Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pintu Menuju Dunia dari Sekolah Dasar

Iklan Landscape Smamda
Pintu Menuju Dunia dari Sekolah Dasar
Ilustrasi AI
Oleh : Assha Kamila Safitri, S.Pd Pengajar di di SD Muhammadiyah Plus Kota Probolinggo

Anak-anak sekolah dasar (SD) hari ini tumbuh dalam dunia yang nyaris tanpa sekat. Mereka menonton video dari Tokyo, mendengar lantunan qiraah dari Kairo, dan bermain game daring bersama kawan dari London. Semua itu melalui layar yang sama. Tapi ironisnya, masih banyak sekolah yang justru memperlakukan bahasa asing sebagai pelajaran tambahan sekadar untuk lulus ujian.

Karena itu, inovasi SD Muhammadiyah Plus Kota Probolinggo  program unggulan tiga bahasa (Inggris, Arab, Jepang) sangat menarik.

Dari sebuah kota di pesisir utara Jawa Timur, sekolah ini seolah berkata bahwa anak-anak Probolinggo berhak mengenal dunia sejak dini.

Program semacam ini bukan urusan gengsi atau sekadar pajangan brosur penerimaan siswa baru, melainkan ikhtiar agar sekolah benar-benar mengajarkan dunia, bukan hanya isi buku pelajaran.

Bahasa Mempunyai Pintu

Setiap bahasa membuka pintu yang berbeda. Bahasa Inggris adalah pintu terlebar karena menjadi bahasa pengantar sains, teknologi, bisnis, dan diplomasi. Anak yang akrab dengannya sejak kecil akan lebih mudah membaca, belajar, dan berdiskusi lintas negara kelak.

Sedangkan bahasa Arab memiliki makna yang lebih dalam, terlebih bagi sekolah yang bernaung di bawah persyarikatan Muhammadiyah. Ia adalah bahasa Al-Qur’an dan sunah.

Mempelajarinya berarti mendekati sumber ajaran agama secara langsung sekaligus menjangkau khazanah keilmuan klasik dalam filsafat, kedokteran, dan astronomi.

Semangat pembaruan yang menjadi ciri Muhammadiyah, yakni memadukan iman dengan ilmu pengetahuan, menemukan wujud konkretnya di sini.

Adapun bahasa Jepang menawarkan jendela ke Asia Timur. Jepang dikenal dengan etos disiplin, ketelitian, dan budaya menghargai waktu. Negara itu juga membuka kesempatan bagi tenaga terampil dari luar negeri, termasuk Indonesia.

Namun, nilai terbesarnya bagi anak-anak bukan semata peluang kerja, melainkan perkenalan dengan cara hidup yang berbeda.

Kombinasi ketiganya cerdas karena mewakili tiga lingkaran peradaban: dunia Barat, Timur Tengah, dan Asia Timur.

Anak yang mengenal ketiganya akan terbiasa menyadari bahwa satu hal dapat diungkapkan dan dipahami dengan cara yang berbeda.

Mengapa Sejak Sekolah Dasar?

Usia SD menjadi masa yang ketika telinga dan lidah anak masih lentur menangkap bunyi baru. Mereka lebih mudah menirukan lafal tanpa rasa malu.

Namun, karena itu, pendekatannya harus tepat. Anak SD belajar bahasa lewat lagu, permainan, cerita, dan kegiatan sehari-hari, bukan melalui hafalan tata bahasa yang kering.

Jika ditangani secara keliru, program unggulan malah dapat membuat anak menjauhi bahasa sebelum sempat menyukainya.

Program ini tentu memiliki risiko. Pertama, beban belajar. Tiga bahasa asing di samping kurikulum nasional dan pendidikan agama dapat melelahkan anak berusia enam hingga dua belas tahun bila jadwalnya tidak dirancang secara bijak.

Kedua, kualitas pengajar. Program unggulan hanya sebagus gurunya. Guru yang sekadar menyuruh siswa menghafal kosakata tidak akan melahirkan penutur yang percaya diri.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga, keadilan akses. Jika biaya program membengkak, hanya keluarga mampu yang bisa menikmatinya. Padahal, sekolah Muhammadiyah lahir dari semangat memajukan umat secara luas.

Ada pula bahaya yang lebih halus: lupa akar. Anak yang fasih menyapa dalam tiga bahasa tetapi canggung berbahasa Indonesia yang santun, atau asing dengan bahasa Jawa dan Madura yang akrab di lingkungannya, sesungguhnya kehilangan sesuatu yang berharga.

Menguasai bahasa dunia seharusnya memperkaya identitas, bukan menggantikannya.

Syarat agar Program Tidak Menjadi Etalase

Agar program ini bermakna, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan. Satu, pembelajaran harus kontekstual dan menyenangkan. Anak tidak cukup menghafal huruf hijaiah, hiragana, dan kosakata Inggris.

Mereka perlu menggunakannya, misalnya melalui drama kecil, nyanyian, pasar mini kelas, atau perkenalan diri dalam tiga bahasa.

Dua, bahasa perlu diajarkan bersama budayanya. Memahami adat menyapa dan sopan santun penuturnya dapat mencegah anak menjadi sekadar penghafal kata tanpa empati.

Kerja sama dengan penutur asli, termasuk secara daring, juga dapat sangat membantu.

Tiga, sekolah perlu menetapkan target yang realistis dan terukur sesuai usia serta melibatkan orang tua agar pembelajaran berlanjut di rumah.

Dan, empat, bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi. Fondasi yang kuat akan memudahkan anak membangun bahasa-bahasa lain di atasnya.

Manfaat terbesar program ini mungkin justru bukan kemampuan berbahasa. Anak yang belajar bahasa orang lain belajar mendengarkan dan menurunkan egonya.

Di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh prasangka, kemampuan itu menjadi modal kebangsaan sekaligus akhlak yang sejalan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Dari Program Menjadi Pengalaman

Pada akhirnya, sekolah yang mengajarkan dunia bukanlah sekolah yang paling banyak memasang bendera negara di dinding kelasnya.

Ia adalah sekolah yang membuat siswanya merasa bahwa dunia merupakan ruang yang bisa dimasuki dengan percaya diri dan rasa hormat. Bahasa Inggris, Arab, dan Jepang hanyalah kuncinya.

Bagi SD Muhammadiyah Plus Kota Probolinggo, tantangannya adalah memastikan kunci itu benar-benar membuka pintu: guru yang kompeten, kurikulum yang tidak membebani, akses yang adil, dan kesetiaan pada bahasa ibu.

Jika semua itu terpenuhi, dari sekolah dasar di Probolinggo ini dapat lahir generasi yang berakar kuat di tanah air, berakhlak mulia, dan berdaun lebat menjangkau dunia.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 04/10/2026 20:24
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu