Malam di TK ABA VI Kota Probolinggo terasa berbeda, Sabtu (19/9/2026). Setelah mengikuti materi tentang kreativitas di era digital, peserta Baitul Arqam Camp Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Probolinggo langsung mempraktikkan kreativitas melalui pentas seni dan teater.
Materi bertajuk “Menggali Potensi Seni dan Kreativitas Guru di Era Digital” disampaikan Moch. Abduh Ad Dai Ilal Haq, S.H. Kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi bagi guru PAUD Aisyiyah yang selama dua hari mengikuti proses kaderisasi.
Kreativitas Guru di Era Digital
Dalam materinya, Moch. Abduh menjelaskan bahwa kreativitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan berbagai gagasan alternatif, menciptakan sesuatu yang unik, serta menghubungkan berbagai hal menjadi sesuatu yang baru.
Ia juga mengajak peserta memahami perbedaan kreativitas, invensi, dan inovasi. Menurutnya, pemahaman tersebut penting bagi guru agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Guru PAUD, lanjutnya, perlu menghadirkan pembelajaran yang menarik dan sesuai karakteristik anak. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain loose parts, digital storytelling, gamifikasi, serta pengembangan lingkungan kelas.
“Kreativitas guru adalah kunci memantik imajinasi emas anak bangsa,” pesannya.
Lima Kelompok Naik Panggung
Setelah materi, peserta langsung mempraktikkan kreativitas melalui pentas seni dan teater. Sebelumnya, panitia telah membagi peserta menjadi lima kelompok dan memberikan tugas untuk menyiapkan penampilan.
Setiap kelompok mendapat waktu untuk menyiapkan konsep, cerita, properti, kostum, serta pembagian peran. Hasilnya, lima kelompok tampil dengan karakter masing-masing.
Ada kelompok yang memanfaatkan berbagai properti, mengolah karakter, membangun suasana, hingga menampilkan kekompakan antarpemain. Penampilan mereka juga menghadirkan kelucuan yang mengundang gelak tawa sekaligus pesan yang membuat peserta lainnya menyimak hingga akhir.
Kreativitas peserta tidak hanya terlihat di atas panggung. Sejak awal kegiatan, setiap kelompok juga dituntut menyiapkan perlengkapan, menata tenda, menjaga kebersihan, serta bekerja sama menyelesaikan berbagai kebutuhan kelompok.
Usai penampilan, Moch. Abduh memberikan evaluasi, refleksi, dan apresiasi. Ia mengaku salut melihat kreativitas serta kekompakan peserta yang terdiri dari guru TK, Kelompok Bermain, dan TPA Aisyiyah.
Bagi peserta, pentas seni bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk belajar bekerja sama, berani tampil, mengembangkan gagasan, dan mewujudkannya dalam bentuk karya.
Pengalaman itu diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah. Guru yang berani mencoba dan berkreasi diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik sekaligus memantik rasa ingin tahu dan imajinasi anak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments