Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Muhammadiyah Tak Ingin Lansia Tercerabut dari Keluarga, Senior Care Jadi Ikhtiar Pendampingan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Muhammadiyah Tak Ingin Lansia Tercerabut dari Keluarga, Senior Care Jadi Ikhtiar Pendampingan
Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Tarjih edisi spesial rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah di Umsura. Foto: PP Muhammadiyah
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Muhammadiyah mendorong pendampingan lanjut usia (lansia) yang tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga menjaga kesehatan mental, kehidupan sosial, dan spiritual. Lansia perlu tetap sehat, mandiri, serta bermartabat tanpa kehilangan hubungan dengan keluarga dan lingkungan.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman menegaskan, pendampingan lansia harus dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, proses menua bukan sekadar persoalan penurunan fungsi tubuh, melainkan juga membutuhkan kesiapan mental, sosial, dan spiritual.

Hal itu disampaikan Agus dalam Pengajian Tarjih edisi spesial rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Rabu (4/11/2026).

“Semangat kita jangan sampai orang tua itu tercerabut dari akar keluarga. Kecuali memang dia tidak punya siapa pun, maka Muhammadiyah tetap punya tanggung jawab,” jelasnya.

Agus menyinggung pengembangan program Muhammadiyah Senior Care yang digerakkan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah. Program ini menjadi ikhtiar Muhammadiyah membangun pelayanan bagi lansia dengan tetap mempertahankan keterhubungan mereka dengan keluarga.

Menurutnya, pendampingan tidak semestinya membuat lansia terpisah dari kehidupan sosialnya. Keluarga tetap menjadi lingkungan penting bagi orang tua, sementara masyarakat dan organisasi keagamaan dapat memperkuat dukungan ketika mereka membutuhkan bantuan.

Agus menjelaskan, proses menua merupakan perjalanan biologis yang menyebabkan perubahan pada kekuatan fisik, daya tahan tubuh, dan fungsi organ. Kondisi tersebut membuat lansia lebih rentan mengalami berbagai penyakit.

Sejumlah penyakit yang banyak dialami kelompok lansia antara lain hipertensi, diabetes, gangguan otot dan sendi, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan dan pendengaran, penyakit paru, demensia, serta gagal ginjal.

“Karena itu, perlu mengendalikan faktor risiko sejak dini. Pemantauan tekanan darah dan gula darah, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, kebiasaan merokok, serta pengelolaan emosi perlu menjadi perhatian,” ujarnya.

Agus secara khusus menyoroti hipertensi yang tidak terkendali karena dapat meningkatkan risiko stroke dan komplikasi pada organ lain. Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola kemarahan dan emosi negatif yang dapat berdampak terhadap kesehatan.

Memasuki usia 60 tahun, seseorang perlu semakin memperhatikan kondisi tubuh dan kebiasaan hidup. Namun, perhatian terhadap kesehatan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan fisik.

“Lansia juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka tetap berinteraksi, belajar, dan menjalankan aktivitas bermakna,” tegas Agus.

Pengajian dan Jamaah Menjaga Kehidupan Sosial

Agus menilai kegiatan berkumpul, mengikuti pengajian, aktivitas jamaah, dan organisasi dapat membantu menjaga fungsi kognitif sekaligus mengurangi risiko kesepian.

“Lansia yang jarang berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar berisiko mengalami kesepian serta gangguan psikologis. Karena itu, keluarga dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang memberi ruang bagi mereka untuk tetap terlibat,” ujarnya.

Kesejahteraan lansia, menurutnya, tidak cukup diukur dari kondisi fisik yang terlihat sehat. Kehidupan mental dan sosial juga menentukan kualitas hidup mereka.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pendampingan yang baik berarti memastikan lansia tetap memiliki hubungan, aktivitas, dan kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama.

“Dalam menjaga kesehatan lansia, pemenuhan kebutuhan makanan dengan prinsip halalan thayyiban. Halal berkaitan dengan ketentuan syariat, sedangkan thayyib menyangkut kebaikan dan dampak makanan terhadap kondisi tubuh,” terang Agus.

Dia mencontohkan, makanan yang secara hukum halal belum tentu sesuai dikonsumsi setiap orang. Penderita diabetes perlu mengendalikan konsumsi gula, sementara penderita gangguan ginjal harus memperhatikan jenis dan jumlah makanan sesuai kondisi medisnya.

“Halal itu secara ilmu agama jelas. Thayyib nanti harus ilmu pengetahuan yang menjelaskan,” terangnya.

Prinsip tersebut menunjukkan pentingnya mempertemukan pemahaman agama dengan pengetahuan kesehatan dalam mendampingi lansia.

Aisyiyah Kembangkan Pesantren dan Sekolah Lansia

Agus juga mengapresiasi inisiatif sejumlah organisasi Aisyiyah yang mengembangkan pesantren dan sekolah lansia.

Program tersebut memberikan ruang bagi lansia untuk tetap belajar, berinteraksi, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kehidupan spiritual.

“Salah satu materi yang mendapat perhatian ialah psikologi kematian, yakni persiapan menghadapi akhir kehidupan dengan keimanan dan harapan memperoleh husnul khatimah” ungkapnya.

Bagi Agus, pendampingan spiritual menjadi bagian penting dari upaya memuliakan lansia. Memasuki usia lanjut bukan alasan untuk berhenti belajar dan menjalani kehidupan sosial.

Dia menegaskan, merawat orang tua yang telah renta merupakan bagian dari ajaran Islam.

“Kesempatan mendampingi mereka semestinya dipandang sebagai jalan untuk berbuat baik dan memperoleh pahala,” tuturnya.

Melalui Muhammadiyah Senior Care, penguatan peran keluarga, serta berbagai kegiatan sosial dan spiritual, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pendampingan yang menjaga lansia tetap terhubung dengan kehidupan.

Sebab, usia boleh bertambah dan tubuh boleh melemah, tetapi lansia tetap memiliki hak untuk hidup sehat, mandiri, dihargai, dan bermartabat.(*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/11/2026 04:36
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu