Selawat kepada Nabi Muhammad saw tidak semestinya hanya menjadi ucapan yang hadir dalam pengajian atau momentum keagamaan. Selawat perlu dihidupkan sebagai amalan harian, termasuk pada waktu sepertiga malam ketika seorang Muslim berusaha mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan itu disampaikan Dr. KH. Sam’un, M.Ag. dalam Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Wage, Taman, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026). Kajian yang berlangsung selepas salat Subuh pukul 04.30–05.45 WIB itu membahas Ucapan Selawat dan Salam Buat Rasulullah SAW dari Kitab Fiqih Sunnah Jilid 4 karya Sayyid Sabiq, halaman 347–348, Hadis Nomor 426–427.
Sebanyak 130 jamaah mengikuti kajian rutin tersebut. Kajian juga disiarkan melalui kanal YouTube PRM Wage.
Dalam kajiannya, Dr. KH. Sam’un mengaitkan pembahasan selawat dengan Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menjadi salah satu landasan dalam pembahasan tentang selawat dan salam kepada Rasulullah SAW.
Dia mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbanyak selawat dalam kehidupan sehari-hari.
“Perbanyaklah membaca selawat agar hidupmu terbebas dari kesusahan dan diampuni oleh Allah dosa-dosamu,” katanya.
Menurut dia, selawat tidak seharusnya berhenti pada kebiasaan yang dilakukan ketika mengikuti pengajian.
Amalan tersebut perlu menjadi bagian dari keseharian seorang Muslim sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan itu kemudian diperluas dengan ajakan menghidupkan sepertiga malam. Menurut KH. Sam’un, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak zikir dan selawat.
“Upayakan bangun di sepertiga malam untuk berzikir kepada Allah dan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya agar mendapatkan pahala yang penuh,” terangnya.
Ajakan tersebut menempatkan sepertiga malam bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun kedekatan spiritual melalui zikir dan selawat.
Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Wage pun tidak sekadar mengajak jamaah memahami pembahasan kitab dan hadis. Pesan yang ditekankan adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh di masjid dibawa ke dalam kebiasaan sehari-hari.
Antusiasme 130 jamaah yang hadir menunjukkan keberlangsungan tradisi belajar agama di tengah masyarakat. Dari kajian itu, jamaah diajak membawa satu kebiasaan sederhana: memperbanyak selawat dalam keseharian dan menghidupkan zikir pada sepertiga malam. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments