Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Persimpangan Hidup, Jalan Mana yang Kita Pilih?

Iklan Landscape Smamda
Di Persimpangan Hidup, Jalan Mana yang Kita Pilih?
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada dua orang yang sama-sama sedang berjalan pulang. Jalannya sama. Waktunya hampir bersamaan. Bahkan tujuan akhirnya pun sama: sampai ke rumah dengan selamat.

Namun di sebuah persimpangan, keduanya memilih arah yang berbeda. Yang satu mengikuti petunjuk jalan. Meski jalannya lebih panjang, ia tetap berjalan di sana. Yang lain memilih jalan yang tampak lebih mudah. Jalannya lebih sepi dan terasa lebih cepat.

Beberapa waktu kemudian, keduanya tiba di tempat yang berbeda. Begitulah kehidupan. Manusia tidak hanya menghadapi berbagai persoalan, tetapi juga terus-menerus berhadapan dengan pilihan. Ada jalan yang mengarah kepada kebaikan dan ada jalan yang membawa kepada keburukan.

Allah telah membekali manusia dengan potensi untuk memilih. Di dalam jiwa manusia ada kecenderungan menuju kebaikan, tetapi juga ada dorongan menuju kefasikan.

Allah berfirman: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-10)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bukanlah perjalanan tanpa arah. Allah telah memberikan petunjuk. Manusia tinggal memilih, lalu mempertanggungjawabkan pilihannya. Karena itu, menjaga jiwa menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Hari ini seseorang bisa taat. Besok ia bisa tergelincir. Hari ini seseorang merasa dekat dengan Allah. Pada hari lain, kesibukan dunia bisa membuat hatinya jauh.

Maka jangan pernah merasa aman dari godaan. Jangan pula merasa terlalu jauh untuk kembali. Pintu tobat selalu terbuka selama Allah masih memberikan kesempatan hidup.

Allah berfirman: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)

Dua jalan itu selalu terbentang di hadapan manusia. Jalan ketaatan dan jalan kemaksiatan. Jalan yang mendekatkan kepada Allah dan jalan yang menjauhkan manusia dari-Nya.

Kadang-kadang jalan kebaikan memang tidak selalu terasa mudah. Menjaga kejujuran ketika kebohongan bisa mendatangkan keuntungan, misalnya.

Menahan amarah ketika hati sedang tersulut. Tetap salat ketika pekerjaan menumpuk. Memilih memaafkan ketika sebenarnya kita punya alasan untuk membalas.

Di situlah ketaatan diuji. Ketaatan bukan hanya ketika kita berada di masjid. Ketaatan juga terlihat ketika tidak ada orang yang melihat.

Saat seseorang memiliki kesempatan untuk berbuat salah tetapi memilih berhenti, di situlah ada perjuangan menjaga jiwa.

SMPM 5 Pucang SBY

Saat seseorang tergelincir lalu segera menyadari kesalahannya, memohon ampun, dan kembali kepada Allah, di situlah ada harapan.

Sebab manusia memang bukan makhluk yang selalu luput dari kesalahan. Yang penting adalah jangan menjadikan kesalahan sebagai tempat tinggal.

Jangan sampai hati terbiasa dengan dosa. Jangan sampai sesuatu yang dahulu membuat kita gelisah karena merasa bersalah, lama-kelamaan justru terasa biasa.

Itulah sebabnya kita perlu terus membersihkan jiwa. Dengan salat. Dengan zikir. Dengan membaca Al-Qur’an. Dengan memperbanyak amal saleh. Dengan menjaga pergaulan. Dengan memilih rezeki yang halal. Dengan segera bertobat ketika melakukan kesalahan.

Allah sedang membuat peta untuk kita. Agar kehidupan ini tidak dilalui tanpa arah. Agar kita tahu mana jalan yang harus ditempuh dan mana jalan yang harus dihindari.

Pada akhirnya, setiap orang akan sampai pada ujung perjalanan. Yang membedakan bukan sekadar panjang pendeknya perjalanan, tetapi ke mana langkah itu diarahkan.

Maka mari terus memohon kepada Allah agar hati kita diteguhkan dalam ketaatan. Semoga Allah memberikan kelancaran dalam setiap urusan kita.

Memberkahi rezeki kita. Menjaga kita dari berbagai mara bahaya. Melapangkan rezeki kita.

Menjaga akidah kita, keluarga kita, dan anak cucu kita dari berbagai aliran dan ajaran yang menyimpang.

Dan yang paling kita harapkan, semoga Allah menutup umur kita dalam keadaan husnul khatimah. Sebab kita tidak tahu berapa jauh lagi perjalanan ini.

Yang bisa kita lakukan adalah terus memilih jalan yang benar, memperbaiki langkah ketika tergelincir, dan memohon kepada Allah agar tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 02/10/2026 19:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu