tata kelola yang terbuka. Dalam pengelolaan keuangan yang transparan. Dalam kajian yang berbasis ilmu. Dalam dakwah yang santun. Dalam ruang yang ramah bagi anak-anak dan anak muda.

Dalam pelayanan sosial yang nyata. Dalam kemampuan berdialog dengan masyarakat yang terus berubah.

Islam Berkemajuan semestinya membuat jamaah merasakan satu hal sederhana: “Saya nyaman berada di masjid ini.”

Dan lebih jauh: “Saya bertumbuh karena masjid ini.”

Dalam tradisi Islam, masjid tidak pernah hanya menjadi tempat salat. Ia adalah tempat pendidikan. Tempat perjumpaan. Tempat musyawarah. Tempat pelayanan. Tempat membangun solidaritas. Tempat umat belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Karena itu, masjid Muhammadiyah semestinya tidak sekadar menjadi bangunan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia harus menjadi ruang yang terus bernapas.

Saya pernah melihat masjid yang menyediakan pojok buku sederhana di selasar. Ada kelas keterampilan pada akhir pekan. Ada papan informasi keuangan yang dipasang terbuka. Ada ruang untuk anak-anak muda berkegiatan. Tidak mewah. Tidak spektakuler. Tetapi jamaah merasa diperhatikan.

Kadang-kadang, dakwah memang tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Ia hanya membutuhkan kehadiran yang konsisten.

Pergeseran Itu Sebuah Cermin

Pergeseran yang terjadi di sebagian masjid Muhammadiyah sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai persoalan eksternal. Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan seberapa serius kita merawat apa yang telah diwariskan.

Sebab identitas sebuah masjid, seperti halnya identitas sebuah gerakan, tidak hanya ditentukan oleh siapa yang membangunnya dahulu. Ia ditentukan oleh nilai apa yang terus dihidupkan hari ini.

Karena itu, yang perlu diperkuat bukan hanya status kelembagaan masjid. Yang perlu diperkuat adalah tata kelola, kaderisasi, pembinaan jamaah, kualitas dakwah, pelayanan sosial, dan kemampuan membaca perubahan masyarakat.

Jangan sampai energi kita habis untuk mempertahankan siapa yang paling berhak atas masjid, sementara jamaah justru perlahan kehilangan alasan untuk datang.

Sebab masjid bukan sekadar bangunan. Masjid adalah hubungan. Masjid adalah pelayanan. Masjid adalah pembinaan. Masjid adalah kehidupan.

Dan pada akhirnya, masjid akan terasa menjadi milik mereka yang bersedia hadir dan merawatnya.

KH Ahmad Dahlan pernah mengingatkan: “Hidup-hidupkan Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Kalimat itu terasa relevan ketika kita berdiri di depan sebuah masjid yang papan namanya masih bertuliskan Muhammadiyah, tetapi aktivitasnya mulai kehilangan ruh gerakan.

Barangkali yang sedang kita tunggu bukan orang yang datang untuk mengklaim kembali masjid itu. Barangkali yang kita tunggu adalah orang-orang Muhammadiyah yang bersedia pulang. Pulang untuk menyapa jamaah. Pulang untuk mendengar. Pulang untuk melayani. Pulang untuk menghidupkan kembali masjid.

Sebab Muhammadiyah tidak akan tetap hidup hanya karena namanya dipertahankan. Ia akan tetap hidup jika nilai-nilainya terus dikerjakan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/10/2026 03:38
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu