Kehangatan rumah tangga tidak selalu dibangun dengan hal-hal besar. Mengucapkan terima kasih kepada pasangan, menerima kekurangannya, tidak membandingkan keluarga dengan orang lain, serta mampu menahan amarah justru menjadi kebiasaan sederhana yang dapat menjaga hubungan suami istri.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kajian Rutin Senin ke-1 PRM Wage di Masjid Al-Hikmah, Jalan Blimbing Wage, Taman, Sidoarjo, Senin (5/10/2026) ba’da Maghrib.
Kajian bertema “Hakikat Syukur dan Sabar dalam Rumah Tangga” itu menghadirkan Ustaz Yunan Daris Satriwan, M.Pd.I. Sebanyak 143 jamaah mengikuti kajian yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage tersebut.
Hadir antara lain Ketua PRM Wage Ivan Poerwanto, Bendahara PRM Wage Hoiru Rozik Sabki, Ketua Takmir Masjid Al-Hikmah Eko Santoso, unsur Majelis Tabligh, Direktur Klinik Aisyah Wage Ariadi SAS, ibu-ibu Aisyiyah Ranting Wage, Kokam, pemuda, dan pengurus ranting.
Menurut Ustaz Yunan, syukur dalam keluarga tidak harus diwujudkan melalui sesuatu yang rumit. Ia dapat dimulai dari kemampuan menghargai kebaikan orang-orang terdekat.
Dia mengajak jamaah melakukan introspeksi melalui situasi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Bapak-bapak, kalau istri memasak makanan kesenangan Bapak-bapak lalu disajikan di meja makan, sudahkah Bapak-bapak mengucapkan terima kasih kepada istri?” tanyanya.
Pertanyaan serupa ia arahkan kepada para ibu.
“Ibu-ibu, kalau suami memberikan amplop untuk Ibu-ibu, sudahkah selalu mengucapkan terima kasih?”
Begitu pula kepada orangtua ketika anak melakukan kebaikan.
“Bapak Ibu, kalau anak kita membawa pulang oleh-oleh untuk kita, sudahkah kita mengucapkan terima kasih?” lanjutnya.
Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa syukur dapat dimulai dari rumah. Bahkan, ucapan “terima kasih” bukan sekadar basa-basi, tetapi bentuk penghargaan yang membuat seseorang merasa diperhatikan dan dihargai.
Materi kajian juga mengingatkan sabda Rasulullah saw bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti belum bersyukur kepada Allah SWT.
Karena itu, bersyukur kepada Allah juga berarti belajar menghargai kebaikan yang datang melalui tangan orang lain, termasuk pasangan dan anggota keluarga.
Sabar Bukan Berarti Membiarkan Masalah
Ustaz Yunan menjelaskan, selain syukur, kehidupan rumah tangga membutuhkan kesabaran. Suami dan istri merupakan dua pribadi dengan karakter, kebiasaan, dan latar belakang berbeda. Perbedaan itu sangat mungkin melahirkan ketidaksesuaian.
“Karena itu, pasangan tidak seharusnya hanya melihat sisi yang tidak disukai,” ujar dia.
Menurut dia, Rasulullah saw mengingatkan agar seorang Mukmin tidak membenci seorang Mukminah. Jika terdapat satu perangai yang tidak disukai, bisa jadi terdapat perangai lain yang justru disukai.
Pesan tersebut sejalan dengan QS An-Nisa ayat 19 yang memerintahkan agar pasangan diperlakukan dengan cara yang patut. Sesuatu yang tidak disukai seseorang bisa jadi justru menyimpan kebaikan yang tidak diketahuinya.
Ustaz Yunan menekankan bahwa sabar dalam rumah tangga bukan berarti membiarkan persoalan tanpa penyelesaian.
“Sabar berarti mampu menahan diri ketika emosi, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan tetap berusaha mencari jalan keluar dengan cara yang baik,” paparnya.
Ukuran Kekuatan Ada pada Kemampuan Menahan Marah
Dikatan Ustaz Yunan, persoalan keluarga sering kali bermula dari hal kecil. Namun, persoalan tersebut dapat membesar ketika masing-masing pihak membalas emosi dengan emosi.
Karena itu, terangnya, kemampuan mengendalikan amarah menjadi bagian penting dalam menjaga kehangatan rumah tangga.
Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah orang kuat itu karena jago gulat. Sesungguhnya orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Hadis tersebut memberikan ukuran kekuatan yang berbeda. Kekuatan bukan semata-mata kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan menaklukkan diri sendiri ketika emosi memuncak,” jabar Ustaz Yunan.
Dalam kehidupan keluarga, menahan perkataan kasar, tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, dan memberi waktu untuk menenangkan diri merupakan bentuk kesabaran.
Kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan rumah tangga juga menjadi bagian dari kekuatan iman.
Ustaz Yunan juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kehidupan keluarga lain sebagai ukuran kebahagiaan rumah tangga sendiri.
Rasulullah saw mengajarkan agar seseorang melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia dan tidak melihat orang yang berada di atasnya. Dengan cara itu, seseorang tidak meremehkan nikmat yang telah diberikan Allah. (HR Muslim).
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan keluarga saat ini. Kondisi ekonomi, rumah, kendaraan, pendidikan anak, maupun gaya hidup keluarga lain yang terlihat lebih baik dapat dengan mudah menjadi bahan perbandingan.
“Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut justru membuat seseorang lupa terhadap nikmat yang telah dimilikinya,” katanya.
Sebaliknya, timpalnya, menerima dan menghargai apa yang dimiliki dapat menumbuhkan ketenangan sekaligus menjaga rasa syukur dalam keluarga.
Dari Rumah Menuju Kebersamaan di Surga
Pada akhirnya, menurut Ustaz Yunan, syukur dan sabar dalam rumah tangga tidak berhenti pada terciptanya hubungan yang harmonis di dunia. Keduanya merupakan bagian dari ikhtiar membangun keluarga yang hidup dalam iman dan ketakwaan.
“Keluarga bukan hanya tempat berbagi kebahagiaan dunia, tetapi juga tempat menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat,” katanya.
QS Ar-Ra’d ayat 23 menggambarkan orang-orang yang memasuki surga bersama orang-orang saleh dari leluhur, pasangan, dan keturunan mereka.
Karena itu, keluarga sakinah dapat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan yang tampak sederhana: menghargai kebaikan pasangan, mengucapkan terima kasih, menerima kekurangan, tidak mudah membandingkan, bersabar ketika menghadapi persoalan, dan mampu mengendalikan amarah.
“Rumah yang dipenuhi syukur dan sabar bukan berarti rumah tanpa masalah. Justru di sanalah pasangan belajar menghadapi masalah dengan cara yang lebih dewasa,” tandas Ustaz Yunan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments