Kesulitan menulis pada anak disleksia tidak semestinya dipandang sebagai ketidakmampuan belajar. Tantangannya justru terletak pada bagaimana sekolah menemukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Persoalan itulah yang coba dijawab Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) “Sahabat Disleksia” Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui program Fun Motion di SDN Nayu Barat 1 Surakarta.
Program ini mengubah latihan menulis yang selama ini identik dengan pensil, buku, dan pengulangan menjadi pengalaman belajar yang melibatkan sentuhan, gerakan, penglihatan, dan permainan. Pasir, plastisin, serta buku berwarna digunakan sebagai media untuk membantu siswa mengenali bentuk huruf sekaligus melatih motorik halus.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena bagi sebagian siswa disleksia, persoalan menulis bukan sekadar soal mengingat bentuk huruf. Mereka juga membutuhkan latihan koordinasi tangan, mata, dan otak secara bertahap agar mampu membentuk serta menuliskan huruf dengan lebih percaya diri.
“Pendekatan multisensori ini membuat siswa tidak hanya melihat bentuk huruf, tetapi juga merasakan dan membentuknya secara langsung. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan sesuai dengan cara belajar anak-anak disleksia,” kata Ketua Tim PKM-PM Sahabat Disleksia UMS, Ela Fitriana, Ahad (23/8/2026).
Salah satu tahapan Fun Motion adalah Fine Motion, yang dilaksanakan pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini dirancang untuk melatih kemampuan motorik halus siswa melalui aktivitas yang sederhana, tetapi melibatkan pengalaman sensorik secara langsung.
Siswa diperkenalkan pada bentuk huruf melalui gambar, kemudian berlatih membuat atau mengikuti bentuk tersebut menggunakan pasir dan plastisin yang ditempatkan dalam kotak.
Bagi siswa kelas IV hingga VI, media yang digunakan berupa gambar huruf dan pasir. Sementara siswa kelas I hingga III menggunakan plastisin untuk membentuk huruf.
Perbedaan media tersebut bukan sekadar variasi permainan. Tim menyesuaikannya dengan jenjang perkembangan motorik siswa sehingga latihan dapat diberikan secara bertahap.
Menyentuh pasir, menggerakkan jari mengikuti pola, hingga membentuk plastisin menjadi huruf membuat siswa mendapatkan pengalaman yang lebih konkret. Mereka tidak hanya diminta menghafal bentuk huruf, tetapi berinteraksi langsung dengan bentuk tersebut.
“Aktivitas ini bertujuan membantu siswa disleksia melatih menulis huruf dengan menggunakan media gambar huruf, pasir, dan plastisin,” ujar Ela.
Bagi siswa, metode tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Michelle, salah seorang peserta, mengaku lebih mudah memahami bentuk huruf ketika belajar dilakukan sambil bermain.
“Seru banget bikin huruf pakai pasir sama plastisin. Aku jadi lebih gampang bikin hurufnya. Ternyata belajar nulis sambil main itu asyik, nggak bikin bosan,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan satu hal penting: pembelajaran untuk anak disleksia tidak cukup hanya dibuat lebih mudah, tetapi juga perlu dibuat lebih sesuai dengan cara mereka menerima informasi.
Dari Bermain Menuju Menulis Mandiri
Fun Motion tidak berhenti pada aktivitas membentuk huruf. Setelah Fine Motion, siswa mengikuti tahapan Rainbow Book pada Jumat (23/7/2026).
Rainbow Book dirancang sebagai jembatan dari aktivitas motorik menuju keterampilan menulis. Buku berwarna dengan gambar dan pola digunakan untuk melatih gerakan tangan siswa secara bertahap.
Latihan dimulai dari menggambar atau menebalkan garis lurus, mengikuti garis yang tidak beraturan, menebalkan pola huruf, hingga mencoba menulis secara mandiri.
“Melalui Rainbow Book, siswa diajarkan menggambar garis lurus, mengikuti garis yang berbentuk tidak rata, sampai akhirnya mampu menulis sendiri dengan bantuan petunjuk dari orang yang membimbingnya,” terang Ela.
Tahapan tersebut membuat proses belajar tidak langsung menuntut siswa menghasilkan tulisan sempurna. Anak diberi ruang untuk membangun kemampuan sedikit demi sedikit.
Pada tahap awal, pendamping memberikan bantuan. Berikutnya, bantuan dikurangi ketika koordinasi tangan dan mata siswa mulai berkembang. Dengan cara itu, latihan tidak hanya diarahkan pada kemampuan menulis, tetapi juga pada tumbuhnya rasa percaya diri.
Guru SDN Nayu Barat 1 Surakarta, Bhian, melihat pendekatan tersebut memberikan suasana belajar yang berbeda bagi siswa.
“Rainbow Book cukup membantu anak-anak dalam latihan menulis. Anak-anak juga kelihatan lebih semangat karena bukunya warna-warni dan ada gambarnya. Latihannya dilakukan pelan-pelan, dari menebalkan garis sampai mencoba menulis sendiri, jadi anak lebih mudah mengikuti,” ujarnya.
Pendidikan Inklusif Dimulai dari Cara Mengajar
Program Fun Motion memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif bukan semata-mata soal menerima siswa dengan kebutuhan belajar yang berbeda di dalam kelas. Lebih jauh, inklusi menuntut perubahan cara sekolah dan pendidik dalam merancang pengalaman belajar.
Anak disleksia tidak seharusnya terus-menerus ditempatkan pada ukuran keberhasilan yang sama tanpa mempertimbangkan proses belajar yang mereka butuhkan.
Dalam konteks itu, pasir, plastisin, dan buku warna-warni bukan sekadar alat permainan. Media tersebut menjadi instrumen untuk membangun pengalaman belajar yang lebih konkret, melatih motorik halus, serta membantu siswa memahami huruf melalui lebih dari satu indera.
Program ini dilaksanakan oleh lima mahasiswa UMS, yakni Ela Fitriana dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai ketua, Puput Rahmawati dari Program Studi Psikologi, Inggar Widya F. dari PGSD, serta Shandy Yusril F. dan Aisyah Aditay W. dari Pendidikan Teknik Informatika. Tim mendapat pendampingan dari Ika Candra Sayekti, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD UMS.
Melalui Fun Motion, tim PKM-PM “Sahabat Disleksia” berharap sekolah memiliki alternatif pembelajaran yang lebih ramah terhadap siswa dengan kesulitan belajar spesifik.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya diukur dari seberapa cepat seorang anak mampu menulis. Yang tidak kalah penting adalah apakah anak merasa mampu, diterima, dan memiliki kesempatan untuk belajar dengan caranya sendiri.
Fun Motion mencoba memulai perubahan itu dari sesuatu yang sederhana: membiarkan anak mengenal huruf bukan hanya dengan melihat dan menulis, tetapi juga dengan menyentuh, membentuk, bergerak, dan bermain. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments