Pagi belum sepenuhnya terang. Seorang ayah sudah berangkat dari rumah. Barangkali dengan sepeda motor tua. Barangkali dengan kendaraan umum. Barangkali berjalan kaki menuju tempat kerja yang tidak terlalu jauh.
Di rumah, istrinya menyiapkan sarapan. Anak-anak bersiap ke sekolah. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu.
Tetapi di balik langkah seorang ayah meninggalkan rumah, ada tanggung jawab yang besar. Ada nafkah yang harus dicari. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada ibadah yang harus ditopang oleh ikhtiar.
Bekerja bukan sekadar urusan mendapatkan uang. Bagi seorang Muslim, bekerja mencari rezeki untuk menopang kehidupan dan ibadah merupakan bagian dari tanggung jawab. Terlebih bagi mereka yang telah berkeluarga. Ada kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak.
Nafkah tidak datang begitu saja. Ia harus diusahakan. Karena itu, bekerja menjadi salah satu jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumuah: 10)
Ayat ini memberikan gambaran yang indah tentang keseimbangan hidup seorang Muslim.
Setelah salat, manusia diperintahkan bertebaran di muka bumi. Bergerak. Berusaha. Mencari karunia Allah.
Salat tidak membuat seseorang berhenti bekerja. Sebaliknya, pekerjaan semestinya menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.
Seorang pedagang membuka tokonya sejak pagi. Seorang guru masuk kelas tepat waktu. Seorang petani pergi ke sawah. Seorang pegawai menyelesaikan pekerjaannya. Seorang sopir mengantarkan penumpang. Seorang pekerja kasar mengangkat beban demi membawa pulang sejumlah uang untuk keluarganya.
Pekerjaan mereka mungkin berbeda. Tetapi ada satu kesamaan: mereka sedang berusaha menunaikan amanah kehidupan. Kadang hasilnya tidak seberapa.
Hari ini hanya cukup untuk membeli beras, membayar listrik, atau memenuhi kebutuhan sekolah anak. Esok harus bekerja lagi.
Begitulah kehidupan berjalan. Tidak semua orang memperoleh rezeki dalam jumlah besar. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk menjemput rezekinya melalui jalan yang halal.
Di sinilah pentingnya bekerja. Dengan bekerja, seseorang berusaha memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia juga berusaha agar tidak menggantungkan hidup kepada orang lain, apalagi meminta-minta.
Ada harga diri yang harus dijaga. Ada tangan yang lebih baik berada di atas daripada terus-menerus menengadah ke bawah.
Karena itu, bekerja tidak selayaknya dipandang hanya sebagai rutinitas mencari penghasilan. Ia dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh.
Ada ungkapan yang sering kita dengar: Al-barakatu ma’al harakah.
Keberkahan hadir bersama pergerakan. Maknanya sederhana. Jangan hanya menunggu. Bergeraklah.
Orang yang ingin panen harus menanam. Orang yang ingin mendapatkan hasil harus berusaha. Orang yang ingin keluarganya tercukupi harus mau bekerja. Tentu hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Manusia hanya diwajibkan berikhtiar. Karena itu, jangan malu dengan pekerjaan yang halal.
Malu bukan karena pekerjaan kita sederhana. Yang semestinya membuat malu adalah ketika kita mampu bekerja tetapi memilih berpangku tangan; ketika masih mampu berusaha tetapi memilih menggantungkan hidup kepada orang lain; atau ketika mencari rezeki dengan cara yang tidak halal.
Seorang ayah mungkin pulang dalam keadaan lelah. Bajunya berkeringat. Wajahnya kusam. Penghasilannya mungkin tidak besar.
Namun ketika ia meletakkan uang hasil kerjanya di atas meja dan berkata kepada istrinya, “Ini rezeki kita hari ini,” ada kemuliaan di sana.
Bukan karena jumlahnya. Tetapi karena ia mendapatkannya dengan usaha.
Begitu pula seorang ibu yang bekerja, seorang anak muda yang mencari pekerjaan, atau seorang pedagang kecil yang setiap pagi membuka lapaknya. Mereka semua sedang menjalani ikhtiar masing-masing.
Yang penting bukan seberapa besar pekerjaan itu terlihat oleh manusia. Yang penting adalah apakah ia halal, dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan diniatkan untuk kebaikan.
Rezeki bukan sekadar angka. Rezeki adalah sesuatu yang membawa manfaat dan keberkahan.
Maka jangan berhenti bergerak. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawab. Jangan meremehkan pekerjaan yang halal. Jangan pula merasa rendah hanya karena pekerjaan kita tidak dipandang tinggi oleh manusia.
Bisa jadi, pekerjaan yang sederhana justru menjadi jalan datangnya keberkahan. Sebab Allah tidak menilai seseorang semata-mata dari jenis pekerjaannya. Allah melihat niat, usaha, kejujuran, dan ketakwaannya.
Ya Allah, ampunilah salah dan dosa kami. Jadikan kami hamba yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Tetapkan kami sebagai hamba yang tetap beriman, berislam, sehat, serta senantiasa berada dalam limpahan hidayah, rahmat, dan lindungan-Mu di dunia dan akhirat.
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan berkah, serta amal yang Engkau terima. Terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments