Pandemi membuat banyak orang kehilangan ruang gerak. Sekolah berpindah ke rumah. Aktivitas menjadi terbatas. Waktu terasa berjalan lebih lambat.
Bagi Adam Zidane Danata Pranugroho, kebosanan itu justru membuka sebuah pintu. Saat masih duduk di bangku SMA pada 2021, mahasiswa Manajemen Kelas Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu mulai membantu bisnis ibunya. Dia mengelola media sosial usaha bernama Danita Batik yang menjual daster bermotif batik.
Dari situlah naluri bisnisnya tumbuh. Adam mulai berpikir untuk memiliki usaha sendiri. Namun, ia tidak ingin sekadar mengulang bisnis yang sudah dijalankan ibunya.
“Somehow, jualan daster kayak ribet ya,” ujarnya berkelakar ketika ditemui akhir September 2026.
Menurut Adam, berjualan daster membutuhkan banyak urusan: motif, ukuran, hingga ketersediaan barang. Ia kemudian mencari produk yang lebih sederhana, berukuran universal, dan bisa diterima berbagai kalangan.
Pencarian itu membawanya kepada sajadah. Melalui Facebook, Adam menemukan distributor sajadah di kawasan Solo Raya. Ia kemudian menjual sajadah sekaligus produk daster milik ibunya melalui Shopee.
Tak disangka, sajadah justru menjadi jalan pertamanya mengenal dunia bisnis secara serius.
Pesanan datang dalam jumlah besar. Penjualan berkembang. Dari bisnis tersebut, Adam berhasil mengumpulkan Rp 100 juta pertamanya. Namun, dunia usaha tidak selalu memberi jalan yang lapang.
Tiga tahun berjualan, distributor sajadah yang selama ini menjadi pemasoknya ikut masuk marketplace.
Masalahnya sederhana, tetapi dampaknya besar. Harga yang ditawarkan distributor lebih rendah daripada harga yang bisa Adam pasang. Ia pun kehilangan keunggulan bersaing. Bisnisnya perlahan berhenti.
Pada saat yang sama, Adam sedang berada dalam masa transisi dari SMA menuju perguruan tinggi. Untuk sementara, ia memilih memvakumkan usahanya.
Tetapi keinginan untuk berbisnis tidak ikut berhenti. Bersama dua temannya, Adam beberapa kali mengikuti lomba business plan. Mereka pernah mengusulkan bisnis cuci sepatu hingga perangkat digital. Hasilnya belum sesuai harapan.
Sampai kemudian dosen pembimbingnya, Candra Kusuma Wardana, S.E., M.B.A., memberikan satu nasihat yang mengubah arah usahanya.
“Bukan yang kasaran nol banget. Tidak perlu nge-filter dari awal. Harus sudah ada market testing-nya,” kata Adam, mengulang pesan dosennya.
Adam kemudian mengajukan bisnis reseller sajadah yang pernah dijalaninya. Namun, Candra menilai Adam harus melangkah lebih jauh.
“Kamu harus bikin produk sendiri, Mas,” kata Candra.
Adam diberi waktu dua minggu. Cari kain. Jahit. Buat sampel. Lalu bawa ke kampus. Tantangan itu akhirnya mempertemukan Adam dengan batik.
Sepuluh Kimono dan Sebuah Nama Baru
Adam memiliki pengalaman bersentuhan dengan bisnis busana karena sebelumnya membantu usaha ibunya. Ia pun tidak terlalu kesulitan mencari bahan baku.
Bersama teman-temannya, ia berburu kain batik di Beteng Trade Center, salah satu pusat grosir tekstil di Kota Solo.
Mereka kemudian membuat produk pertama: sepuluh kimono batik.
Modalnya hanya Rp2 juta. Kimono tersebut mula-mula dipasang di Shopee sebagai prototipe. Respons pasar ternyata di luar dugaan.
Produk itu ludes bahkan sebelum dibawa ke lomba business plan. Masalah baru pun muncul.
“Jadinya kami enggak ada barang untuk dipresentasikan,” kata Adam sambil tertawa.
Di titik itu, Adam mulai melihat bahwa batik bukan sekadar bahan untuk memenuhi tugas lomba. Ada peluang yang bisa dikembangkan.
Namun, perjalanan kembali tersendat ketika dua temannya memilih mengambil program double degree di Korea Selatan.
Adam menghadapi pilihan: berhenti atau melanjutkan sendiri. Dia memilih yang kedua.
Pada awal 2025, bisnis tersebut dijenamai ulang menjadi Danata Studio. Sejak itu, Adam menjalankannya seorang diri.

Beberapa produk batik Danata Studio. Foto: Instagram/Danata Studio
Namanya sendiri menjadi bagian dari identitas jenama tersebut. Adam kini lebih banyak bermain di sisi konsep. Dia merancang produk, menentukan bahan, lalu menyerahkan proses produksi kepada penjahit yang bekerja sama dengan Danata Studio. Kain batik diperolehnya dari sejumlah toko kain di Kota Solo.
Tetapi membuat produk sendiri ternyata menghadirkan persoalan baru. Adam sempat sengaja bekerja dengan lebih dari satu penjahit agar kapasitas produksi bisa meningkat. Kenyataannya, mencari penjahit yang cocok tidak semudah yang dibayangkan.
Ada barang yang hilang. Ada jahitan yang tidak sesuai. Bahkan ada pesanan yang belum juga selesai setelah sebulan.
Dalam perjalanannya, Adam sampai empat kali berganti penjahit.
“Bahkan ada yang sebulan belum dijahit,” katanya.
Pelan-pelan, sistem produksinya mulai terbentuk. Danata Studio kini tidak hanya membuat kimono. Produk yang ditawarkan semakin beragam: jaket dan outer, kemeja, kemeja shanghai, beskap, hingga vest atau rompi.
Bahan yang digunakan pun tidak hanya batik, tetapi juga kain lurik. Harganya dimulai dari Rp99 ribu.
Bagi Adam, tantangannya bukan sekadar membuat produk yang terlihat bagus. Produk itu harus memiliki alasan untuk dipilih.
Melawan Potongan Marketplace
Danata Studio tumbuh bersama ekosistem digital. Adam memanfaatkan Shopee, TikTok, dan TikTok Shop untuk memperkenalkan produknya. Beberapa kontennya bahkan menembus lebih dari 80 ribu tayangan.
Tetapi semakin besar sebuah marketplace, semakin besar pula biaya yang harus dibayar penjual.
Adam merasakan perbedaannya dibanding masa awal berjualan. Ada biaya layanan platform, komisi penjualan, pemrosesan pesanan, penarikan dana, promosi, hingga pajak. Menurutnya, akumulasi potongan dapat mencapai sekitar 25 persen.
“Dulu biaya adminnya 2,5 persen. Sekarang 25-30 persen. Kalau harga jualnya Rp299 ribu, bakal dipotong 25 persen buat marketplace,” keluhnya.
Ia pun mencari jalan lain. Untuk pesanan dalam jumlah besar, Danata Studio menyediakan layanan melalui WhatsApp.
Cara itu membuat pelanggan bisa memperoleh ongkos kirim lebih murah, sementara Adam dapat memberikan harga yang lebih kompetitif karena tidak terbebani berbagai potongan marketplace.
Marketplace, bagaimanapun, tetap memiliki jasa yang tidak bisa diabaikan. Dari sanalah produk Danata Studio dikenal lebih luas. Dan perjalanan itu akhirnya membawa batik buatan Adam keluar dari Indonesia.
Teranyar, Danata Studio mengikuti program Shopee Ekspor. Dari layar ponsel dan marketplace, produk yang semula dibuat dalam skala kecil itu mulai menemukan pembeli di luar negeri.
Singapura dan Malaysia menjadi dua negara tujuan pemasaran Danata Studio. Perjalanan itu terasa seperti lingkaran yang lengkap.
Semua bermula dari seorang anak SMA yang membantu mengelola media sosial bisnis ibunya karena bosan belajar dari rumah.
Lalu ia menjual daster. Berpindah ke sajadah. Mengumpulkan Rp 100 juta pertama.
Jatuh ketika pemasoknya menjadi pesaing. Vakum. Mencoba lomba business plan. Diminta dosen membuat produk sendiri. Membuat sepuluh kimono dengan modal Rp 2 juta. Dan akhirnya memilih batik sebagai jalan yang ingin ditempuhnya.
Kini, Adam masih berstatus mahasiswa. Ia aktif di Kelompok Studi Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS. Di sela kuliah, ia terus merancang produk, mencari bahan, mengurus produksi, membuat konten, dan membaca perubahan pasar.
Danata Studio mungkin belum menjadi jenama besar. Tetapi perjalanan Adam menunjukkan sesuatu yang lebih penting: sebuah usaha kadang tidak lahir dari gagasan besar.
Dia bisa bermula dari pekerjaan kecil yang dilakukan karena bosan. Dari membantu ibu. Dari mencari produk yang lebih praktis. Dari kegagalan sebuah bisnis. Atau bahkan dari sebuah kalimat dosen yang terdengar sederhana: buat produkmu sendiri.
Dari Solo, kain-kain tradisional itu kemudian berjalan lebih jauh. Menyeberangi batas negara.
Menuju Singapura dan Malaysia. Dan membawa nama Danata Studio ikut tumbuh bersama batik yang dipakainya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments