Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Maslahat dan Mudarat Nyamuk Bagi Manusia

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Maslahat dan Mudarat Nyamuk Bagi Manusia
Maslahat dan Mudarat Nyamuk Bagi Manusia (Muhsin MK/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Muhsin MK Penggiat Sosial

Nyamuk merupakan serangga yang kerap berinteraksi dengan manusia setiap hari, terutama di daerah tropis. Kehadirannya dapat dijumpai pada siang maupun malam hari. Namun, pada malam hari, nyamuk sering kali lebih banyak mendatangi manusia. Salah satu alasannya adalah kebutuhan hidup sebagian jenis nyamuk yang berkaitan dengan darah manusia.

Darah manusia dibutuhkan oleh nyamuk tertentu. Karena itulah, nyamuk mendatangi manusia dan menggigitnya menggunakan bagian mulut yang menyerupai jarum. Melalui alat tersebut, nyamuk mengisap darah. Bekas gigitannya dapat menimbulkan rasa gatal, bahkan sakit.

Nyamuk Ciptaan Allah

Allah Azza wa Jalla menciptakan berbagai jenis hewan di muka bumi (QS. An-Nur: 45). Di antaranya adalah serangga yang bergerak dengan cara terbang dari satu tempat ke tempat lain.

Pada umumnya, serangga yang terbang memiliki tubuh ringan dan sayap. Serangga tersebut bergerak ke berbagai tempat dengan cara berterbangan. Fenomena ini mengingatkan pada firman Allah dalam QS. Al-Qari’ah ayat 4.

Berbagai jenis serangga disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi nama surah dalam Al-Qur’an, seperti semut dalam Surah An-Naml, lebah dalam Surah An-Nahl, dan laba-laba dalam Surah Al-Ankabut.

Serangga lainnya disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain nyamuk (ba’udah), belalang (jarad), lalat (dzubab), laron (adlah), rayap (ardhah), dan beberapa jenis lainnya.

Sebagai salah satu ciptaan Allah Azza wa Jalla, nyamuk memiliki sejumlah kekhasan dibandingkan dengan serangga lainnya. Salah satunya adalah kemampuannya bertengger di permukaan air. Tubuh nyamuk yang ringan membuatnya dapat berada di atas air tanpa tenggelam. Air juga memiliki peran penting dalam kehidupan nyamuk, terutama sebagai tempat berkembang biak.

Hubungan nyamuk dengan air mengingatkan pada firman Allah Azza wa Jalla:

“…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30).

Nyamuk juga termasuk serangga yang dapat hinggap di berbagai tempat. Selain di permukaan air, nyamuk dapat ditemukan di pohon, daun, bunga, tanah, lantai, tembok, hordeng, kelambu, kayu, besi, bahkan tubuh manusia.

Bagi nyamuk, tubuh manusia menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dihinggapi. Namun, ketika nyamuk menggigit manusia, bekas gigitannya dapat menimbulkan rasa sakit dan gatal serta berpotensi menjadi sarana penularan penyakit.

Nyamuk yang menggigit dan mengisap darah manusia umumnya adalah nyamuk betina. Meski demikian, nyamuk jantan maupun betina juga dapat memanfaatkan nektar atau sari bunga sebagai sumber makanan.

Hal ini menunjukkan bahwa nyamuk memiliki hubungan dengan tumbuhan berbunga. Nektar menjadi salah satu sumber makanan bagi nyamuk, sebagaimana juga dimanfaatkan oleh lebah. Kaitan tersebut relevan dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu (buah dan bunganya) dimakan oleh manusia, burung, atau binatang (termasuk serangga), melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekhasan nyamuk lainnya adalah kemampuannya terbang dengan cepat, sebagaimana lalat. Namun, keduanya memiliki bentuk sayap yang berbeda. Sayap nyamuk relatif kecil, ramping, dan bersisik, sedangkan sayap lalat cenderung lebih lebar dan tidak bersisik.

Menurut sejumlah penelitian, nyamuk mengepakkan sayapnya dengan sangat cepat, yakni sekitar 250–1.000 kali per detik. Sementara itu, lalat mengepakkan sayap sekitar 200–400 kali per detik.

Sayap nyamuk memiliki peran penting dalam aktivitas terbangnya. Selain menjadi bagian dari kemampuan bergerak, sayap nyamuk juga disebut dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai perumpamaan tentang nilai dunia.

“Pada hari kiamat datanglah seorang lelaki gemuk yang bobotnya bahkan tidak mampu menandingi berat sayap nyamuk…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kepakan sayap nyamuk yang bergerak cepat juga menghasilkan suara dengung. Hal serupa terjadi pada lalat, meskipun karakter suara yang dihasilkan berbeda. Suara nyamuk biasanya terdengar ketika serangga tersebut terbang di dekat telinga manusia. Dengungan itu muncul akibat kepakan sayapnya yang sangat cepat.

Selain mendukung aktivitas terbang, sayap nyamuk juga menjadi bagian dari perumpamaan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang rendahnya nilai dunia di sisi Allah.

“Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi dari Sahl bin Sa’ad).

Kekhasan nyamuk yang tidak kalah penting adalah kemampuannya mengisap darah manusia. Aktivitas ini dilakukan oleh nyamuk betina, terutama untuk memperoleh protein yang dibutuhkan dalam proses pematangan telur.

Dalam penelitian tentang nyamuk disebutkan bahwa darah menjadi sumber protein bagi nyamuk betina untuk membantu perkembangan telur yang dikandungnya.

Kebutuhan tersebut dapat dianalogikan dengan seorang perempuan hamil yang mengidam makanan tertentu. Namun, nyamuk betina mencari sendiri sumber makanan yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan telurnya.

Bagi nyamuk dan serangga lain, mengisap atau memakan darah merupakan bagian dari perilaku alami. Sementara itu, manusia dilarang mengonsumsi darah sebagaimana disebutkan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, antara lain QS. Al-An’am: 145, Al-Baqarah: 173, Al-Maidah: 3, Al-A’raf: 133, dan An-Nahl: 115.

Nyamuk atau serangga lain yang mengganggu manusia dan berpotensi menimbulkan penyakit dapat dibunuh. Meski demikian, tindakan membunuh tetap harus dilakukan dengan cara yang baik.

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik…” (HR. Muslim No. 1955).

Penyakit yang Dibawa Nyamuk

Nyamuk berperan sebagai perantara atau vektor yang membawa patogen dan menularkannya kepada manusia melalui gigitan. Ada sejumlah penyakit yang dapat ditularkan melalui nyamuk, di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, chikungunya, filariasis atau kaki gajah, virus Zika, dan demam kuning.

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi. Pada kasus tertentu, DBD juga dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit atau keping darah.

Dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan:

“Sesungguhnya demam yang parah itu berasal dari luapan panas neraka Jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air.” (HR. Bukhari No. 3263 dan Muslim No. 2209).

Adapun upaya menjaga kesehatan tubuh dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, termasuk buah-buahan. Jambu merah dan kurma disebut dalam naskah ini sebagai contoh makanan yang dapat dikonsumsi. Kurma juga disebut dalam QS. Maryam ayat 25, sedangkan madu disebut dalam QS. An-Nahl ayat 69.

Penyakit lainnya adalah malaria, yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Penyakit ini dapat menimbulkan demam tinggi, menggigil, dan sensasi panas dingin yang berulang.

Dalam pengobatan tradisional, sejumlah tumbuhan digunakan sebagai ramuan. Di antaranya batang tali kuning (Arcangelisia flava), daun pepaya (Carica papaya), sambiloto (Andrographis paniculata), kulit kayu susu (Alstonia scholaris), rebusan daun kastroli (Ipomoea pes-caprae), daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus), daun baulas (Ficus septica), serta kulit kayu jambu bol (Syzygium malaccense) yang diremas dengan sedikit air.

Naskah ini mengaitkan pengobatan tradisional tersebut dengan penggunaan bahan-bahan yang memiliki rasa pahit. Tentang pahitnya obat, terdapat pandangan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Al-Fawaid ketika mengkaji QS. Al-Baqarah ayat 216. Ia memandang bahwa perintah Allah dapat diibaratkan seperti obat yang pahit, tetapi menyehatkan dan dapat menyembuhkan penyakit.

Chikungunya merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini dapat menyebabkan demam mendadak dan nyeri sendi yang hebat (arthralgia).

Dalam proses pemulihan, istirahat yang cukup menjadi salah satu hal penting. Mengurangi aktivitas fisik berat dapat membantu tubuh beristirahat. Hal ini sejalan dengan firman Allah Azza wa Jalla dalam QS. Ar-Rum ayat 23:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu (untuk istirahat) di waktu malam dan siang hari …”

Selain istirahat, kebutuhan cairan tubuh juga perlu diperhatikan. Air putih, air kelapa, atau jus dapat dikonsumsi untuk membantu menjaga hidrasi. Dalam naskah ini disebutkan pula hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Minuman yang paling disukai Rasulullah ialah yang dingin dan manis.” (HR. Ahmad 6/38 dan 40, At-Tirmidzi dalam Al-Jami’ No. 1896 dan dalam Asy-Syamail 1/302; disebutkan sahih oleh Al-Hakim 1/337).

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Kompres juga disebut sebagai salah satu upaya untuk membantu meredakan ketidaknyamanan. Naskah ini mengaitkannya dengan hadis berikut:

“Bahwa Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha apabila didatangkan kepadanya seorang wanita yang menderita sakit demam, maka ia akan mengambil air, lalu ia menyembur/mengompreskan pada bagian saku (dadanya). Kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami supaya mendinginkan dengan air.’” (HR. Bukhari).

Selain itu, konsumsi makanan bergizi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Makanan yang baik, halal, dan bergizi disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 168 dan 172 serta QS. Al-Maidah ayat 68.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak (akan) menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum mukmin dengan sesuatu yang Dia perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah berfirman: ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik…’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172)…” (HR. Muslim).

Penyakit kaki gajah atau filariasis juga dapat ditularkan melalui gigitan beberapa jenis nyamuk, termasuk Culex. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan dapat menyebabkan pembesaran kronis pada bagian tubuh tertentu, terutama tungkai.

Selain menjalani pengobatan, seseorang dapat berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu doa yang disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:

“Allahumma inni a’udzu bika minal barashi, wal jununi, wal judzami, wa min sayyi’il asqam.”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit (kusta), gila, lepra, dan dari keburukan segala penyakit.” (HR. Abu Dawud).

Virus Zika juga dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi Zika pada kehamilan berisiko menyebabkan kelainan bawaan, termasuk mikrosefali pada bayi.

Dalam naskah ini, penulis menyebut beberapa langkah perawatan, seperti memperbanyak istirahat dan menjaga kebutuhan cairan tubuh. Bayi maupun orang dewasa yang terjangkit perlu mendapatkan istirahat yang cukup selama proses pemulihan. Hal ini dikaitkan dengan QS. Al-Qashash: 73, QS. Al-Furqan: 47, dan QS. An-Naba: 9.

Minum air yang cukup diperlukan untuk menjaga hidrasi tubuh. Namun, konsumsi cairan hendaknya tidak dilakukan secara berlebihan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak ada wadah yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Jika ia harus melakukannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk pernapasannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2380 dan Ibnu Majah No. 3349).

Penulis juga mengaitkan pengobatan dengan pemanfaatan tumbuhan yang diciptakan Allah Azza wa Jalla di bumi. Hal ini disebutkan dalam firman-Nya:

“Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rerumputan (yang bermanfaat untuk obat).” (QS. ‘Abasa: 26–30).

Penyakit lainnya adalah demam kuning (yellow fever), yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk tertentu. Penyakit ini dapat memengaruhi fungsi hati serta menyebabkan kulit dan bagian putih mata menguning.

Dalam naskah ini, penulis mengaitkan perubahan warna kulit dengan kisah kaum Tsamud dalam Al-Qur’an. Penulis juga merujuk pada Tafsir Ath-Thabari yang menjelaskan perubahan warna wajah mereka sebelum azab datang.

Penulis kemudian menghubungkan kisah tersebut dengan keberadaan penyakit demam kuning pada masa lampau. Untuk penanganan penyakit, naskah ini mengutip hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit saja, yaitu penyakit tua (pikun).” (HR. Ahmad).

Maslahat Nyamuk bagi Manusia

Selain memiliki mudarat karena dapat menularkan berbagai penyakit, nyamuk juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari perumpamaan yang mengandung pelajaran bagi manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya. Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26).

Dari ayat tersebut, penulis menguraikan sejumlah pelajaran yang dapat dipetik dari perumpamaan nyamuk. Salah satunya adalah memperkuat keimanan. Perumpamaan nyamuk dalam Al-Qur’an menjadi salah satu hal yang dapat memperkuat keyakinan orang-orang beriman. Mereka meyakini bahwa perumpamaan tersebut benar-benar berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, disahihkan oleh Syaikh Syuaib Al-Arnauth).

Perumpamaan nyamuk dalam Al-Qur’an juga menjadi penjelasan mengenai perbedaan sikap orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Orang-orang beriman menerima perumpamaan tersebut sebagai kebenaran dari Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, orang-orang kafir mempertanyakan maksud Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan.

Perbedaan antara orang beriman dan orang kafir juga disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalam hal makan.

“Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.” (HR. Bukhari No. 5396).

Dari perumpamaan nyamuk, penulis juga mengaitkan pelajaran tentang perbedaan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mereka yang berada dalam kesesatan. Orang yang menerima perumpamaan tersebut sebagai kebenaran dari Allah Azza wa Jalla disebut sebagai orang yang mendapat petunjuk. Sebaliknya, mereka yang menolak kebenaran tersebut berada dalam kesesatan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 178).

Perumpamaan tentang nyamuk juga dikaitkan dengan orang-orang fasik. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“…Dan tidak ada yang disesatkan oleh Allah dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26).

Allah juga berfirman:

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. Ash-Shaff: 5).

Karakteristik orang fasik dijelaskan dalam ayat berikutnya:

“Orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 26–27).

Berdasarkan ayat tersebut, penulis menjelaskan bahwa karakteristik orang fasik meliputi mereka yang melanggar perjanjian dengan Allah Azza wa Jalla setelah perjanjian itu diteguhkan, memutus hubungan silaturahmi, melakukan kerusakan di muka bumi, serta termasuk orang-orang yang mengalami kerugian di dunia dan akhirat. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 05/11/2026 23:26
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu