Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerah (KKN Pencerahan) 22 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mendampingi kelompok peternak sapi perah di Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, membuat pakan pelet berbahan baku lokal.
Pelatihan tersebut berlangsung di kediaman Kepala Desa Gendro, Suwaji, di Dusun Tuban, Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk mengenalkan pemanfaatan bahan baku yang tersedia di sekitar desa sebagai alternatif pakan ternak sekaligus mendorong kemandirian peternak.
Ketua KKN Pencerahan 22 Umsida, Aldo Mahendra, mengatakan program tersebut disusun berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan peternak di Desa Gendro. Menurutnya, desa memiliki sejumlah bahan baku yang berpotensi dimanfaatkan untuk pakan, tetapi penggunaannya belum optimal.
“Kami melihat potensi bahan baku lokal di Desa Gendro sangat melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal untuk pakan ternak,” ungkap Aldo.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut diharapkan dapat membantu peternak memahami proses pembuatan pakan pelet sekaligus mengolah bahan yang tersedia secara lebih mandiri.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap para peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pakan pabrikan yang harganya terus meningkat, melainkan mampu mandiri secara ekonomi dan produksi,” lanjut Aldo.
Peternak Belajar Formulasi Pakan
Pelatihan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Pencerahan 22 Umsida, Prof. Dr. Hana Catur Wahyuni, S.T., M.T., IPM., serta menghadirkan drh. Emy Kustanti sebagai narasumber teknis.
Dalam pemaparannya, Emy menjelaskan sejumlah hal terkait formulasi pakan, kriteria bahan baku lokal, serta pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi dalam pembuatan pakan pelet untuk sapi perah.
Menurut Emy, bahan baku lokal memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari pakan ternak apabila diolah dengan komposisi yang sesuai kebutuhan nutrisi sapi.
“Bahan baku lokal sebenarnya sangat potensial,” ujar Emy.
Ia menambahkan, pemanfaatan bahan lokal berpotensi membantu menekan biaya pembelian pakan komersial. Namun, komposisi dan kualitas bahan tetap perlu diperhatikan agar kebutuhan nutrisi ternak terpenuhi.
Selain formulasi, Emy juga menjelaskan kepraktisan pakan dalam bentuk pelet. Bentuk tersebut memudahkan proses penyimpanan dan pemberian pakan kepada ternak.

Praktik Membuat Pelet
Setelah mendapatkan materi, para peternak mengikuti praktik pembuatan pelet secara langsung. Tahapan dimulai dari penakaran komposisi bahan, pencampuran, penggilingan, hingga pencetakan menggunakan alat yang telah disiapkan.
Praktik tersebut memberikan kesempatan kepada peternak untuk memahami setiap tahapan pengolahan bahan baku hingga menjadi pakan dalam bentuk pelet.
Kepala Desa Gendro sekaligus perwakilan kelompok peternak, Suwaji, menyambut positif pelatihan yang diberikan mahasiswa KKN Pencerahan 22 Umsida. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka pengetahuan baru mengenai pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Kami sangat terbantu. Ternyata bahan baku di sekitar lingkungan kita bisa diolah jadi pelet. Selain lebih hemat, pakan ini sangat bagus untuk sapi perah agar hasil produksinya semakin optimal,” ungkapnya.
Suwaji berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut dapat diterapkan oleh para peternak dalam pengelolaan pakan sehari-hari.
Dorong Kemandirian Peternak
DPL KKN Pencerahan 22 Umsida, Prof. Hana Catur Wahyuni, mengatakan pelatihan pembuatan pakan pelet merupakan bagian dari pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat.
“Pelatihan ini bukan sekadar agenda seremonial KKN, melainkan langkah awal pembentukan kemandirian masyarakat,” tutur Prof. Hana.
Ia berharap keterampilan yang telah diberikan tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Menurutnya, peternak dapat terus mengembangkan kemampuan tersebut dengan menyesuaikan formulasi pakan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Desa Gendro.
Ke depan, program tersebut diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pakan anggota kelompok peternak, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi unit usaha pakan ternak berbasis kelompok di Desa Gendro.
Dengan demikian, pelatihan pembuatan pelet tidak hanya menjadi kegiatan transfer pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi langkah awal bagi penguatan kemandirian peternak dalam mengelola kebutuhan pakan secara berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments