Mengelola uang saku selama menjalani perkuliahan menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari kerap bercampur dengan keinginan mengikuti tren, membeli barang bermerek, hingga nongkrong bersama teman. Tanpa perencanaan yang baik, uang saku bisa habis sebelum waktunya.
Menyikapi persoalan tersebut, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengajak mahasiswa membangun kebiasaan mengelola keuangan secara cerdas. Ajakan itu disampaikan dalam kajian Kamisya di Masjid AR Fachruddin UMM, Kamis (29/10/2026).
Dalam pemaparannya, Juanda menjelaskan bahwa kondisi keuangan setiap mahasiswa berbeda-beda. Ada yang mengandalkan kiriman orang tua, menerima beasiswa, maupun memperoleh penghasilan dari pekerjaan sampingan.
Perbedaan sumber pendapatan tersebut membuat mahasiswa perlu mengenali kemampuan finansial masing-masing. Menurutnya, besarnya uang yang dimiliki bukan satu-satunya penentu kondisi keuangan. Kebiasaan dalam menggunakan uang juga turut memengaruhi kemampuan seseorang mengelola keuangannya.
“Langkah awal yang bisa dilakukan mahasiswa adalah berani jujur melihat saldo. Dari situ, mahasiswa bisa mengetahui kondisi keuangannya sendiri dan lebih mudah mengatur penggunaan uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Juanda menekankan pentingnya membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran, termasuk nominal kecil seperti biaya parkir. Catatan tersebut dapat membantu mahasiswa mengetahui ke mana uang digunakan sekaligus menentukan pengeluaran yang perlu dikurangi.
Mahasiswa juga perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Biaya tempat tinggal, makan, transportasi, serta kuota internet untuk perkuliahan harus menjadi prioritas sebelum mengalokasikan uang untuk hiburan atau mengikuti tren.
Ia mengingatkan, perilaku konsumtif dapat muncul ketika seseorang terbiasa membeli barang secara berlebihan, sulit menunda keinginan, atau merasa harus memiliki barang yang sama dengan orang lain.
Untuk mengatasinya, mahasiswa dapat memanfaatkan aplikasi pencatat keuangan, menetapkan batas pengeluaran, dan membangun kebiasaan menabung sejak awal menerima uang.
Dalam kajian tersebut, Juanda juga memaparkan pola pembagian anggaran yang dapat dijadikan acuan, yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan dan hiburan, serta 20 persen untuk masa depan.
Pembagian tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing mahasiswa. Selain menabung, mahasiswa juga perlu menyiapkan dana cadangan untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
“Amankan tabungan di awal bulan, bukan menyisakan di akhir bulan,” imbuhnya.
Selain mengatur pengeluaran, Juanda mengingatkan mahasiswa agar menghindari pinjaman online ilegal, judi online, dan investasi bodong yang menawarkan keuntungan instan.
Ia juga mengajak mahasiswa memahami bahwa dalam Islam, harta perlu dikelola secara bijak dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena itu, mahasiswa perlu menghindari perilaku berlebihan serta membiasakan diri bersedekah sesuai kemampuan.
Melalui kegiatan ini, UMM mendorong mahasiswa baru Gen 26 membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak awal perkuliahan. Kemampuan mengelola uang diharapkan dapat membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan akademik, menghindari masalah keuangan, dan mempersiapkan masa depan secara lebih terencana.
“Landasi pengeluaran harta sebagai bentuk ibadah, mapan di masa depan, dimulai dari bijak mengatur uang hari ini,” tegasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments