Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyusuri 4 Jejak dr. Soetomo, dari Sekolah Dokter hingga Panjebar Semangat

Iklan Landscape Smamda
Menyusuri 4 Jejak dr. Soetomo, dari Sekolah Dokter hingga Panjebar Semangat
Peserta Muhammadiyah Historical Walk di Kampus A Unair. Foto: Ahmad Fauzul/PWMU.CO
pwmu.co -

Empat tempat di Surabaya menjadi saksi perjalanan dr. Soetomo, dokter sekaligus tokoh pergerakan nasional. Jejak itu ditelusuri peserta Muhammadiyah Historical Walk (MHW) Batch 3 dr. Soetomo Session, Ahad (4/10/2026) sore.

Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB dari Kampus A Universitas Airlangga (Unair) ini mengajak peserta melihat kembali sejarah dr. Soetomo melalui tempat-tempat yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan pengabdiannya di Surabaya.

MHW Batch 3 merupakan kegiatan kolaboratif Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID), serta PWMU.CO sebagai media resmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Jajaran pimpinan Muhammadiyah turut mengikuti kegiatan ini. Di antaranya Wakil Ketua PWM Jatim Ir. Tamhid Masyudi dan Dr. Hidayatulloh, M.Si., Ketua MPKU Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua, Sekretaris MPID Dr. Radius Setiawan, serta Pemimpin Redaksi PWMU.CO Agus Wahyudi.

Peserta juga berasal dari jajaran pimpinan Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah (RSMA) se-Jawa Timur. Mereka menyusuri rute sejarah dengan didampingi Kurcarsono Prasetyo, Co-Founder Begandring Soerabaia, yang berperan sebagai interpreter warisan budaya.

Surabaya memiliki tempat khusus dalam perjalanan dr. Soetomo. Setelah menyelesaikan studi spesialis kulit dan kelamin di Amsterdam, dia kembali ke Indonesia pada 1923. Kota Surabaya kemudian menjadi salah satu tempat penting dalam pengabdian dan perjuangan hidupnya.

Ada empat lokasi utama yang menjadi rute napak tilas MHW.

Pertama, Ned-Indische Artsenschool (NIAS), sekolah dokter pada masa kolonial yang menjadi salah satu cikal bakal Fakultas Kedokteran Unair. Di tempat ini, dr. Soetomo pernah berkiprah sebagai dokter dan pengajar.

Kedua, RSUD dr. Soetomo. Rumah sakit ini pada masa kolonial dikenal sebagai Nieuwe Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Nieuwe CBZ) yang berada di Viaduct Straat, Karangmenjangan. Kini, rumah sakit tersebut menjadi salah satu pusat layanan kesehatan rujukan di Surabaya.

Ketiga, makam dan Museum dr. Soetomo di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Bubutan. GNI memiliki kaitan erat dengan sejarah pergerakan nasional. Gedung tersebut didirikan pada 11 Juli 1930 oleh dr. Soetomo bersama Indonesische Study Club (ISC) sebagai tempat pertemuan dan kegiatan pergerakan.

Keempat, kantor redaksi Panjebar Semangat di Jalan GNI Nomor 87, Surabaya. Media berbahasa Jawa ini didirikan dr. Soetomo pada 2 September 1933.

Dari sekolah dokter, rumah sakit, pusat pergerakan, hingga ruang pers, empat lokasi tersebut memperlihatkan luasnya jejak pengabdian dr. Soetomo. Ia bukan hanya seorang dokter, tetapi juga terlibat dalam pendidikan, pergerakan nasional, dan dunia pers.

Ir. Tamhid Masyudi mengaku senang mengikuti MHW dr. Soetomo Session. Ia bahkan mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru sepanjang perjalanan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Tentu saja, banyak pengalaman dan pengetahuan sejarah yang selama ini belum saya ketahui,” katanya.

Menyusuri 4 Jejak dr. Soetomo, dari Sekolah Dokter hingga Panjebar Semangat
Melihat jejak dr Soetomo di Museum FK Unair. Foto: Ahmad Fauzul/PWMU.CO

Tamhid mengikuti MHW setelah sebelumnya menghadiri kegiatan di Lamongan sejak pagi hingga siang. Alih-alih langsung pulang ke Surabaya, ia memilih bergabung dengan peserta MHW lainnya.

“Saya dari Lamongan. Setelah acara, langsung ke sini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dr. Hidayatullah. Pria yang juga rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu menyatakan bangga bisa ikut MHW Bacth 3 ini.

“Jejak dr. Soetomo sangat penting untuk diketahui. Selain sebagai tokoh nasional, dr Soetomo juga aktif sebagai tokoh dan penasihat kesehatan Muhammadiyah yang membantu merintis pelayanan medis bagi rakyat miskin,” katanya.

Prof. Mundakir juga memberikan apresiasinya. Dia mengaku banyak membaca kisah tentang dr. Soetomo, tetapi mengikuti MHW membuatnya melihat sejarah tokoh tersebut dari sudut yang berbeda.

“Selama ini saya banyak membaca tentang dr. Soetomo. Tetapi ketika datang langsung ke tempat-tempat yang menjadi bagian dari perjalanan hidup dan perjuangannya, rasanya berbeda. Sejarah menjadi lebih dekat dan lebih hidup,” ujar rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu.

Menurut dia, kegiatan seperti MHW penting untuk memperkenalkan sejarah Muhammadiyah dan tokoh-tokoh bangsa kepada generasi sekarang.

“Sejarah tidak cukup hanya dibaca dari buku, tetapi juga perlu ditelusuri melalui jejak tempat dan cerita yang masih tersisa,” tandas .

Sementara itu, wartawan senior PWMU.CO Fathurrahim Syuhadi, MM., menilai MHW sebagai kegiatan yang memberi pengalaman berbeda bagi warga persyarikatan.

“Kegiatan ini langka dan jarang dipikirkan dan dilakukan oleh warga persyarikatan. Ini luar biasa karena di-support jajaran pimpinan PWM,” ujar wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan itu. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 04/10/2026 21:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu