Keinginan menyenangkan orang lain tidak selalu berangkat dari ketulusan. Ketika seseorang terus-menerus mengiyakan permintaan karena takut ditolak atau kehilangan penerimaan sosial, kebaikan dapat berubah menjadi beban. Ia sibuk memenuhi harapan orang lain, tetapi justru mengabaikan kebutuhan dan tanggung jawabnya sendiri.
Persoalan inilah yang dibahas dosen Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ustaz Naufal Ahmad Rijalul Alam, S.Pd.I, MA, Ph.D, dalam kajian Taman Quran UMY bertajuk “People Pleaser Syariah” di Masjid Ahmad Dahlan UMY, Kamis (22/10/2026) malam.
Dalam kajian tersebut, Naufal mengajak peserta memahami perbedaan antara menjadi pribadi yang ramah dan mudah bergaul (people person) dengan kecenderungan menjadi people pleaser. Keduanya sama-sama berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi memiliki landasan perilaku yang berbeda.
Seorang people person membangun hubungan melalui keramahan, komunikasi yang baik, dan kepedulian terhadap sesama. Sementara itu, people pleaser cenderung memenuhi keinginan orang lain karena takut tidak disukai, kehilangan penerimaan, atau dianggap sebagai pribadi yang buruk.
“Menjadi pribadi yang baik tidak berarti harus memenuhi seluruh keinginan orang lain. Seorang muslim tetap perlu menjaga adab dan berbuat baik, tetapi juga harus memahami batasan agar tidak mengabaikan amanah serta kewajibannya sendiri,” jelasnya.
Ketika Kebaikan Berubah Jadi Beban
Kecenderungan menjadi people pleaser dapat terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Seseorang terlalu sering meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan, terus membantu orang yang berulang kali memanfaatkannya, atau merasa sangat bersalah setelah menolak permintaan.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika keinginan membantu orang lain membuat seseorang menelantarkan tanggung jawabnya sendiri.
Di lingkungan perkuliahan, misalnya, seorang mahasiswa mencurahkan waktu dan tenaga untuk membantu teman hingga mengabaikan persiapan ujian atau tugas akademiknya. Niat menolong memang baik, tetapi menjadi persoalan ketika bantuan itu justru membuat kewajiban utama terbengkalai.
Menurut Naufal, kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan akan validasi sosial. Seseorang merasa dirinya berharga apabila mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari orang lain.
“Akibatnya, keputusan yang diambil tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang matang, tetapi lebih banyak didorong oleh ketakutan mengecewakan orang lain,” ujarnya.
Pola tersebut juga dapat dipengaruhi pengalaman masa kecil, termasuk pola pengasuhan yang membuat anak merasa hanya akan dihargai ketika selalu patuh dan memenuhi harapan orang lain. Jika terbawa hingga dewasa, kebiasaan itu dapat membuat seseorang kesulitan menyampaikan pendapat, menetapkan batasan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
“Jika berlangsung terus-menerus, kecenderungan tersebut dapat menimbulkan kelelahan emosional, kecemasan, serta konflik dalam hubungan sosial,” tambahnya.
Meski demikian, people pleaser bukanlah diagnosis gangguan mental tersendiri. Dampaknya terhadap kondisi psikologis setiap orang pun dapat berbeda.






0 Tanggapan
Empty Comments