Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merayakan Maulid, Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW

Iklan Landscape Smamda
Merayakan Maulid, Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW
Oleh : Dr. H. Sukarno, MA, P. Br Dewan Pendekar Pimpinan Pusat Tapak Suci Putra Muhammadiyah, Sekretaris Majelis Guru PWM TSPM Jawa Timur

Setiap kali bulan Rabiul Awal datang, suasana umat Islam terasa berbeda. Masjid dan musala kembali ramai dengan lantunan shalawat. Pengajian digelar, makanan dibagikan, santunan diberikan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, dan berbagai tradisi Maulid hidup di tengah masyarakat.

Ada yang menyelenggarakan tasyakuran, Gerebek Maulud, pembacaan Maulid, hingga kegiatan sosial. Semua itu adalah ekspresi kecintaan umat kepada manusia agung, Nabi Muhammad SAW.

Namun, Maulid semestinya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Jangan sampai kita begitu meriah memperingati kelahiran Nabi, tetapi lupa menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hakikat mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya, melainkan dengan mengikuti jalan hidupnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani. Beliau adalah uswatun hasanah, teladan terbaik dalam kehidupan pribadi sekaligus kehidupan sosial.

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada Rabiul Awal pada Tahun Gajah, sekitar tahun 570/571 Masehi. Beliau kemudian wafat di Madinah pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah dalam usia 63 tahun.

Artinya, umat Islam telah memperingati dan mengenang kelahiran beliau selama lebih dari 1.400 tahun.

Waktu boleh berganti. Generasi terus berubah. Teknologi semakin maju. Cara manusia berkomunikasi pun berubah drastis. Tetapi keteladanan Nabi Muhammad SAW tetap relevan. Bahkan, semakin kompleks kehidupan manusia hari ini, semakin kita membutuhkan akhlak Nabi.

Maulid Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan Maulid Nabi memiliki nilai spiritual dan sosial yang besar. Shalawat menumbuhkan cinta kepada Rasulullah. Pengajian mengingatkan kita pada perjuangan beliau. Berbagi makanan mengajarkan kepedulian. Menyantuni anak yatim menghidupkan kasih sayang.

Tradisi-tradisi tersebut akan menjadi semakin bermakna apabila membawa perubahan dalam perilaku kita. Jangan sampai setelah menghadiri Maulid, kita masih mudah memaki,  Jangan sampai mulut kita fasih bershalawat, tetapi tangan masih suka mencubit.

Mungkin kita sering menangis ketika mendengar kisah perjuangan Nabi, tetapi ironisna, hati kita tetap saja beku terhadap orang miskin dan mereka yang sedang mengalami kesulitan.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Beliau adalah pribadi yang sangat dekat dengan masyarakat kecil. Beliau memuliakan anak-anak, menyayangi orang miskin, menghormati perempuan, memperhatikan tetangga, memuliakan tamu, menjenguk orang sakit, dan membantu mereka yang membutuhkan.

Inilah wajah Islam yang sangat manusiawi.

Iman yang Melahirkan Amal

Allah SWT mengingatkan manusia dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1–3: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Ayat ini memberikan pesan sederhana tetapi sangat mendalam: iman harus melahirkan amal saleh. Keimanan tidak cukup hanya berada di dalam hati. Ia harus terlihat dalam perilaku.

Orang yang beriman tentu menjaga shalatnya, membaca Al-Qur’an, mempercayai perkara gaib, menjalankan ibadah sesuai kemampuannya, dan berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Tetapi kesalehan tidak berhenti pada kesalehan individual. Ada kesalehan sosial yang juga harus diwujudkan. Kesalehan sosial itu tampak ketika kita mau berbagi rezeki dengan orang lain.

Kita bersedekah, berinfak, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, menolong korban musibah, menghormati tetangga, memuliakan tamu, menjaga lisan, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak merendahkan orang lain.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin mudah diwarnai konflik, ujaran kebencian, hoaks, dan saling mencaci di media sosial, akhlak Nabi menjadi sangat penting.

Nabi mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan seseorang bukan hanya diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan yang diduduki, atau seberapa besar pengaruh yang dimilikinya.

Kemuliaan manusia justru tampak dari kemampuannya memberi manfaat dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Dari Shalawat Menuju Perubahan

Kita tentu bersyukur jika Maulid Nabi membuat masjid semakin ramai. Kita juga patut bahagia jika shalawat semakin banyak dilantunkan. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah setelah Maulid?

SMPM 5 Pucang SBY

Apakah kita menjadi lebih sabar? Menjadi lebih jujur? Lebih menghormati orang tua dan tetangga? Lebih ringan membantu orang yang kesulitan? Lebih mampu menjaga lisan dan jari-jari kita dari menyebarkan kebencian di media sosial? Sebaliknya, lebih ramah kepada orang yang berbeda?

Jika jawabannya iya, maka Maulid telah menemukan maknanya.

Maulid yang paling indah bukan hanya Maulid yang paling ramai, tetapi Maulid yang melahirkan manusia yang semakin baik.

Mungkin setelah menghadiri pengajian Maulid, seseorang pulang dan kemudian meminta maaf kepada orang tuanya. Mungkin seseorang tergerak menyisihkan sebagian rezekinya untuk tetangga yang sedang kesulitan.

Mungkin seorang pemuda berhenti menyebarkan berita bohong. Mungkin seorang pejabat menjadi lebih amanah. Mungkin seorang guru menjadi lebih sabar mendidik muridnya.

Perubahan-perubahan kecil semacam itu sesungguhnya merupakan bentuk nyata kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Menjadi Muslim yang Membawa Rahmat

Nabi Muhammad SAW diutus bukan untuk menghadirkan kebencian, melainkan rahmat.

Allah SWT menyebut beliau sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, meneladani Nabi berarti menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan.

Di keluarga, kita menghadirkan kelembutan; di kampus dan sekolah, menghargai ilmu sekaligus menghormati sesama; di tempat kerja, menjalankan amanah secara profesional; di tengah masyarakat, menjadi tetangga yang peduli; dan di ruang digital, menggunakan media sosial dengan santun serta bertanggung jawab.

Ketika menghadapi perbedaan, kita tidak mudah menghina, sementara dalam konflik kita memilih menjadi jembatan. Bahkan ketika melihat orang lain berada dalam kesulitan, kita tidak sekadar berkata “sabar”, tetapi turut membantu mencarikan jalan keluar.

Itulah cara sederhana menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan kita.

Kita tidak mungkin menjadi seperti beliau secara keseluruhan. Tetapi kita dapat meniru satu demi satu akhlaknya: kejujurannya, kesabarannya, kasih sayangnya, keberaniannya, kesederhanaannya, amanahnya, dan kepeduliannya kepada sesama.

Maulid sebagai Momentum Muhasabah

Karena itu, mari menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk melakukan muhasabah. Bukan sekadar bertanya, “Seberapa meriah kita memperingati Maulid?” Tetapi bertanya lebih dalam, “Seberapa jauh akhlak Rasulullah telah hidup dalam diri kita?”

Sebab, ukuran kecintaan kepada Nabi bukan hanya banyaknya shalawat yang kita ucapkan, tetapi juga seberapa jauh kita berusaha mengikuti akhlaknya.

Semoga Maulid tahun ini tidak hanya membuat masjid kita ramai, tetapi juga membuat hati kita hidup. Tidak hanya membuat majelis kita penuh, tetapi juga membuat kepedulian kita tumbuh. Tidak hanya membuat lisan kita bershalawat, tetapi juga membuat tangan kita gemar menolong.

Pada akhirnya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dekat dengan Allah sekaligus dekat dengan manusia.

Mari mencintai Nabi dengan shalawat. Mengenal Nabi melalui sirah dan ajarannya. Utamanya, meneladani Nabi melalui akhlak dan perbuatan kita.

Semoga Allah SWT menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan kemampuan untuk mengikutinya. Semoga Allah menunjukkan kepada kita kebatilan sebagai kebatilan dan memberikan kekuatan untuk menjauhinya.

Allahumma shalli ‘ala Habibina wa Syafi’ina Muhammad

Semoga cinta kita kepada Rasulullah SAW tidak berhenti di bibir, tetapi tumbuh menjadi akhlak; tidak berhenti dalam perayaan, tetapi menjelma menjadi kepedulian; dan tidak berhenti pada Rabiul Awal, tetapi terus hidup sepanjang perjalanan kehidupan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/08/2026 07:33
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu