SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) menggelar Kajian Maulid dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Kegiatan berlangsung di Masjid Taqwa Perguruan Muhammadiyah Cabang Gresik, Senin (24/8/2026).
Kajian diisi oleh Arjad, S.Sos. dengan mengangkat pesan penting tentang bagaimana menjadikan Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya membahas sejarah dan kemuliaan Rasulullah, kajian tersebut menekankan akhlak sederhana yang dapat dipraktikkan para pelajar di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Arjad mengawali kajian dengan menjelaskan besarnya pengaruh Nabi Muhammad saw. dalam sejarah peradaban dunia. Ia menyebut buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael H. Hart, seorang peneliti asal Amerika Serikat. Dalam buku tersebut, Nabi Muhammad saw. ditempatkan sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.
“Menariknya, penulis buku tersebut bukan seorang Muslim. Namun, Nabi Muhammad ditempatkan pada urutan pertama sebagai tokoh yang paling berpengaruh. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Rasulullah terhadap perubahan kehidupan manusia,” jelasnya.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah tidak harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Justru, akhlak mulia dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Salah satunya adalah menghargai makanan dan tidak mencelanya. Ustadz Arjad mengingatkan para siswa agar tidak membuang atau mencela makanan hanya karena lauk yang disajikan tidak sesuai selera.
“Kalau makanan atau lauk yang disiapkan tidak cocok dengan selera kita, jangan dicela dan jangan langsung dibuang. Hargai makanan yang sudah disiapkan ibu di rumah. Di balik makanan itu ada perjuangan ayah yang mencari nafkah dan ada ibu yang memasaknya. Maka, hargai dan syukuri,” pesannya.
Ia menjelaskan, kebiasaan menghargai makanan merupakan bagian dari akhlak yang perlu dibangun sejak dini. Dengan bersyukur terhadap makanan, siswa juga belajar menghargai perjuangan orang tua.
Senyum, Salam, dan Sapa
Keteladanan berikutnya adalah membiasakan senyum, salam, dan sapa. Rasulullah saw. dikenal sebagai pribadi yang ramah dan senantiasa menunjukkan wajah yang menyenangkan kepada orang lain, termasuk kepada anak-anak.
“Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk selalu tersenyum, bahkan ketika bertemu dengan anak-anak kecil. Karena itu, mari budayakan senyum, salam, dan sapa. Senyum adalah bentuk sederhana dari kebaikan yang bisa kita berikan kepada orang lain,” tuturnya.
Ustadz Arjad kemudian mengajak siswa memperhatikan adab ketika berbicara dengan orang lain. Ketika seseorang sedang berbicara, hendaknya didengarkan dengan baik dan tidak dipotong.
“Kalau ada orang berbicara kepada kita, hargai orang tersebut. Jangan memotong pembicaraan. Perhatikan dan dengarkan sampai selesai. Itu adalah adab,” katanya.
Menurutnya, kemampuan mendengarkan menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada orang lain. Kebiasaan tersebut penting dimiliki para pelajar agar mampu membangun komunikasi yang baik dengan teman, guru, maupun orang tua.
Selain itu, para siswa juga diajak untuk mandiri dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Hal-hal sederhana seperti mencuci piring setelah makan, mencuci pakaian, atau membantu pekerjaan rumah merupakan bentuk latihan tanggung jawab.
Tanggung Jawa Membantu Keluarga
Ia mencontohkan kehidupan Rasulullah saw. yang juga membantu pekerjaan rumah tangga. Karena itu, menjadi seorang pelajar bukan berarti hanya fokus pada kegiatan sekolah, tetapi juga memiliki tanggung jawab membantu keluarga di rumah.
“Jangan merasa pekerjaan rumah adalah tugas orang tua. Biasakan mandiri. Cuci piring sendiri, cuci baju sendiri, dan bantu pekerjaan di rumah. Rasulullah juga memberikan teladan dengan membantu pekerjaan rumah,” ungkapnya.
Pesan terakhir yang ditekankan adalah pentingnya menjaga lisan dan tangan agar tidak menyakiti orang lain. Menurutnya, prinsip tersebut semakin relevan pada era digital.
Jika pada masa lalu lisan menjadi salah satu sarana utama untuk menyakiti orang lain, saat ini bentuknya dapat berubah menjadi tulisan dan ketikan di media sosial.
“Lisan pada zaman sekarang tidak hanya berarti apa yang keluar dari mulut. Ketikan di media sosial juga bisa menjadi ‘lisan’. Jangan sampai jari kita mengetik sesuatu yang menyakiti orang lain,” tegasnya.
Ia mengingatkan siswa agar berhati-hati ketika berkomentar, membuat unggahan, maupun membagikan informasi di media sosial. Sebelum mengetik sesuatu, siswa perlu mempertimbangkan apakah tulisan tersebut bermanfaat atau justru dapat menyakiti orang lain.
Kajian Maulid tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar Spemutu untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah saw., tetapi juga menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan mampu menerapkan keteladanan Rasulullah mulai dari hal-hal sederhana: menghargai makanan, bersyukur, tersenyum, membiasakan salam dan sapa, menghormati orang yang berbicara, mandiri membantu pekerjaan rumah, serta menjaga lisan dan jari dari perkataan maupun tulisan yang menyakiti sesama.
Dengan demikian, semangat Maulid Nabi tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang membentuk karakter pelajar Muhammadiyah yang berakhlak mulia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments