Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menunjukkan dominasi dalam Ahmad Dahlan International Youth Camp (ADIYC) 2026 4th Series. Tergabung dalam 15 kelompok, kontingen UMS meraih 24 penghargaan dari lima kategori kompetisi, mulai dari diskusi ilmiah, poster digital, konten kreatif, hingga pertunjukan budaya dan yel-yel.
Prestasi tersebut diraih dalam kegiatan yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Pujon Hill Campground.
Mahasiswa UMS tidak hanya membawa pulang gelar juara, tetapi juga penghargaan atas kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi dalam kelompok lintas kampus.
Capaian paling menonjol terlihat dari keberhasilan mahasiswa UMS meraih penghargaan di berbagai kategori sekaligus.
Mereka tampil dalam kompetisi berbasis gagasan, produksi konten digital, hingga pertunjukan budaya yang menuntut kekompakan dan kreativitas.
Koordinator UMS, Sela Fika Salsabilah dari Program Studi Ilmu Gizi UMS, mengatakan mahasiswa kampusnya tidak sekadar menjadi peserta. Mereka aktif mengambil peran sebagai presenter, penggerak kelompok, dan inisiator diskusi selama kegiatan berlangsung.
“Delegasi UMS itu sangat menjadi penggerak di grupnya masing-masing. Mahasiswa UMS juga sering menjadi inisiator pada saat forum group discussion. Banyak menyumbangkan ide-ide di grupnya masing-masing,” kata Sela, Rabu (4/11/2026).
Pada kategori Focus Group Discussion (FGD), mahasiswa UMS meraih lima penghargaan. Grup 1 dan Grup 8 memperoleh First Winner Best FGD dalam kategori Parallel Sub-Theme FGD. Grup 13 meraih First Winner Sub-Theme FGD.
Sementara itu, Grup 3 dan Grup 5 mendapatkan Second Winner Best FGD dalam kategori Parallel Sub-Theme FGD.
Keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa UMS menyampaikan gagasan sekaligus membangun argumentasi dalam forum diskusi.
Mereka membawa perspektif keilmuan dari program studi masing-masing untuk merespons persoalan yang dibahas bersama delegasi kampus lain.
Sela menjelaskan, diskusi dalam ADIYC tidak hanya menuntut peserta mempertahankan pendapat. Mahasiswa juga harus mampu menimbang argumentasi peserta lain dan menerima gagasan yang lebih relevan.
“Kita konsisten dengan gagasan yang dibawa, tetapi juga terbuka dengan apa yang delegasi dari kampus lain bicarakan. Jika pendapat kita memang kurang relevan, kita juga harus bisa menerima. Jadi, di situ kita bermain logika, bukan mencari pembenaran yang tidak logis,” jelasnya.
Menurut Sela, pengalaman tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan membangun komunikasi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Poster Digital dan Konten Kreatif Ikut Mendominasi
Prestasi kontingen UMS juga terlihat dalam Digital Poster Competition. Grup 4 meraih First Winner, Grup 14 memperoleh Second Winner, dan Grup 15 menempati Third Winner.
Penghargaan lainnya diraih Grup 10 melalui Honorable Mention I, Grup 13 Honorable Mention II, Grup 8 Honorable Mention III, serta Grup 11 sebagai Favorite Digital Poster Competition.
Pada kategori Creative Content Competition yang melombakan Reels dan Shorts, Grup 2 meraih Best Creative Content I. Grup 8 memperoleh Best Creative Content II, sedangkan Grup 15 meraih Best Creative Content III.
Grup 11 juga mendapatkan penghargaan Favorite Creative Content.
Capaian tersebut memperlihatkan kemampuan mahasiswa UMS mengolah gagasan menjadi karya digital. Kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pesan melalui media visual dan video pendek yang kreatif.
Yel-yel dan Cultural Night Lengkapi Prestasi
Dalam kompetisi yel-yel, mahasiswa UMS meraih lima penghargaan dengan kategori yang menonjolkan karakter dan kekompakan kelompok.
Grup 2 mendapatkan Most Collaborative Team, Grup 6 meraih Most Unique Team, Grup 7 memperoleh Most Entertaining Team, Grup 9 menjadi Most Creative Team, dan Grup 12 meraih Most Dedicated Team.
Sementara itu, pada Cultural Night, Grup 14 meraih First Winner Best Performance. Grup 5 memperoleh Second Best Performance, sedangkan Grup 11 menempati Juara III Best Performance.
Penghargaan dalam dua kategori tersebut melengkapi capaian mahasiswa UMS di ADIYC 2026. Kompetisi tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga kreativitas, kerja sama, dan keberanian menampilkan gagasan melalui pertunjukan.
Gagasan SDGs Berpotensi Dikembangkan di Kampus
Di balik deretan penghargaan, ADIYC 2026 juga memunculkan gagasan yang berpotensi dikembangkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Sela menyebut salah satu ide yang muncul dalam diskusi adalah platform digital sebagai ruang dialog masyarakat dunia lintas budaya. Peserta juga membahas persoalan sampah, kebakaran lahan, serta gagasan yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, forum tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat persoalan dari berbagai perspektif dan merumuskan gagasan bersama.
Namun, ide-ide yang muncul masih memerlukan pendalaman agar dapat dikembangkan menjadi kajian atau penelitian yang lebih matang.
“Harapannya, setelah pulang ke kampus, ide-ide tersebut bisa dikembangkan dan diteliti lebih lanjut agar lebih matang. Menurut saya, gagasan yang muncul masih tergolong spontan dan masih bisa dikembangkan lebih lanjut,” tutupnya.
Keikutsertaan dalam ADIYC 2026 pun tidak berhenti pada perolehan penghargaan. Pengalaman berdiskusi, berkolaborasi, dan menyusun gagasan lintas kampus menjadi bekal mahasiswa UMS untuk mengembangkan kontribusi akademik dan sosial setelah kegiatan berakhir. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments