SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz), Sidoarjo, mendapat peluang untuk memperluas kolaborasi pendidikan internasional setelah sekolah dari Korea Selatan menyatakan ketertarikannya menjajaki program pembelajaran lintas negara.
Penjajakan tersebut dibahas dalam pertemuan daring melalui Zoom pada Senin (19/10/2026). Salah satu agenda yang direncanakan adalah program pertukaran budaya (cultural exchange) pada awal November 2026, yang akan mempertemukan siswa untuk saling mengenal budaya, berbagi pengalaman kehidupan sekolah, dan mengembangkan kemampuan komunikasi lintas negara.
Pihak Korea Selatan yang terlibat dalam penjajakan adalah Bansong and Yeongcheon Elementary School di Hwaseong, serta Daeil Elementary School di Suji-gu, Yongin, Gyeonggi-do, Korea Selatan. Program tersebut diharapkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperluas wawasan global siswa sejak usia sekolah dasar.
Program pertukaran budaya yang direncanakan bukan sekadar pertemuan virtual. Kegiatan ini diarahkan menjadi ruang belajar bersama agar siswa Indonesia dan Korea Selatan dapat saling mengenal, berkomunikasi, serta berbagi pengalaman tentang budaya dan kehidupan sekolah masing-masing.
Melalui interaksi tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang negara lain, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan kemampuan komunikasi dalam lingkungan global.
Belajar Budaya Melalui Platform Digital
Salah satu konsep yang diperkenalkan dalam penjajakan kerja sama tersebut adalah pemanfaatan platform digital Padlet sebagai media interaksi antarsiswa.
Melalui platform ini, siswa dapat memperkenalkan diri dengan mengunggah foto, video, maupun tulisan singkat. Mereka juga berkesempatan berbagi cerita tentang kegiatan sekolah, permainan tradisional, makanan khas, serta kebudayaan yang menjadi identitas negara masing-masing.
Dalam contoh kegiatan yang diperkenalkan pihak sekolah Korea Selatan, siswa dikenalkan pada permainan tradisional Korea, seperti gonggi, takji, dan jegi-chagi.
Permainan tersebut dapat menjadi inspirasi pembelajaran lintas budaya yang menyenangkan. Siswa tidak hanya membaca informasi tentang budaya negara lain, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengenal permainan yang biasa dilakukan teman sebaya mereka di Korea Selatan.
Sebaliknya, siswa SD Mumtaz dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, seperti permainan tradisional, makanan khas daerah, kesenian, maupun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Dengan demikian, pertukaran budaya menjadi pembelajaran dua arah. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pengenal budaya bangsa kepada teman-teman dari negara lain.
Penggunaan media digital juga memungkinkan interaksi berlangsung secara lebih fleksibel. Siswa dapat menyiapkan materi perkenalan, menyampaikan gagasan, dan memberikan tanggapan melalui media yang sesuai dengan usia serta kemampuan mereka.
Daeil Elementary School Buka Peluang Kolaborasi
Ketertarikan untuk membangun hubungan pendidikan juga disampaikan Jenny, perwakilan manajemen Daeil Elementary School.
Ketertarikan tersebut menjadi pintu masuk untuk saling mengenal sistem pembelajaran, lingkungan pendidikan, dan budaya sekolah yang berkembang di Indonesia maupun Korea Selatan.
Jika terealisasi sesuai rencana, program ini dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa kedua negara. Mereka berkesempatan berkomunikasi dengan teman sebaya yang memiliki latar belakang bahasa, kebiasaan, dan lingkungan sosial berbeda.
Bagi siswa sekolah dasar, pengalaman tersebut penting untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian berkomunikasi, serta sikap terbuka terhadap keberagaman.
Penjajakan kolaborasi ini juga memberikan ruang bagi kedua sekolah untuk mengembangkan aktivitas bersama yang kreatif dan interaktif. Bentuk kegiatan dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, kesiapan siswa, serta kesepakatan kedua pihak.
Adapun pelaksanaan program pertukaran budaya tersebut direncanakan berlangsung pada awal November 2026. Rencana ini menjadi langkah awal yang diharapkan dapat berkembang menjadi kolaborasi pembelajaran lintas negara secara berkelanjutan.
Mengasah Bahasa Inggris dan Wawasan Global
Staf Bidang Bahasa dan Internasionalisasi SD Mumtaz, Aliyah Nabilah, S.Pd., menyampaikan bahwa peluang kolaborasi tersebut diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada siswa, terutama dalam mengembangkan kemampuan bahasa asing dan wawasan internasional.
Menurutnya, interaksi dengan siswa dari negara lain dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian menggunakan bahasa Inggris dalam konteks komunikasi yang nyata.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap siswa SD Mumtaz tidak hanya mengenal budaya negara lain melalui buku atau media pembelajaran, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dengan berinteraksi bersama teman-teman dari Korea Selatan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memperluas wawasan global siswa sejak dini,” ujarnya.
Aliyah menjelaskan, pembelajaran lintas negara memiliki potensi untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih kontekstual. Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai materi pelajaran, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, bertanya, memperkenalkan diri, dan memahami orang lain.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada pertemuan daring saja. Harapannya, akan ada berbagai aktivitas kolaboratif yang membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan antusias. Mereka tidak hanya belajar tentang budaya Korea Selatan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada teman-teman dari luar negeri,” jelasnya.
Ia menambahkan, internasionalisasi pendidikan bukan semata-mata tentang mempertemukan siswa dengan komunitas dari negara lain. Lebih dari itu, pengalaman tersebut diharapkan membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi.
“Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring internasional SD Mumtaz. Siswa diharapkan memiliki kompetensi global, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan budaya bangsa,” imbuhnya.
Menumbuhkan Generasi Berkarakter dan Berwawasan Global
Peluang kolaborasi dengan dua sekolah di Korea Selatan tersebut sejalan dengan upaya SD Mumtaz mengembangkan pendidikan berwawasan internasional.
Melalui program internasionalisasi, sekolah berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter Islami, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan keterampilan abad ke-21.
Pertukaran budaya menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan siswa pada keberagaman masyarakat dunia sejak dini. Melalui interaksi yang terarah, siswa dapat belajar bahwa perbedaan bahasa, kebiasaan, dan tradisi bukanlah penghalang untuk membangun persahabatan dan bekerja sama.
Di sisi lain, siswa juga diajak memahami pentingnya mengenal identitas budaya sendiri. Sebelum memperkenalkan Indonesia kepada dunia, mereka perlu memiliki pengetahuan dan kebanggaan terhadap budaya bangsa serta nilai-nilai positif yang tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Bagi SD Mumtaz, peluang kerja sama ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pembelajaran yang lebih terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan karakter yang menjadi fondasi pendidikan.
Dengan semangat World Class Education, SD Mumtaz berharap jejaring pendidikan lintas negara dapat terus berkembang dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
Program yang direncanakan pada awal November 2026 tersebut diharapkan menjadi awal dari perjalanan kolaborasi yang mempertemukan budaya, bahasa, dan persahabatan dalam ruang belajar tanpa batas negara. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments