Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Manusia Tidak Menjalankan Fungsi sebagai Khalifah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Manusia Tidak Menjalankan Fungsi sebagai Khalifah
ketidakpahaman manusia akan tujuan diciptakan adalah laksana seorang musafir yang kehilangan arah. Foto: Ahmad Rusdi.
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ahmad Rusdi

Ketika Tuhan hendak menciptakan makhluk yang bernama manusia, malaikat mempertanyakan keputusan tersebut.

Apakah benar Tuhan akan menciptakan makhluk yang nantinya membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

Tuhan pun memberikan jawaban jitu, “Sesungguhnya aku (kata Allah) lebih mengetahui apa yang engkau tidak ketahui”

Tentang Sangkaan Malaikat

Apa yang disangka malaikat terhadap perilaku manusia di kemudian hari, tidaklah salah namun juga tidaklah selalu benar.

Artinya satu waktu manusia bisa menjadi pengelola, penyubur dan memakmurkan dunia. Tetapi pada saat yang lain, manusia bisa jadi perusak, pemusnah sehingga menjadi sumber malapetaka bagi kehidupan.

Sejak dunia terkembang tidaklah terhitung lagi berapa manusia yang datang ke dunia. Kedatangan mereka memang ada yang merusak.

Tapi di balik itu Tuhan kirim pula orang-orang pilihan untuk memperbaiki kerusakan.

Barangkali di sinilah rahasia perkataan Tuhan, bahwa Ia lebih mengetahui hikmah di balik penciptaan manusia.

Kedatangan para utusan Tuhan itu untuk mengingatkan manusia yang salah jalan, lupa dengan titel yang tersemat dalam pundaknya.

Bukankah semua manusia berstatus Khalifah, mereka mempunyai tugas menjaga, mengelola sekaligus melestarikan alam dunia.

Kalau tugas Khalifah semulia itu, lantas muncul sebuah pertanyaan. Kenapa masih ada manusia-manusia yang masih terus mengeksploitasi, merusak, dan membonsai alam sesuka-sukanya?

Jawaban atas pertanyaan itu bisa beragam, namun penulis menemukan setidaknya ada tiga jawaban.

Pertama karena manusia tidak kenal dengan tuhan, kedua tidak paham tujuan Tuhan menciptakan, dan yang ketiga akal dikendalikan oleh nafsu.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Ketika manusia tidak kenal Tuhan, maka segala tindakan tidak akan dipikirkan. Apakah dampaknya merusak atau memperbaiki, kerena dalam alam pikirannya dunia kalau bisa ada dalam genggamannya.

Musafir yang Kehilangan Arah

Sementara itu, ketidakpahaman manusia akan tujuan diciptakan adalah laksana seorang musafir yang kehilangan arah.

Kemanapun kaki melangkah tidak akan sampai pada tujuannya, sehingga perbuatan buruk dianggap baik, dan yang baik dianggap buruk.

Selain itu, ketika akal atau mahkota kemanusiaan yang diberikan oleh Tuhan tersebut telah dikendalikan nafsu, maka disinilah kemanusiaan tercerabut dari akarnya.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan bilamana ada manusia tega membunuh manusia, manusia membakar rumah margasatwa, manusia asal tebang dengan dalih pembangunan, dan seterusnya.

Manusia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengelola alam dunia untuk keperluan hidupnya.

Tapi bukan berarti membenarkan segala bentuk eksploitasi, seolah Tuhan mengatakan silakan manfaatkan alam, tapi jangan lupa jaga keseimbangan.

Nah keseimbangan itulah yang hari ini perlu kita ketengahkan. Manusia memerlukan alam, alampun selalu terhubung dengan manusia, mari bersahabat dengan alam agar manusia tidak mengalami krisis kehidupan.

Dunia, alam atau semesta mengajarkan kepada kita, bahwa terciptanya itu semua adalah bekas kekuasaan dan bukti adanya Tuhan.

Oleh karena itu, manusia sebagai penyandang gelar Khalifah seharusnya mampu menjalankan fungsinya.

Jika tugas sebagai penjaga, pengelola dan pelestari alam dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka manusia menemukan makna kemanusiaannya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 06/11/2026 01:41
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu