Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Integrasi Sains dan Tauhid dalam Pembelajaran Air 

Iklan Landscape Smamda
Integrasi Sains dan Tauhid dalam Pembelajaran Air 
Oleh : Puput Diana Mariana Nurcahyani & Nurul Hidayati Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Air merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada seluruh makhluk hidup. Dalam perspektif sains, air berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, memenuhi kebutuhan makhluk hidup, serta mendukung berbagai aktivitas manusia.

Menurut Suyadi (2017), pembelajaran sains pada anak usia dini akan lebih bermakna apabila melalui pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar.

Sehingga anak dapat membangun pengetahuannya melalui proses mengamati, mencoba, dan menyimpulkan.

Sementara itu, dalam perspektif tauhid, melihat air sebagai bukti kebesaran Allah SWT dengan bersyukur, memanfaatkan secara bijaksana, dan menjaga kelestariannya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022) juga menegaskan bahwa pembelajaran pada anak usia dini perlu memberikan pengalaman nyata yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Namun, berbagai permasalahan seperti pencemaran air, pemborosan penggunaan air, dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan menunjukkan bahwa masih perlu upaya untuk menanamkan kesadaran menjaga ciptaan Allah sejak usia dini.

Oleh karena itu, perlu analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pembelajaran mengenai air dan lingkungan sebagai bentuk integrasi sains dan tauhid.

Di sebuah lembaga PAUD, guru mengajak anak-anak mengamati sumber air di sekitar sekolah, seperti keran, kolam, dan saluran air.

Selama kegiatan berlangsung, ditemukan bahwa sebagian anak membiarkan keran tetap terbuka setelah digunakan dan ada pula yang membuang sampah ke saluran air.

Guru kemudian mengaitkan kegiatan tersebut dengan konsep sains mengenai pentingnya air bagi kehidupan.

Selain itu juga menanamkan nilai tauhid bahwa air merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus dijaga dan tidak boleh disia-siakan.

Berdasarkan analisis Strength (kekuatan), air merupakan media pembelajaran yang mudah ditemukan sehingga anak dapat belajar secara langsung melalui pengalaman nyata.

Selain itu, pembelajaran tentang air dapat mengintegrasikan konsep sains dengan nilai-nilai keislaman sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna.

Hal ini sejalan dengan pendapat Suyadi (2017) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung mampu meningkatkan rasa ingin tahu serta kemampuan berpikir ilmiah anak usia dini.

Dari aspek Weakness (kelemahan), kesadaran anak terhadap pentingnya menjaga air masih tergolong rendah.

Kemampuan berpikir anak usia dini masih berada pada tahap perkembangan sehingga memerlukan pembiasaan  secara terus-menerus melalui guru maupun orang tua.

Menurut Susanto (2017), pembentukan karakter pada anak usia dini memerlukan keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang mendukung agar nilai-nilai yang diajarkan dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

Pada aspek Opportunity (peluang), guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan berbagai kegiatan pembelajaran berbasis eksplorasi, seperti eksperimen sederhana mengenai benda yang mengapung dan tenggelam, mengenalkan siklus air, maupun praktik menghemat air dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua juga dapat dilibatkan agar pembiasaan menjaga lingkungan dilakukan secara berkelanjutan di rumah.

Hal tersebut sesuai dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022) yang menyatakan bahwa pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka mendorong peserta didik belajar melalui pengalaman nyata, eksplorasi lingkungan, dan kolaborasi dengan keluarga.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, pada aspek Threat (ancaman), kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, melakukan pemborosan penggunaan air, serta kurang menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi contoh negatif yang ditiru oleh anak.

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar anak memperoleh teladan yang baik dalam menjaga lingkungan.

Menurut Susanto (2017), lingkungan yang positif akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter dan perilaku anak.

Penerapan Analisis SWOT dan Kolaborasi Pembelajaran 

Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, pembelajaran mengenai air dan lingkungan memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan kemampuan sains sekaligus menanamkan nilai tauhid pada anak usia dini.

Melalui kegiatan observasi, eksperimen sederhana, dan pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan, anak dapat memahami bahwa air merupakan kebutuhan utama bagi seluruh makhluk hidup.

Dalam perspektif Islam, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 30, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa air merupakan sumber kehidupan yang wajib dijaga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Guru perlu memberikan contoh penggunaan air secara hemat, mengajak anak membuang sampah pada tempatnya, serta membiasakan menutup keran setelah digunakan.

Menurut Suyadi (2017), pemberian contoh secara langsung merupakan salah satu strategi yang efektif dalam membentuk karakter anak usia dini.

Selain itu, Susanto (2017) menjelaskan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan dengan pembentukan sikap akan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak.

Kolaborasi antara sekolah dan keluarga juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter peduli lingkungan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022) menegaskan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran akan memperkuat pembiasaan positif yang telah dilakukan di sekolah sehingga anak mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Air merupakan ciptaan Allah SWT yang memiliki manfaat sangat besar bagi kehidupan.

Pembelajaran mengenai air dan lingkungan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan sains sekaligus menanamkan nilai tauhid pada anak usia dini.

Berdasarkan hasil analisis SWOT, pembelajaran ini memiliki banyak kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan melalui kegiatan eksplorasi langsung.

Namun, masih terdapat kelemahan dan ancaman yang perlu diatasi melalui pembiasaan, keteladanan guru, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua.

Dengan demikian, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai lingkungan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mampu menerapkan perilaku menjaga kelestarian alam dalam kehidupan sehari-hari.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 13/07/2026 15:05
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu