Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melesat 162 peringkat dalam QS World University Rankings: Asia 2027. Di balik kenaikan posisi tersebut, skor jejaring riset internasional UMY melonjak dari 29,0 menjadi 50,1. Capaian ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi akademik yang tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman.
UMY kini menempati peringkat ke-364 Asia, naik dari posisi ke-526 pada pemeringkatan 2026. Salah satu faktor yang turut mendukung lonjakan tersebut adalah peningkatan skor International Research Network (IRN), indikator yang mengukur kekuatan dan keberagaman jejaring kolaborasi riset internasional perguruan tinggi.
Dalam metodologi QS World University Rankings: Asia 2027, IRN memiliki bobot 10 persen dari keseluruhan penilaian. Peningkatan skor ini mencerminkan semakin kuatnya jaringan riset UMY bersama mitra luar negeri.
Wakil Rektor UMY Bidang Reputasi, Kerja Sama, dan Digital, Prof. Ir. Slamet Riyadi, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa kerja sama internasional harus menghasilkan kegiatan akademik yang nyata.
Menurutnya, nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Kesepakatan tersebut harus ditindaklanjuti melalui Memorandum of Agreement (MoA) dan aktivitas bersama yang terukur.
“Keduanya itu dokumen administratif yang menunjukkan bahwa kami memang berkegiatan. Saya pastikan semua MoU yang kami tandatangani bukan dokumen kosong dan bukan hanya sekadar tanda tangan. Kami sudah merencanakan agar semuanya memiliki bentuk kegiatan, ada MoA-nya, dan aktivitasnya berjalan,” ungkap Slamet, Kamis (5/11/2026).
Skor IRN UMY Naik dari 1,1 Menjadi 50,1
Penguatan jejaring riset internasional UMY berlangsung secara bertahap. Berdasarkan data pemeringkatan yang dihimpun UMY, skor IRN pada periode 2021–2024 berada di kisaran 1,1 hingga 2,0.
Pada QS Asia 2025, skor tersebut meningkat menjadi 5,9. Setahun kemudian, IRN UMY melonjak menjadi 29,0. Pada pemeringkatan QS Asia 2027, skor kembali naik hingga mencapai 50,1.
Perkembangan ini memperlihatkan peningkatan signifikan dalam jejaring kolaborasi riset internasional UMY. Namun, penguatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah mitra luar negeri.
UMY juga mendorong keberlanjutan kegiatan penelitian, publikasi bersama, serta keterlibatan akademisi dari berbagai negara dalam aktivitas akademik.
Dengan bobot IRN sebesar 10 persen, skor 50,1 menyumbang sekitar 5,01 poin terhadap penghitungan skor UMY. Jika dibandingkan dengan skor keseluruhan universitas sebesar 39,0, kontribusi tersebut setara dengan sekitar 12,9 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa jejaring riset internasional menjadi salah satu komponen penting dalam capaian UMY pada pemeringkatan tahun ini.
Penelitian dan Publikasi Bersama
Slamet menjelaskan, reputasi perguruan tinggi di lingkungan akademisi global tidak terbentuk secara instan. Reputasi tersebut tumbuh melalui interaksi dan kegiatan akademik yang dilakukan secara konsisten bersama mitra internasional.
“Semua kegiatan di berbagai bidang, termasuk riset, yang melibatkan mitra luar negeri terus kami dorong. Program IRN juga kami perkuat dan kawal agar keterlibatan dengan mitra semakin tinggi sehingga reputasinya tentu akan semakin baik,” ujarnya.
Menurut Slamet, implementasi kerja sama internasional UMY diarahkan pada sejumlah kegiatan konkret.
Di antaranya penelitian kolaboratif, publikasi bersama, mobilitas akademik, serta keterlibatan dosen dan peneliti luar negeri dalam kegiatan akademik.
“Melalui kegiatan itu, kerja sama diharapkan tidak hanya memperluas daftar institusi mitra, tetapi juga menghasilkan keluaran akademik yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” paparnya.
Kata Slamet, UMY juga akan memperluas jejaring kolaborasi ke lebih banyak negara sekaligus menjaga keberlanjutan kemitraan yang telah terbangun.
Strategi ini diarahkan untuk memperluas distribusi mitra riset agar kolaborasi internasional tidak terkonsentrasi pada negara atau institusi tertentu.
“Selain itu, keberadaan akademisi internasional di UMY akan semakin diarahkan pada penelitian dan publikasi bersama. Dengan demikian, internasionalisasi tidak hanya ditandai oleh mobilitas akademik, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” jabarnya.
Peringkat Asia Jadi Modal Memperluas Jejaring
Peningkatan posisi UMY dalam QS Asia 2027 juga diharapkan memperkuat visibilitas universitas di lingkungan akademik global.
Menurut Slamet, posisi yang semakin baik dapat membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi, akademisi, dan calon mitra dari berbagai negara.
Reputasi internasional tersebut juga diharapkan memperluas kesempatan dosen UMY untuk terlibat dalam forum akademik global serta membangun jejaring penelitian bersama.
Namun, capaian pemeringkatan bukan menjadi tujuan akhir.
Bagi UMY, peningkatan skor IRN dan posisi di QS Asia 2027 menjadi modal untuk memperluas kolaborasi akademik sekaligus memperkuat kualitas penelitian.
Tantangan berikutnya adalah memastikan jejaring yang semakin luas menghasilkan kegiatan yang berkelanjutan, publikasi bersama, dan riset yang memberikan dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, keberhasilan internasionalisasi UMY tidak hanya diukur dari banyaknya mitra atau tingginya posisi pemeringkatan, tetapi juga dari seberapa nyata kolaborasi tersebut menghasilkan karya akademik bersama. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments