Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sifat Rasulullah dan Prinsip 3T Jadi Fondasi Pelajar Muhammadiyah Tangguh

Iklan Landscape Smamda
Sifat Rasulullah dan Prinsip 3T Jadi Fondasi Pelajar Muhammadiyah Tangguh
Ustaz Amang Mu'azam menyampaikan tausiyah dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 11 Surabaya. Foto: Fikri/PWMU.CO

Pendidikan karakter pelajar tidak cukup dibangun melalui capaian akademik. Kejujuran, tanggung jawab, kecerdasan, kemampuan menyampaikan kebenaran, serta kedisiplinan dalam beribadah dan belajar menjadi fondasi penting agar pelajar mampu menghadapi perubahan zaman.

Pesan tersebut mengemuka dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar SMP Muhammadiyah 11 Surabaya di Masjid Al-Azhar, Jalan Dupak Bandarejo No. 25, Surabaya, Senin (24/8/2026).

Kajian yang diikuti guru, karyawan, dan seluruh siswa itu menempatkan keteladanan Rasulullah sebagai basis pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah.

Mubaligh Muhammadiyah Ustaz Amang Mu’azam, S.Ag, M.Pd.I, menekankan bahwa Rasulullah bukan hanya figur untuk dikenang dalam peringatan Maulid, tetapi teladan yang nilai-nilainya perlu diterjemahkan dalam kehidupan pelajar sehari-hari.

Dia merujuk Surat Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan Rasulullah sebagai uswatun hasanah, atau teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.

“Pelajar Muhammadiyah harus menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Keteladanan itu tidak berhenti pada ucapan, tetapi harus terlihat dalam sikap, cara belajar, cara berorganisasi, dan cara menyelesaikan persoalan,” ujar Amang.

Menurut dia, sedikitnya ada empat karakter Rasulullah yang relevan untuk membentuk pelajar tangguh, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Siddiq berarti membangun kejujuran sebagai karakter dasar. Kejujuran, kata dia, harus menjadi bagian dari perilaku pelajar, termasuk dalam proses belajar, mengerjakan tugas, menjalankan amanah, dan berinteraksi dengan orang lain.

“Karakter kedua adalah amanah, yakni kemampuan menjaga kepercayaan dan menjalankan tanggung jawab. Pelajar tidak cukup memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus dapat dipercaya ketika diberi tugas maupun tanggung jawab,” terang Ustaz Amang.

Selanjutnya tabligh, yaitu keberanian menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui semangat amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun fathanah bermakna kecerdasan. Namun, kecerdasan yang dimaksud bukan sekadar kemampuan memperoleh nilai tinggi, melainkan kemampuan membaca persoalan dan menemukan solusi.

Ustaz Amang mencontohkan peristiwa peletakan Hajar Aswad yang memperlihatkan kecerdasan Rasulullah dalam menyelesaikan persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik antarkabilah.

“Jadilah orang yang menyelesaikan masalah, bukan menjadi sumber masalah. Itulah salah satu bentuk fathanah yang perlu dimiliki pelajar,” tegasnya.

3T sebagai Kebiasaan Pelajar

Empat sifat Rasulullah tersebut kemudian perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan konkret. Untuk itu, Amang memperkenalkan prinsip 3T yang dapat menjadi kerangka pembentukan disiplin pelajar Muhammadiyah, yakni tertib ibadah, tertib belajar, dan tertib organisasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Tertib ibadah berarti membangun kedisiplinan menjalankan salat lima waktu serta membiasakan membaca Al-Qur’an. Bagi pelajar, pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan spiritual yang dilakukan secara konsisten.

Kedua, tertib belajar. Pelajar didorong menjadikan ilmu sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari dengan memaksimalkan buku, pena, serta berbagai sarana pembelajaran. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Nun wal-qalami wa ma yasthurun tentang pentingnya pena dan aktivitas menulis.

Ketiga, tertib organisasi. Keterlibatan dalam organisasi, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dinilai menjadi ruang penting bagi pelajar untuk belajar memimpin, dipimpin, mengambil keputusan, bekerja sama, sekaligus memahami kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, organisasi tidak semata menjadi aktivitas tambahan di sekolah. Organisasi dapat menjadi laboratorium kepemimpinan yang mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman nyata.

Kepala SMP Muhammadiyah 11 Surabaya, Lanang Santoso, S.Pd mengatakan, keteladanan Rasulullah perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Ia mendorong siswa untuk tidak merasa harus menjalankan seluruh amalan sunnah sekaligus, tetapi memulainya dari kebiasaan yang mampu dilakukan secara konsisten, termasuk puasa Senin-Kamis.

“Meskipun kita tidak bisa melaksanakan semua sunnah Nabi secara sekaligus, kita harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Semoga kajian ini menjadi petunjuk dan pelajaran berharga bagi kita semua,” ujar guru Matematika tersebut.

Pesan itu menjadi relevan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Amang mendorong siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk melahirkan gagasan dan inovasi.

Menurut dia, kemampuan beradaptasi dengan teknologi merupakan salah satu bentuk aktualisasi fathanah.

“Kecerdasan harus menghasilkan kemampuan menciptakan solusi dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” tegasnya.

Dengan pendekatan tersebut, keteladanan Rasulullah ditempatkan bukan sekadar sebagai materi keagamaan, melainkan sebagai fondasi pembentukan karakter pelajar.

Kejujuran, amanah, keberanian menyampaikan kebenaran, kecerdasan, kedisiplinan ibadah, budaya belajar, dan pengalaman berorganisasi diharapkan menjadi bekal bagi siswa menghadapi tantangan masa depan.

Pelajar tangguh, dengan demikian, bukan hanya mereka yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, mampu mengendalikan diri, menyelesaikan persoalan, dan memberi manfaat bagi masyarakat. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 24/08/2026 13:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu