Kebiasaan anak Generasi Alpha yang ceplas-ceplos, gemar berdebat, atau mempertanyakan aturan orang tua kerap dianggap sebagai tanda kurangnya sopan santun. Padahal, perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan sikap melawan. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Siti Fatimah, M.Si., menjelaskan bahwa perilaku anak perlu dipahami dengan mempertimbangkan tahap tumbuh kembang dan lingkungan tempat mereka dibesarkan.
Menurutnya, perkembangan kemampuan berpikir membuat anak semakin berani bertanya, membandingkan informasi, dan mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak masuk akal. Namun, kemampuan mengendalikan dorongan, mengatur emosi, serta mempertimbangkan dampak perkataan masih berkembang selama masa kanak-kanak hingga remaja.
Karena itu, keberanian menyampaikan pendapat tidak serta-merta menunjukkan kemampuan berpikir kritis.
“Berpikir kritis menuntut kemampuan memberikan alasan, mengevaluasi informasi, dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda,” jelasnya.
Fatimah menambahkan, orang tua perlu membedakan isi pendapat anak dengan cara menyampaikannya. Anak yang mampu menjelaskan alasan ketidaksetujuannya dan bersedia mendengarkan pendapat orang lain perlu diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Sebaliknya, kebiasaan menyela, menghina, atau berbicara secara impulsif perlu diarahkan tanpa membungkam keberanian anak untuk berpendapat.
Media Sosial Memengaruhi Cara Anak Berkomunikasi
Pengaruh lingkungan juga tidak dapat diabaikan. Media sosial, video pendek, dan konten kreator dapat membentuk gaya bicara anak melalui kebiasaan meniru perilaku yang dianggap menarik atau memperoleh banyak perhatian.
Ketika candaan kasar mendapat respons positif, anak bisa menganggap perilaku tersebut wajar untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa tidak semua yang terlihat lucu di media sosial pantas ditiru dalam kehidupan nyata,” urainya.
Selain media digital, keluarga, teman sebaya, dan sekolah turut memengaruhi cara anak berkomunikasi. Anak dapat meniru kebiasaan orang tua yang membentak atau menyindir, mengikuti gaya bicara teman-temannya, maupun belajar memahami aturan sosial melalui interaksi di sekolah.
Oleh sebab itu, perubahan perilaku perlu dimulai dari keteladanan orang tua dan penerapan aturan komunikasi yang konsisten di lingkungan keluarga.
Pola Asuh Hangat dengan Batasan yang Jelas
Dalam pengasuhan, pendekatan otoritatif, yakni pola asuh yang memadukan kehangatan, ruang untuk berpendapat, dan batasan yang jelas, dinilai dapat membantu anak berkembang secara lebih seimbang.
Orang tua tetap perlu menetapkan aturan, tetapi juga menjelaskan alasan di balik aturan tersebut. Dengan begitu, anak diharapkan memahami tanggung jawab, bukan sekadar mengikuti perintah.
Fatimah menyarankan orang tua merespons perkataan yang kurang pantas dengan tenang. Alih-alih langsung membentak, orang tua dapat meminta anak mengulangi pendapatnya menggunakan bahasa yang lebih baik.
Diskusi keluarga juga dapat menjadi sarana latihan bagi anak untuk menyampaikan alasan, mendengarkan tanpa menyela, dan memahami perasaan orang lain.
“Tujuan pengasuhan bukan menjadikan anak selalu patuh tanpa berpikir, melainkan membantu anak memahami mengapa suatu aturan perlu dipatuhi,” tegasnya.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?
Fatimah mengingatkan bahwa perilaku anak perlu mendapat perhatian lebih apabila berlangsung terus-menerus, memicu konflik berkepanjangan, disertai ledakan emosi, atau mengganggu hubungan sosial dan kegiatan belajar.
Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk memahami penyebab perilaku dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Pada akhirnya, pengasuhan bukan tentang membatasi anak agar selalu diam, melainkan membimbing mereka supaya mampu menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Keberanian berbicara perlu berjalan seiring dengan pengendalian diri, empati, dan kemampuan menghargai orang lain.
“Jangan mendidik anak hanya agar berani berbicara, tetapi ajarkan juga kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, dan kapan perlu mendengarkan,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments