Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesta Sudah Usai, Pujian Akan Surut

Iklan Landscape Smamda
Pesta Sudah Usai, Pujian Akan Surut
Timnas Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai mengalahkan Thailand. Foto: Rivan Awal Lingga/Antara

Pesta sudah usai. Stadion yang beberapa hari lalu bergemuruh perlahan kembali seperti biasa. Bendera dilipat. Jersey disimpan. Lagu kemenangan berhenti diputar. Orang-orang kembali kepada kesibukan masing-masing.

Begitu pula dengan pujian. Gelombangnya akan surut. Begitulah dunia. Terlebih dunia maya.

Hari ini, seseorang bisa dipuja sedemikian rupa. Namanya ada di mana-mana. Foto dan videonya bertebaran. Semua orang seperti mengenalnya.

Besok, perhatian itu bisa berpindah. Ada nama baru. Ada cerita baru. Ada kemenangan baru. Ada orang lain yang menjadi pusat percakapan.

Begitulah dunia maya bekerja. Ia cepat sekali mengangkat seseorang ke atas. Tetapi ia juga cepat sekali meninggalkannya.

Karena itu, jangan terlalu mabuk pujian. Bukan karena pujian itu buruk. Pujian boleh diterima. Bahkan bisa menjadi energi untuk terus berbuat lebih baik.

Tetapi pujian harus ditempatkan sebagai sesuatu yang sementara. Ia tamu. Datang, duduk sebentar, lalu pergi.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan dan membanggakan diri.

Allah berfirman dalam Surat al-Hadid ayat 23: “Supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Ayat ini bukan melarang manusia bergembira. Kemenangan boleh dirayakan. Keberhasilan boleh disyukuri. Pujian boleh diterima.

Tetapi hati jangan sampai kehilangan keseimbangan. Sebab sesuatu yang hari ini membuat kita berbangga, bisa saja besok menjadi sesuatu yang hilang. Dan sesuatu yang hari ini membuat kita kecewa, bisa saja kelak menjadi jalan menuju kebaikan.

Maka, jangan terlalu tinggi ketika dipuji. Jangan pula terlalu rendah ketika dikritik.

***

Lihatlah seorang pemain sepak bola. Ketika ia mencetak gol, kamera akan mencarinya. Namanya diteriakkan. Media menulis tentang dirinya.

Tetapi di balik satu gol ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada pelatih. Ada rekan setim. Ada keluarga. Ada latihan yang panjang. Ada kegagalan.

Ada orang-orang yang pernah mengajarinya berdiri setelah jatuh. Tidak ada keberhasilan yang benar-benar berdiri sendirian.

Karena itu, ketika terlalu banyak mendengar kalimat, “Kamu hebat”, seseorang bisa perlahan mengubahnya menjadi, “Aku memang hebat.” Kalimat pertama adalah apresiasi. Kalimat kedua bisa menjadi jebakan.

Islam justru mengajarkan manusia untuk mengembalikan segala kelebihan kepada Allah.

Ketika Nabi Sulaiman melihat nikmat dan kekuasaan yang diberikan kepadanya, beliau tidak berkata, “Ini karena kehebatanku.”

Ia berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku.” (QS an-Naml: 40)

Barangkali inilah cara paling sehat menghadapi pujian. Ketika orang mengatakan kita hebat, dalam hati kita menjawab: Ini karunia Allah.

Dengan begitu, pujian tidak menjadi tangga menuju kesombongan, tetapi jalan menuju syukur.

Ada hal lain yang perlu diingat. Pujian memiliki umur. Kadang sangat pendek.

Hari ini, kita menjadi berita utama. Besok berita lain datang. Hari ini satu video ditonton jutaan orang. Besok orang mencari video berikutnya.

Hari ini, nama kita memenuhi media sosial. Beberapa hari kemudian orang sudah lupa. Jangan marah kepada dunia karena demikian.

Memang begitulah sifat perhatian manusia. Terus bergerak. Terus mencari sesuatu yang baru.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya sementara. Dalam Surat al-Hadid ayat 20, Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta anak.

Karena itu, yang hari ini terlihat besar belum tentu besar di hadapan Allah. Dan yang hari ini ramai belum tentu berarti di hadapan-Nya.

Popularitas bukan ukuran kemuliaan. Jumlah pengikut bukan ukuran ketakwaan. Tepuk tangan bukan ukuran keberhasilan seseorang di hadapan Allah.

Pujian sebenarnya tidak salah. Yang berbahaya adalah ketika kita mulai membutuhkannya untuk merasa berharga.

Kita bekerja bukan karena ingin menghasilkan sesuatu yang baik, tetapi karena ingin dipuji.

Kita menulis bukan karena memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan, tetapi karena ingin mendapatkan banyak pembaca.

Kita menolong bukan karena ingin membantu, tetapi karena ingin dianggap baik.

SMPM 5 Pucang SBY

Pada titik itu, sesuatu yang semula baik berubah menjadi pertunjukan. Kita mulai hidup untuk mata orang lain.

Padahal Rasulullah saw telah mengingatkan: “Tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.”

Hadis riwayat Muslim ini mengajarkan sesuatu yang sederhana: kemuliaan tidak selalu datang dari posisi yang tinggi di mata manusia.

Kadang justru lahir dari hati yang bersedia merendah di hadapan Allah.

***

Ada orang yang kecewa karena tidak diapresiasi. Padahal tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Ada amal yang memang cukup diketahui Allah. Di sinilah keikhlasan menjadi penting.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

Hadis yang sangat masyhur dalam riwayat Bukhari dan Muslim ini seperti mengingatkan kita kembali ke titik awal.

Untuk siapa kita bekerja? Untuk siapa kita berbuat? Untuk siapa kita berjuang?

Kalau jawabannya selalu manusia, kita akan mudah kecewa. Karena manusia mudah lupa.

Tetapi jika orientasinya kepada Allah, pujian dan cacian manusia tidak lagi menjadi penentu utama.

Ada ironi dalam kehidupan. Pujian membuat hati senang. Kritik membuat hati tidak nyaman. Tetapi kritik sering kali lebih berguna.

Orang yang selalu memuji kita belum tentu sedang membantu kita. Sebaliknya, orang yang berani mengatakan, “Kamu masih kurang,” mungkin sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal.

Kita membutuhkan orang yang tidak takut membuat kita tidak nyaman. Sebab tanpa kritik, kita mudah mengira bahwa apa yang kita lakukan sudah sempurna. Padahal belum tentu.

Seorang pemain yang baru mencetak gol tetap harus berlatih esok pagi. Seorang mahasiswa yang mendapat nilai tinggi tetap harus belajar.

Seorang penulis yang tulisannya dibaca banyak orang tetap harus membaca. Seorang pemimpin yang dipuji tetap harus mau mendengar.

Keberhasilan kemarin tidak otomatis menjadi bekal untuk keberhasilan hari ini. Keberhasilan Juga Sebuah Ujian

Kita sering mengira ujian hanya datang ketika hidup sedang susah. Tidak. Keberhasilan juga ujian. Kegagalan menguji kesabaran. Keberhasilan menguji kerendahan hati.

Kritik menguji ketahanan hati. Pujian menguji apakah kita masih mengenal diri sendiri. Bahkan nikmat pun merupakan ujian.

Allah berfirman: “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS adz-Dzariyat: 21)

Barangkali kita perlu sesekali berhenti dari keramaian untuk melihat ke dalam diri. Siapa kita sebelum dipuji? Siapa kita ketika tidak ada yang mengenal? Dan siapa kita setelah semua orang berhenti membicarakan?

***

Rizky Ridho dan kawan-kawan telah menorehkan sebuah cerita. Kemenangan Timnas Indonesia akan menjadi bagian dari sejarah sepak bola kita.

Tetapi sejarah tidak berhenti pada malam kemenangan. Besok ada latihan. Ada pertandingan lain. Ada target lain. Ada kemungkinan menang. Ada kemungkinan kalah.

Begitu pula kehidupan. Setelah tepuk tangan berhenti, kita tetap harus menjalani hidup. Setelah kamera pergi, kita tetap harus menjadi manusia. Setelah pujian surut, kita tetap harus bekerja.

Mungkin di situlah kualitas seseorang sebenarnya terlihat. Bukan ketika ribuan orang meneriakkan namanya. Tetapi ketika stadion sudah kosong dan ia masih mau berlatih.

Bukan ketika semua orang mengatakan hebat. Tetapi ketika tidak ada yang mengatakan apa-apa dan ia tetap melakukan yang terbaik.

Dan yang paling penting: bukan ketika manusia melihat kita hebat, tetapi ketika Allah berkenan melihat kita sebagai hamba yang bersyukur.

Sebab tepuk tangan adalah suara yang sebentar. Pujian adalah sesuatu yang mudah berpindah. Popularitas adalah cahaya yang cepat redup. Sedangkan amal adalah bekal yang kita bawa pulang.

Maka, ketika pesta selesai, jangan terlalu lama berdiri di bawah panggung. Pulanglah. Besok pagi, kehidupan sudah menunggu. Dan kelak, setelah seluruh sorak manusia berhenti, kita akan berdiri di hadapan Allah.

Saat itu, bukan jumlah orang yang memuji kita yang ditanyakan. Melainkan apa yang kita lakukan dengan semua nikmat yang pernah diberikan kepada kita. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/10/2026 01:46
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu