Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sujud Rizky Ridho di Tengah Pesta Juara

Iklan Landscape Smamda
Sujud Rizky Ridho di Tengah Pesta Juara
Rizky Ridho berjusuh usai Indnesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026, Senin 5/10/2026) malam. Foto: tangkapan layar kanal Youtube Rans Entertaiment

Rizky Ridho bersimpuh. Kepalanya tertunduk. Lalu dahinya menyentuh tanah. Dia bersujud. Lama.

Air matanya jatuh. Bukan satu-dua tetes. Tubuhnya bergetar. Tangisnya pecah di tengah lapangan yang beberapa detik sebelumnya bergemuruh oleh teriakan puluhan ribu orang.

Ridho seperti sedang berbicara kepada langit. Tanpa mikrofon. Tanpa kata-kata. Hanya air mata. Hanya sujud.

Teman-temannya kemudian datang. Satu per satu. Mereka mengangkat bahunya. Memeluknya. Menepuk punggungnya.

Ridho membalas pelukan itu dengan erat. Ada tangis yang tidak perlu diterjemahkan. Ada bahagia yang terlalu besar untuk dijelaskan.

Malam itu, sepak bola seperti kehilangan kata-kata. Yang tersisa hanya pelukan. Dan sujud.

Indonesia baru saja menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026. Untuk pertama kalinya.

Setelah 120 menit yang melelahkan. Setelah skor 2-2 bertahan sampai akhir perpanjangan waktu. Setelah pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti. Indonesia akhirnya menang 4-2 atas Thailand.

Tetapi bagi Ridho, kemenangan itu mungkin terasa lebih panjang daripada 120 menit.

Sebab seorang pemain tidak hanya membawa tubuhnya ke lapangan. Ia membawa harapan. Ia membawa kecemasan. Ia membawa kritik. Ia membawa nama keluarga
Ia membawa nama bangsa.

Dan malam itu, semua beban itu seperti luruh ketika dahinya menyentuh rumput.

***

Ridho bahkan tidak memulai pertandingan sebagai starter. Namanya ada di bangku cadangan. Menunggu. Menanti.

Dalam sepak bola, menunggu juga bagian dari perjuangan. Kadang seorang pemain harus menerima bahwa pertandingan besar tidak selalu dimulai dengan namanya di daftar sebelas pemain pertama.

Tetapi kesempatan bisa datang kapan saja. Pada menit ke-60, Ridho masuk. Pertandingan belum selesai.

Justru bagian paling melelahkan baru dimulai. Kaki-kaki mulai berat. Napas mulai pendek. Pikiran mulai bertarung dengan kelelahan.

Tetapi Ridho masuk membawa sesuatu yang tidak terlihat di papan skor. Keberanian.

Ketika Thailand mencetak gol pada menit ke-110 dan Indonesia kembali tertinggal 1-2, waktu seperti semakin sempit. Lima menit. Enam menit. Tujuh menit.

Tidak banyak yang tersisa. Namun sepak bola kadang menyimpan keajaiban di tempat yang paling tidak disangka.

Menit ke-116. Ridho mengirim umpan tarik. Bola bergerak menuju Elkan Baggott. Satu sentuhan. Gol. 2-2.

Stadion meledak. Para pemain berlari. Suporter berdiri. Suara manusia seperti pecah menjadi satu. Indonesia belum juara. Tetapi harapan kembali hidup.

Ada sesuatu yang menarik dari gol itu. Ridho tidak mencetaknya. Baggott yang memasukkan bola ke gawang. Namun Ridho berada di dalam cerita itu.

Begitulah sepak bola. Tidak semua orang yang membuat sejarah harus berdiri sebagai pencetak gol.

Kadang seseorang cukup mengirimkan satu umpan. Kadang seseorang cukup membuka ruang. Kadang seseorang cukup bertahan ketika yang lain menyerang. Dan kadang seseorang cukup berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat.

Sejarah dibangun oleh banyak kaki. Bukan satu kaki. Lalu datanglah adu penalti. Satu per satu. Tegang. Sunyi. Kemudian sorak.

Kevin Diks masuk. Dean James masuk. Elkan Baggott masuk. Shayne Pattynama masuk. Empat tendangan Indonesia berhasil. Dua tendangan Thailand gagal. 4-2. Juara.

Maka malam itu bukan sekadar tentang sebuah trofi. Bukan hanya tentang angka 4-2. Bukan pula hanya tentang sebuah final yang dimenangkan.

Malam itu adalah tentang penantian panjang yang akhirnya menemukan ujungnya. Tentang generasi yang selama bertahun-tahun hanya mengenal Indonesia sebagai tim yang nyaris juara.

SMPM 5 Pucang SBY

Tentang final-final yang berakhir dengan kecewa. Tentang harapan yang berkali-kali tumbuh lalu patah.

***

Kini, trofi itu akhirnya berada di tangan Indonesia. Dan di tengah pesta itulah Ridho memilih bersujud. Bukan berlari paling jauh. Bukan melompat paling tinggi. Bukan mencari kamera. Ia justru merendahkan tubuhnya. Dahi ke tanah.

Seolah-olah ada pesan sederhana yang ingin ia katakan: Bahwa setinggi apa pun seseorang terbang, pada akhirnya ia tahu ke mana harus merendahkan diri.

Ada ironi yang indah di sana. Di lapangan, Ridho bermain sebagai bek. Tugasnya menjaga. Menutup. Menghalau. Bertahan.

Tetapi pada malam ketika Indonesia menjadi juara, yang paling kuat dari dirinya justru bukan otot. Bukan kecepatan. Bukan teknik. Melainkan kerendahan hati.

Sujud mengingatkan kita bahwa kemenangan tidak selalu membuat manusia menjadi lebih tinggi. Kemenangan justru bisa membuat seseorang semakin rendah hati. Sebab ada sesuatu yang lebih tinggi daripada trofi.

Ada Allah yang memberi kesempatan. Ada Allah yang memberi kekuatan. Ada Allah yang mempertemukan ikhtiar dengan hasil.

Mungkin itulah sebabnya sujud Ridho terasa lebih panjang daripada selebrasi. Sebab dalam sujud, seorang manusia tidak sedang mempertontonkan kemenangan. Ia sedang mengembalikan kemenangan itu kepada Pemiliknya.

***

Malam itu, kegembiraan juga sampai ke Surabaya. Auditorium lantai 13 Gedung At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menjadi salah satu tempat yang ikut menyambut kemenangan Indonesia.

Bukan sekadar karena Indonesia juara. Ada alasan yang lebih dekat. Lebih personal. Rizky Ridho adalah bagian dari keluarga besar kampus itu. Dia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Umsura.

Maka ketika Ridho berlari di lapangan GBK, ada warga Umsura yang merasa sedang melihat salah satu dari mereka. Ketika Ridho bertahan, mereka ikut tegang. Ketika Ridho memberikan umpan untuk gol Baggott, mereka ikut berteriak.

Ketika penalti terakhir memastikan Indonesia juara, kegembiraan itu seperti pulang ke kampus.n Ke ruang-ruang kelas. Ke lorong-lorong kampus. Ke Gedung At-Tauhid. Ke teman-teman yang mungkin selama ini mengenal Ridho bukan hanya sebagai pemain Timnas.

Tetapi sebagai mahasiswa. Sebagai anak muda yang masih kuliah. Masih belajar. Masih punya tugas. Masih punya masa depan setelah sepak bola. Di situlah kemenangan Ridho menjadi berbeda.

Dia memperlihatkan kepada mahasiswa lain bahwa hidup tidak harus memilih antara pendidikan dan mimpi. Keduanya bisa berjalan bersama. Memang tidak mudah.nTetapi bukan berarti tidak mungkin.

Dan akhirnya kita kembali kepada sujud itu. Sebab mungkin justru itulah gambar paling kuat dari malam bersejarah tersebut. Bukan trofi. Bukan confetti. Bukan lampu stadion. Bukan empat gol dalam adu penalti.

Melainkan seorang anak muda yang berlutut. Menangis. Dahinya menyentuh tanah. Di belakangnya, Indonesia sedang berpesta. Di depannya, masa depan masih panjang.

Ridho mungkin belum tahu berapa banyak pertandingan lagi yang akan dia jalani. Berapa banyak kemenangan yang akan datang. Berapa banyak kekalahan yang harus diterima.

Tetapi malam itu ia telah belajar sesuatu yang mungkin jauh lebih penting daripada cara memenangkan pertandingan.

Bahwa setelah berjuang sekuat tenaga, manusia harus tahu kapan berserah. Bahwa setelah berdiri gagah, manusia perlu tahu kapan merendah.

Bahwa setelah namanya dielu-elukan, manusia tetap harus ingat kepada siapa segala pujian itu dikembalikan.

Sujud itu akhirnya menjadi tanda. Bahwa kemenangan terbesar bukanlah ketika manusia berhasil berdiri paling tinggi. Melainkan ketika ia tetap tahu kepada siapa ia harus bersujud.

Malam itu, Rizky Ridho tidak hanya membantu Indonesia memenangkan pertandingan. Dia juga menghadirkan sebuah gambar tentang bagaimana seorang manusia seharusnya menerima kemenangan. Dengan air mata. Dengan syukur. Dengan sujud.

Dan mungkin, kelak ketika orang-orang mengenang malam pertama Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup, mereka tidak hanya mengingat skor 4-2.

Mereka akan mengingat seorang pemuda. Yang setelah seluruh negeri bersorak, ia justru memilih menundukkan kepala. Lalu bersujud. Di tanah. Di hadapan Sang Khalik. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 05/10/2026 23:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu