Masjid itu banyak namanya. Namun satu nama bersejarah sejak zaman Nabi dan Rasul-rasul, yaitu Baitullah, rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Bahkan Baitullah ini, rumah ibadah pertama yang didirikan di dunia. Yaitu dibangun di Bakkah, atau Makkah Al Mukaromah. (QS. Ali Imran:96).
Baitullah pertama yang kemudian dikenal sebagai Masjidil Haram telah menjadi contoh, yakni sebagai masjid yang berkah tidak hanya di dalamnya, tetapi juga di luar lingkungannya.
Baitullah ini juga membawa berkah bukan hanya bagi yang telah melakukan ibadah di dalamnya, melainkan juga bagi negara yang mengurusnya.
Baitullah sebagai rumah Allah
Masjid adalah satu-satunya tempat ibadah umat manusia di dunia yang benar-benar sebagai Baitullah, atau rumah Allah Azza Wa Jalla. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa parameter sebagai berikut:
Pertama, tempat paling banyak disebut nama Allah. Tidak ada tempat ibadah yang paling banyak disebut nama Allah Azza Wa Jalla kecuali di masjid.
Walau ada nama rumah ibadah, “Bayt. Allah”, namun tetap saja masjid yang paling banyak disebut nama Allah setiap hari. (QS. Al Ahzab:41-42).
Dalam setiap adzan dan Iqamah nama Allah Azza Wa Jalla disebut berulang-ulang. Hal ini secara faktual disebutkan dalam lafadz- lafadz nya. Demikian pula dalam setiap Iqamah saat melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid.
Nama Allah Azza Wa Jalla disebut dalam shalat berjamaah lima waktu. Dzikir dan doa imam dan jamaah. Belum lagi bila melihat ibadah di Masjidil Haram.
Berapa banyak jumlah nama Allah disebut dan dibaca di dalam talbiyah saat thawaf dan sa’i yang terus- menerus tanpa henti.
Bacaan talbiyah disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”Labbaika llāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.(Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan- Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya puji, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”).(HR. Bukhari no. 1549 dan Muslim no. 19).
Dengan demikian jelaslah, bahwa hanya di masjid yang benar-benar paling banyak disebut nama Allah Azza Wa Jalla Sesuai firman Nya “…dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah…”. (QS. Al Hajj:40).
Kedua, benar-benar tempat menyembah Allah Azza Wa Jalla. Masjid merupakan satu- satunya tempat untuk ibadah dan menyembah pada Allâh Azza Wa Jalla.
Karena itulah pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama umat Islam berhasil merebut kembali Mekkah, maka Masjidil Haram, khususnya disekitar dan dalam Ka’bah segera dibersihkan dari berhala- berhala, sesembahan orang kafir Quraisy.
Disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang isyarat agar berhala berhala dibersihkan dari Masjidil Haram dan Ka’bah sebagai berikut.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Makkah (pada saat Fathu Makkah), sedangkan di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala. Beliau mulai menusuk-nusuk berhala tersebut dengan sepotong kayu yang ada di tangannya sambil mengucapkan: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.'” (HR. al-Bukhari no. 2478 dan Muslim).
Di samping itu berbagai aktivitas ibadah dilaksanakan di masjid dalam menyembah Allah Azza Wa Jalla. Ibadah mahdhah yang fardu dan sunah.
Ibadah fardhu ain, yakni shalat lima waktu dan shalat Jum’at berjamaah. Shalat fardhu kifayah juga dilaksanakan di masjid, yakni shalat jenazah.
Selain itu beberapa shalat sunah dilaksanakan di masjid. Di antaranya shalat tahiyatul masjid, sunah rawatib, shalat kusuf (gerhana matahari), shalat khusuf (gerhana bulan), shalat tarawih berjamaah dan shalat safar.
Shalat safar sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu safar. Ketika kami tiba, beliau berkata kepadaku, ‘Masuklah ke masjid dan shalatlah dua rakaat’.” (HR. Bukhari no. 2921).





0 Tanggapan
Empty Comments