Sebuah pernyataan pemilik tempat karaoke di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menjadi perbincangan di media sosial. Ia menolak penutupan usahanya dan melontarkan sebuah argumen yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan teologis yang serius.
“Kalau semua orang baik semua sudah kiamat sejak dulu. Nerakanya yang isi siapa? Harus ada keseimbangan.”
Sekilas, kalimat itu seperti sebuah renungan tentang kehidupan. Ada siang dan malam. Ada laki-laki dan perempuan. Ada surga dan neraka. Ada kebaikan dan keburukan.
Tetapi apakah keberadaan keburukan berarti manusia harus ikut memproduksi keburukan?
Di sinilah persoalannya. Islam memang mengajarkan bahwa kehidupan dunia memiliki banyak pasangan dan pertentangan: siang dan malam, mudah dan sulit, sehat dan sakit, kehidupan dan kematian.
Namun, adanya sesuatu dalam ciptaan Allah tidak otomatis berarti manusia diperintahkan untuk memilih atau memproduksinya.
Neraka ada agar manusia menjauhinya, bukan agar manusia merasa perlu mengisinya.
Keseimbangan Bukan Berarti Kemaksiatan Harus Dipelihara
Allah menciptakan manusia dengan kehendak, pilihan, dan tanggung jawab. Karena itu, dunia memang menjadi tempat ujian.
Ada orang yang memilih taat. Ada yang memilih maksiat. Ada yang bertobat setelah jatuh dalam dosa. Ada pula yang terus mempertahankan kesalahannya.
Namun, keberadaan orang yang berbuat dosa bukanlah alasan bagi kita untuk ikut berdosa.
Al-Qur’an justru memberikan arah yang berlawanan. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim: 6)
Perintahnya adalah قُوا أَنْفُسَكُمْ—peliharalah dirimu.
Bukan: carilah orang lain untuk menjadi penghuni neraka.
Bukan pula: pastikan neraka tetap ramai demi menjaga keseimbangan.
Neraka dalam Al-Qur’an justru digambarkan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Karena itu, menjadikan keberadaan neraka sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan yang membawa manusia ke sana adalah pembalikan cara berpikir.
Seperti seseorang berkata, “Kalau tidak ada orang sakit, rumah sakit akan sepi.”
Kalimat itu benar secara fakta, tetapi menjadi keliru jika kemudian digunakan untuk menyimpulkan bahwa manusia perlu memperbanyak orang sakit agar rumah sakit tetap ramai.
Adanya akibat bukanlah perintah untuk menciptakan sebabnya.
Begitu pula keberadaan neraka bukan perintah agar manusia memperbanyak dosa.
Kita Tidak Pernah Tahu Seberapa Berat Neraka
Ada persoalan lain yang sering terjadi ketika manusia berbicara tentang dosa: kita menilai sesuatu berdasarkan kemampuan kita membayangkan akibatnya.
Karena azab neraka tidak terlihat oleh mata, manusia terkadang berbicara tentangnya dengan ringan.
Padahal Rasulullah saw. memberikan gambaran yang membuat kita seharusnya lebih berhati-hati.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda bahwa penghuni neraka dengan azab paling ringan adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bawah telapak kakinya sehingga otaknya mendidih.
Bayangkan. Azab yang disebut paling ringan saja demikian dahsyat. Lalu bagaimana mungkin manusia merasa nyaman menjadikan neraka sebagai bagian dari permainan logika?
Barangkali masalahnya bukan karena manusia tidak tahu bahwa neraka itu ada. Masalahnya adalah hati yang terlalu lama merasa aman dari akibat perbuatannya.
Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa membuat sesuatu yang semestinya menakutkan terasa biasa. Awalnya merasa bersalah. Kemudian terbiasa. Lalu mencari alasan.
Pada tahap tertentu, kesalahan bahkan bisa dibungkus dengan istilah yang terdengar filosofis.
Di sinilah ilmu agama diperlukan. Agar kita tidak sekadar pandai mencari pembenaran, tetapi mampu membedakan antara alasan yang benar dan alasan yang hanya tampak masuk akal.
Rezeki Itu Dicari, tetapi Tidak Semua Jalan Boleh Ditempuh
Menjadi pelaku usaha tentu bukan sesuatu yang tercela. Islam bahkan memberikan penghargaan tinggi kepada orang yang bekerja, berdagang, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya secara halal.
Persoalannya bukan pada usaha mencari rezeki. Persoalannya adalah dari mana rezeki itu diperoleh dan untuk apa usaha tersebut dijalankan.
Dalam Islam, halal dan haram bukan sekadar label. Keduanya menentukan keberkahan kehidupan.
Karena itu, ketika sebuah usaha berhadapan dengan aturan agama maupun aturan hukum yang berlaku, persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan mengatakan, “Ini usaha saya.”
Kepemilikan pribadi memang diakui Islam. Tetapi hak milik bukan kebebasan tanpa batas.
Rumah kita milik kita. Tanah kita milik kita. Modal kita milik kita. Namun, penggunaan semua itu tetap memiliki konsekuensi sosial dan moral.
Dalam fikih terdapat kaidah:
تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berorientasi pada kemaslahatan.”
Artinya, kehidupan sosial tidak dibangun hanya dengan logika kepentingan pribadi. Ada kepentingan masyarakat yang juga harus dipertimbangkan.
Karena itu, apabila suatu usaha melanggar aturan yang berlaku atau menimbulkan mudarat bagi masyarakat, persoalannya tidak lagi semata-mata tentang hak pemilik usaha. Ada tanggung jawab sosial yang ikut berbicara.
Amar Ma’ruf Bukan Sekadar Ceramah
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap masa bodoh terhadap kemungkaran.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya…” (HR Muslim)
Hadis ini juga mengajarkan bahwa menghadapi kemungkaran membutuhkan kemampuan dan kewenangan. Tidak semua orang memiliki posisi yang sama.
Ada yang memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan. Ada yang memiliki kemampuan untuk mengingatkan dengan lisan. Ada pula yang tidak mampu melakukan keduanya sehingga mengingkarinya dalam hati.
Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar bukan tindakan serampangan. Ia membutuhkan ilmu, kewenangan, hikmah, dan pertimbangan kemaslahatan.
Di sinilah masyarakat perlu belajar membedakan antara menegakkan kebaikan dan menghakimi orang lain.
Menolak kemaksiatan bukan berarti membenci pelakunya. Mengkritik sebuah usaha bukan berarti menutup pintu tobat pemiliknya. Bahkan, salah satu bentuk kasih sayang adalah mengingatkan seseorang sebelum ia semakin jauh.
Ada pelajaran yang lebih besar dari sebuah pernyataan viral itu.
Manusia ternyata bisa mencari banyak alasan untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya ingin ia pertahankan.
Ketika hati sudah condong kepada sesuatu, akal kadang bekerja bukan untuk menemukan kebenaran, tetapi untuk mencari pembenaran.
Dosa pun bisa diberi nama baru. Kemaksiatan disebut hiburan. Pelanggaran disebut kebebasan. Keserakahan disebut kebutuhan. Pembangkangan disebut keseimbangan.
Padahal mengganti nama tidak mengubah hakikat. Khamar tetap haram meskipun diberi nama minuman pergaulan. Riba tetap riba meskipun dibungkus istilah yang terdengar modern. Kemaksiatan tetap kemaksiatan meskipun diberi argumentasi yang panjang.
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki kecerdasan berpikir. Ia juga membutuhkan ketundukan kepada kebenaran.
Ilmu membuat kita mampu berpikir. Iman membuat kita tahu ke mana pikiran itu harus diarahkan.
Yang Perlu Dipikirkan Bukan Siapa yang Mengisi Neraka
Pada akhirnya, pertanyaan “Kalau neraka sepi, siapa yang mengisi?” justru mengajak kita mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting.
Kalau kita tahu neraka itu ada, mengapa kita justru sibuk mencari alasan agar orang lain masuk ke sana?
Allah tidak membutuhkan manusia untuk menjaga keseimbangan kerajaan-Nya.
Ketaatan manusia tidak menambah kebesaran-Nya. Kemaksiatan manusia juga tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Manusia sendirilah yang akan menanggung akibat dari pilihannya.
Karena itu, tugas kita bukan memastikan neraka tetap ramai. Tugas kita adalah menyelamatkan diri. Menyelamatkan keluarga. Mengingatkan lingkungan. Dan mencari rezeki melalui pintu yang halal dan baik.
Sebab kehidupan ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membangun pembenaran bagi sesuatu yang kelak justru kita sesali.
Barangkali yang lebih layak kita tanyakan bukan, “Siapa yang mengisi neraka?”
Melainkan: “Sudahkah kita berusaha agar nama kita tidak termasuk di dalamnya?”
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments