Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Yang Berubah Bukan Persahabatan, Melainkan Tubuh Kami

Iklan Landscape Smamda
Yang Berubah Bukan Persahabatan, Melainkan Tubuh Kami
Ilustrasi: OpenAI

Pesan itu masuk ke grup WhatsApp teman-teman SMA. Seorang kawan sedang berbaring di rumah sakit. Ia kesulitan duduk. Sebagian besar waktunya hanya dihabiskan dengan tiduran.

Dalam percakapan di WAG, dia berpesan kepada teman-temannya agar menjaga makanan. Juga tidak terlalu membebani pikiran.

Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada cerita yang berlebihan. Tetapi pesan pendek itu segera mengubah suasana grup.

Ucapan doa berdatangan. Semoga lekas pulih. Semoga segera sembuh. Semoga sakitnya hilang. Semoga segera bisa beraktivitas lagi. Kalimat-kalimat sederhana. Tetapi terasa hangat.

Sebab yang mengucapkannya adalah orang-orang yang sudah saling mengenal sejak masih berseragam putih abu-abu.

Saya membaca percakapan itu agak lama. Lalu tiba-tiba muncul kesadaran yang sederhana.

Kami ternyata sudah tua. Bukan tua dalam pengertian yang sering kita bayangkan. Kami masih bercanda. Masih saling meledek.

Masih bisa tertawa hanya karena mengingat kejadian konyol puluhan tahun lalu. Tetapi tubuh mulai memberikan tanda.

Di setiap pertemuan reuni, selalu ada cerita baru tentang tubuh. Ada yang sudah menjalani operasi. Ada yang mulai kesulitan berjalan. Ada yang harus mengurangi makanan berlemak.

Ada yang mulai berhati-hati memilih makanan. Ada yang tidak lagi bisa melakukan banyak hal yang dulu begitu mudah dilakukan.

Dulu, ketika masih SMA, kami tidak pernah memikirkan semua itu. Makan apa saja. Tidur kapan saja. Berjalan jauh tidak terasa. Berlari. Bermain. Bercanda sampai lupa waktu. Tubuh seperti tidak pernah meminta perhatian.

Sekarang tubuh mulai ikut berbicara. Kadang dengan rasa sakit. Kadang dengan larangan. Kadang dengan keterbatasan.

***

Kami baru sadar bahwa usia ternyata tidak hanya bertambah pada angka. Ia juga berjalan melalui lutut yang mulai lemah. Melalui napas yang tidak lagi panjang. Melalui makanan yang mulai harus dijaga. Melalui langkah yang perlahan.

Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang perjalanan itu.

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu setelah kuat itu lemah dan beruban.” (QS ar-Rum: 54).

Ayat itu terasa berbeda ketika dibaca pada usia muda.

Dulu, mungkin hanya dipahami sebagai pengetahuan. Sekarang ia seperti cermin. Kita sedang melihat bagian dari ayat itu pada diri sendiri.

Ada seorang kawan yang hampir tidak pernah melewatkan pertemuan reuni. Untuk datang, ia harus dibantu istrinya. Ia sudah tidak bisa menyetir sendiri. Istrinya yang mengemudikan kendaraan.

Ketika turun dari mobil, langkahnya tertatih-tatih. Tidak seperti dulu. Tetapi ia tetap datang. Ia tetap ingin bertemu. Ia tetap ingin duduk bersama kawan-kawan lama.

Bagi dia, pertemuan dengan teman-teman lama adalah silaturahmi yang tidak ternilai.

Saya melihatnya setiap kali reuni. Dia senang mendengar cerita-cerita masa SMA. Cerita lucu. Cerita satir. Cerita konyol. Cerita yang sebenarnya tidak penting bagi kehidupan kami sekarang.

Tetapi entah mengapa selalu membuat kami tertawa. Dan ia pun tersenyum. Kadang tertawa. Tubuhnya mungkin sudah berubah. Langkahnya tidak lagi tegap. Dia membutuhkan bantuan untuk datang.

Tetapi ketika cerita lama dimulai, seolah-olah ada sesuatu yang kembali hidup. Seperti ada anak SMA yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh yang sudah berusia lebih dari setengah abad.

Mungkin begitulah persahabatan bekerja. Ia menyimpan versi lama diri kita. Teman-teman SMA mengenal kita ketika belum punya jabatan.

Belum punya gelar. Belum punya banyak urusan. Belum sibuk memikirkan rumah, pekerjaan, anak, cicilan, kesehatan, dan berbagai persoalan kehidupan.

Mereka mengenal kita ketika hidup masih sederhana. Ketika persoalan terbesar mungkin hanya tugas sekolah yang belum selesai.

Atau takut dimarahi guru. Atau siapa yang duduk dengan siapa. Atau kejadian konyol yang sekarang justru menjadi bahan tertawaan.

Puluhan tahun berlalu. Kami kemudian menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang menjadi profesional. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi guru. Ada yang menjadi pejabat. Ada yang memilih jalan lain.

Kami sibuk. Sangat sibuk. Kadang terlalu sibuk. Sampai lupa bahwa orang-orang yang pernah begitu dekat dengan kita juga terus berjalan menuju usia yang sama.

SMPM 5 Pucang SBY

Padahal silaturahmi bukan perkara kecil dalam Islam. Bukan sekadar bertemu, berbincang, lalu pulang. Di dalamnya ada ikhtiar merawat hubungan. Menguatkan hati. Menjaga tali persaudaraan yang telah Allah pertemukan.

***

Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis itu membuat pertemuan-pertemuan kecil terasa memiliki makna yang lebih panjang.

Mungkin reuni bukan sekadar mengenang masa lalu. Mungkin ia adalah cara sederhana untuk merawat tali yang pernah Allah pertemukan.

Dulu, kami bertemu karena sekolah. Sekarang kami bertemu karena ingin menjaga silaturahmi. Dulu, kami punya banyak waktu. Sekarang waktu terasa semakin berharga.

Dulu kami bisa bertemu kapan saja. Sekarang satu per satu mulai memiliki alasan untuk tidak datang. Karena pekerjaan. Karena keluarga. Karena kesehatan. Karena jarak. Karena usia.

Itulah mungkin yang membuat sebuah pertemuan sederhana menjadi begitu berarti. Kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi kesempatan untuk duduk bersama.

Pesan dari rumah sakit itu membuat saya kembali memikirkan semuanya. Kami sudah melewati setengah abad.

Dan mungkin tidak ada yang benar-benar tahu berapa panjang jalan yang masih tersisa.

Al-Qur’an kembali mengingatkan: “Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian semula.” (QS Yasin: 68).

Usia yang panjang ternyata bukan sekadar hadiah berupa bertambahnya angka. Ia juga perjalanan menuju kelemahan.

Kita yang dahulu kuat, perlahan membutuhkan bantuan. Yang dahulu berlari, mulai berjalan pelan. Yang dahulu makan apa saja, mulai memilih makanan.

Yang dahulu menganggap tidur sebagai perkara mudah, mulai mengenal malam-malam yang panjang.

Begitulah hidup. Tidak perlu ditakuti. Tetapi perlu disadari. Sebab kesadaran tentang usia semestinya bukan membuat kita murung.

Kesadaran tentang  justru mengajarkan kita untuk lebih menghargai waktu. Lebih ringan memaafkan. Lebih cepat menyapa. Lebih sering mengunjungi. Lebih sungguh-sungguh menjaga silaturahmi.

Selama masih bisa bertemu, mengapa harus menunggu?

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan mungkin bukan masa SMA. Kita merindukan diri kita sendiri ketika masih berada di sana. Diri yang belum banyak beban. Belum banyak kehilangan. Belum terlalu sibuk. Dan masih punya banyak waktu untuk tertawa.

Kini tubuh kami berubah. Rambut memutih. Langkah melambat. Makanan mulai dijaga. Pikiran mulai diminta lebih tenang.

Tetapi ada satu hal yang semoga tidak ikut menua. Persahabatan. Mungkin itulah salah satu bentuk rahmat yang sering tidak kita sadari.

Ketika tubuh mulai kehilangan banyak hal, kita masih diberi kesempatan untuk duduk bersama orang-orang yang mengenal kita sejak muda.

Mereka tidak bertanya berapa banyak yang kita punya. Tidak menghitung jabatan. Tidak mempermasalahkan siapa yang paling berhasil.

Mereka hanya mengingat bahwa dulu kami pernah bersama. Pernah tertawa. Pernah nakal. Pernah bodoh. Pernah bermimpi.

Lalu sekarang, setelah setengah abad lebih, kami masih bisa duduk bersama. Dan tertawa. Seperti dulu. Seperti anak SMA. Hanya tubuh kami yang sudah berubah.

Barangkali itulah salah satu cara Allah mengingatkan kita bahwa umur bukan sekadar angka yang bertambah. Ia adalah kesempatan yang berkurang.

Maka, selama masih ada kesempatan untuk bertemu, datanglah. Selama masih ada teman yang bisa disapa, sapalah. Selama masih ada yang menunggu, jangan terlalu lama membuatnya menunggu.

Sebab suatu hari nanti, kita mungkin tidak lagi punya kesempatan untuk mengatakan, “Kapan kita reuni lagi?” (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 03/10/2026 03:56
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu