Salah satu hal yang paling terasa dalam pelaksanaan ibadah haji adalah ketidakpastian jadwal yang selalu berubah sewaktu-waktu. Situasi itulah yang dialami jamaah KBIHU Jabal Nur Kloter 116 Embarkasi Surabaya saat selesai melaksanakan wukuf di Arafah, Senin malam (26/5/2026).
Awalnya jamaah mendapat informasi bahwa keberangkatan menuju Mina akan dilakukan pukul 23.00 waktu Arab Saudi dengan skema murur atau hanya melintas di Muzdalifah tanpa mabit.
Padahal sebagian besar jamaah berharap bisa melaksanakan mabit atau bermalam di Muzdalifah sebagaimana rangkaian ibadah haji yang selama ini dipahami.
Meski sempat merasa kecewa, jamaah tetap menerima keputusan tersebut dengan lapang dada dan mulai mempersiapkan diri untuk beristirahat.
Namun situasi tiba-tiba berubah.
Saat pelaksanaan salat Maghrib, mendadak muncul pengumuman bahwa jamaah KBIHU Jabal Nur diperbolehkan mabit di Muzdalifah dan diminta segera bersiap untuk diberangkatkan setelah Maghrib.
Rencana salat Maghrib yang semula akan dijamak dengan Isya akhirnya berubah. Jamaah hanya melaksanakan salat Maghrib terlebih dahulu sebelum bergegas menuju titik keberangkatan bus.
“Kabar itu tentu membahagiakan sekaligus mengejutkan karena sebelumnya kami mendapat informasi hanya murur,” ujar salah satu jamaah.
Dapat Kerikil dan Bekal Makanan
Seluruh jamaah kemudian mengantre di halte pemberangkatan menuju Muzdalifah menggunakan bus operator 52.
Walaupun antrean cukup panjang dan padat, seluruh jamaah tetap sabar mengikuti arahan petugas.
Menariknya, sebelum naik bus jamaah terlebih dahulu mendapatkan kotak makanan ringan berisi air minum, kurma, dan snack untuk bekal selama mabit di Muzdalifah.
Selain itu setiap jamaah juga memperoleh satu kantong kerikil yang nantinya digunakan untuk melempar jumrah di Jamarat.
Setelah hampir satu jam mengantre, jamaah akhirnya berhasil naik bus menuju Muzdalifah.
Perjalanan hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit, meskipun beberapa kali bus harus berhenti karena padatnya arus kendaraan jamaah haji yang bergerak menuju lokasi yang sama.
Begitu tiba di Muzdalifah, jamaah melihat pintu bertuliskan angka 52 yang menjadi area khusus operator mereka.
Di lokasi tersebut sudah terbentang karpet-karpet panjang yang bisa digunakan jamaah untuk beristirahat.
Sebagian area berada di bawah tenda, sementara sebagian lain berada di ruang terbuka.
Tidur di Alam Terbuka yang Sangat Berkesan
Penulis memilih berada di dekat toilet perempuan karena mendampingi seorang jamaah lansia kategori risiko tinggi agar lebih mudah mengakses kamar mandi.
Fasilitas di Muzdalifah ternyata cukup baik. Toilet laki-laki dan perempuan dipisahkan secara khusus sehingga jamaah merasa lebih nyaman.
Setelah tiba, jamaah langsung melaksanakan salat Isya karena sebelumnya belum sempat dilakukan.
Suasana Muzdalifah malam itu terasa hangat dan sejuk. Angin bertiup pelan sementara lampu-lampu besar di tiang tinggi menerangi hamparan jamaah yang membentang sangat luas.
Di sepanjang area Muzdalifah tampak ribuan jamaah berbaju ihram putih sedang salat, makan, berdzikir, atau beristirahat di atas karpet.
“Ini pengalaman pertama tidur di alam terbuka bersama jutaan manusia dari berbagai negara,” ungkap salah satu jamaah.
Menjelang pukul dua dini hari sebagian jamaah mulai bangun untuk melaksanakan salat tahajud, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa hingga menjelang Subuh.
Setelah itu jamaah melaksanakan salat Subuh berjamaah sebelum bersiap kembali menuju Mina.
Lautan Jamaah Menuju Mina
Usai Subuh, antrean bus menuju Mina kembali dipadati jamaah. Beruntung tambahan armada dari operator 51 membuat proses pemberangkatan menjadi lebih cepat.
Dalam perjalanan menuju Mina, jamaah melihat banyak karpet dan tenda yang mulai ditinggalkan. Namun di beberapa titik masih tampak ribuan jamaah menunggu bus di area masing-masing.
Mendekati Mina, pemandangan lautan manusia mulai terlihat.
Ratusan ribu jamaah berjalan kaki sambil membawa bendera dan penanda rombongan dari berbagai negara.
Mereka berjalan tertib dalam kelompok besar yang terus menyambung tanpa putus sambil melantunkan talbiyah:
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik.
Jamaah dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Timur Tengah tampak menyatu menuju Mina, sementara sebagian lainnya langsung bergerak menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah Aqabah.
Perjalanan panjang itu menjadi pengalaman spiritual yang sangat membekas bagi jamaah KBIHU Jabal Nur.





0 Tanggapan
Empty Comments