Jepang bukan negara yang biasa kita asosiasikan dengan azan. Bayangan tentang negeri ini biasanya berhenti pada kuil Shinto, biksu Buddha, atau, bagi generasi yang besar dengan anime, konbini yang buka 24 jam dan sekolah dengan seragam sailor. Namun, ada satu narasi yang jarang muncul di permukaan. Populasi Muslim di Jepang berlipat ganda dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan itu terjadi nyaris tanpa suara.
Angka yang Bicara Sendiri
Pada 2010, jumlah Muslim di Jepang tercatat sekitar 110 ribu orang. Sepuluh tahun kemudian, angkanya sudah lebih dari dua kali lipat. Jumlah itu menembus 230 ribu jiwa pada akhir 2019. Beberapa riset terbaru bahkan memperkirakan jumlahnya sudah melewati 250 ribu orang. Pertumbuhan jumlah Muslim juga diikuti oleh peningkatan jumlah masjid.
Pada 1999, Jepang hanya memiliki sekitar 15 masjid. Jumlah itu meningkat menjadi 113 masjid pada awal 2021. Dalam kurang dari 25 tahun, jumlah masjid bertambah lebih dari tujuh kali lipat. Angka-angka ini bukan klaim asal comot. Media internasional paling sering mengutip riset Hirofumi Tanada, profesor emeritus sosiologi dari Waseda University, Tokyo.
Selama dua dekade terakhir, Tanada secara konsisten memetakan populasi Muslim dan sebaran masjid di Jepang. Penelitiannya menjadi salah satu rujukan penting untuk membaca perkembangan Islam di negeri tersebut. Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di negara yang secara statistik nyaris homogen dalam kehidupan beragama. Mayoritas penduduk Jepang menganut Shinto dan Buddha.
Sementara itu, agama-agama minoritas seperti Kristen, Islam, Hindu, dan Baha’i bersama-sama hanya mengisi sebagian kecil populasi. Islam tumbuh di tengah ruang yang relatif sempit itu.
Cinta yang Melintasi Sekat Budaya
Kita mungkin membayangkan penyebaran Islam selalu identik dengan dakwah berskala besar, kampanye keagamaan, atau migrasi massal. Namun, cerita di Jepang justru berjalan dengan logika yang jauh lebih personal.
Menurut Tanada, salah satu faktor pendorong terbesar adalah pernikahan lintas budaya. Warga negara Jepang menikah dengan pasangan Muslim dari luar negeri, kemudian memilih memeluk Islam melalui proses tersebut. Dari total populasi Muslim di Jepang, sekitar 47 ribu orang tercatat sebagai warga negara Jepang atau pemegang status penduduk tetap.
Mereka memperoleh identitas keislamannya melalui pernikahan dan proses sosial lainnya. Jumlah itu meningkat cukup tajam jika dibandingkan dengan estimasi satu dekade sebelumnya. Saat itu, jumlahnya hanya berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu orang.
Namun, ada nuansa penting yang sering luput dari perhatian. Tanada juga mencatat bahwa jumlah orang yang memilih menjadi Muslim atas kemauan sendiri terus bertambah. Mereka tidak semata-mata memeluk Islam karena pernikahan. Artinya, fenomena ini bukan hanya cerita tentang seseorang yang mengikuti agama pasangannya.
Proses tersebut mulai bergeser menjadi pilihan personal yang lebih otonom. Islam kemudian hadir sebagai hasil dari pencarian dan keputusan individu.
Tiga Pintu Masuk Islam ke Jepang Modern
Jika dipetakan, setidaknya ada tiga jalur yang membentuk pertumbuhan Islam di Jepang. Jalur pertama adalah pernikahan dan konversi personal.
Hubungan antarindividu melahirkan proses keislaman tanpa paksaan atau kampanye yang terstruktur. Jalur inilah yang menjadi salah satu faktor dominan dalam pertumbuhan komunitas Muslim Jepang.
Jalur kedua adalah migrasi pekerja dan pelajar asing. Kebijakan Jepang yang semakin terbuka terhadap tenaga kerja dan mahasiswa internasional ikut membawa masuk populasi Muslim.
Mereka datang dari berbagai negara, seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh. Indonesia menjadi salah satu penyumbang populasi Muslim yang cukup besar di Jepang.
Jalur ketiga adalah perkembangan ekonomi wisata halal. Pemerintah Jepang melihat potensi pasar dari lebih dari 1,5 miliar Muslim di dunia.
Jepang kemudian mulai membangun berbagai infrastruktur yang lebih ramah terhadap Muslim. Hotel bersertifikat halal, restoran halal, dan ruang salat di bandara mulai semakin mudah ditemukan.
Langkah ini memang bukan bagian dari dakwah. Namun, logika bisnis tersebut justru ikut mempercepat visibilitas Islam di ruang publik Jepang.
Masjid, Diaspora, dan Tantangan Penerimaan
Salah satu contoh menarik dari fenomena ini adalah Masjid Istiqlal Osaka. Masjid tersebut berdiri di bekas bangunan pabrik di Distrik Nishinari.
Komunitas Indonesia memberikan sebagian besar dana untuk proses renovasinya. Hal itu tidak lepas dari posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Diaspora Indonesia di Jepang juga memiliki jumlah yang cukup signifikan. Kehadiran mereka ikut memperkuat kehidupan sosial dan keagamaan komunitas Muslim di sana.
Kisah tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar statistik. Pertumbuhan Islam di Jepang juga digerakkan oleh solidaritas diaspora, bukan hanya oleh institusi keagamaan formal.
Namun, tumbuh dalam diam bukan berarti tanpa tantangan. Sebagai kelompok minoritas, komunitas Muslim di Jepang masih menghadapi berbagai persoalan nyata.
Keterbatasan akses terhadap makanan halal masih menjadi salah satu persoalan. Pemahaman publik tentang Islam juga belum selalu merata.
Stereotip terkadang muncul akibat pemberitaan global yang tidak selalu adil. Karena itu, pertumbuhan jumlah Muslim tidak otomatis berarti penerimaan sosial berlangsung tanpa hambatan.
Justru di situlah letak menariknya. Kisah Islam di Jepang bukan kisah tentang ekspansi yang gegap gempita.
Kisah ini berbicara tentang hubungan antarmanusia. Pernikahan, persahabatan, dan interaksi lintas budaya perlahan mengubah lanskap keagamaan sebuah negara yang selama ini kita anggap tertutup rapat.
Kadang, perubahan sosial yang paling signifikan tidak datang dari gerakan besar yang berisik. Perubahan justru lahir dari akumulasi keputusan-keputusan kecil dan personal.
Ribuan orang mengambil keputusan itu satu per satu. Mereka melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam perjumpaan, dan dalam hubungan antarmanusia.
Dari keputusan-keputusan kecil itulah, Islam di Jepang terus tumbuh. Tidak selalu terdengar keras, tetapi perlahan menjadi bagian dari lanskap sosial sebuah negeri yang selama ini jarang kita bayangkan akrab dengan suara azan.***





0 Tanggapan
Empty Comments