Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Abdul Mu’ti: Maksimalkan Akal dan Qalbu, Jangan Diperbudak AI

Iklan Landscape Smamda
Prof Abdul Mu’ti: Maksimalkan Akal dan Qalbu, Jangan Diperbudak AI
Prof Abdul Mu’ti: Maksimalkan Akal dan Qalbu, Jangan Diperbudak AI. Foto: Khoen Eka/PWMU.CO
Oleh : Khoen Eka

Kajian Tabligh Akbar Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu di Masjid At-Taqwa, Ahad (20/9/2026), menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., sebagai pemateri.

Kajian ini diikuti pelajar, santri, guru, organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, jajaran Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA), Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), PDM, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), serta jamaah Masjid At-Taqwa.

Dalam kajiannya, Abdul Mu’ti mengajak jamaah memahami posisi manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, AI merupakan hasil ciptaan manusia yang memiliki kemampuan mengolah informasi. Sementara manusia merupakan ciptaan Allah Swt. yang dibekali keistimewaan berupa akal dan qalbu.

“AI itu buatan manusia. Cerdas, tetapi secerdas apa pun, AI tetap buatan manusia. Sementara itu, manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna,” jelasnya.

Ia menerangkan, otak manusia memiliki berbagai bagian dengan fungsi yang menyerupai sistem komputer, seperti menangkap, menyimpan, dan menggunakan informasi. Namun, manusia tidak hanya dibekali otak, tetapi juga akal yang memungkinkan seseorang berpikir, mempelajari, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Mengutip perspektif neurosains, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa berbagai informasi dapat direkam oleh otak. Namun, kemampuan manusia dalam mengolah informasi tersebut berkaitan dengan peran akal. Ia kemudian mengaitkan keberadaan akal dengan qalbu atau hati.

Menurutnya, Al-Qur’an mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan hati, yaitu qalbun, fuad, sadr, dan lub. Qalbun berkaitan dengan sesuatu yang berbolak-balik. Fuad berhubungan dengan tempat menyimpan sesuatu secara kuat. Sementara sadr berkaitan dengan cara seseorang menyikapi sesuatu.

Adapun lub, lanjutnya, berkaitan dengan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.

“Dengan lub, manusia bisa berpikir dan berzikir. Makanya ada istilah lubuk hati yang terdalam,” tuturnya.

Abdul Mu’ti menegaskan, AI bekerja dengan meniru pola pengolahan informasi manusia. Teknologi tersebut mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk internet, untuk kemudian digunakan dalam menjawab pertanyaan.

Namun, informasi yang tersedia belum tentu benar. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menggunakan sumber informasi yang valid, termasuk ensiklopedia, serta tetap mengandalkan akal yang dibimbing wahyu Allah Swt.

Tiga Persoalan di Era AI

Abdul Mu’ti menyampaikan, pemanfaatan AI dan teknologi digital secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah persoalan. Ia menyebut tiga hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, waktu yang banyak tersita untuk aktivitas digital. Ia mengungkapkan, hasil survei yang disampaikannya menunjukkan penggunaan internet untuk mencari informasi mencapai sekitar 7,5 jam. Aktivitas tersebut kerap dilanjutkan dengan percakapan melalui berbagai platform digital.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan upaya membangun kesalehan digital agar teknologi tidak justru menjadi sumber perilaku yang keliru.

Kedua, manusia tidak boleh membiarkan dirinya diperalat teknologi. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sebaliknya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga, manusia harus memaksimalkan fungsi akal dan qalbu, bukan sekadar mengandalkan kecerdasan buatan.

“Dalam banyak hal, kita harus bisa berkata tidak, terutama ketika ada ajakan yang salah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang mukmin yang sukses adalah mereka yang meninggalkan perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Sementara itu, salah satu ciri hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah tidak larut dalam hal-hal yang merusak.

Abdul Mu’ti mengajak jamaah menjadi pribadi yang kritis dalam menerima informasi. Setiap informasi perlu dicermati dan dipertimbangkan kebenarannya sebelum diikuti.

Menurutnya, sikap tersebut merupakan bagian dari karakter ulul albab, yakni orang-orang yang menggunakan akal untuk berpikir dan mengambil pelajaran.

Pembatasan Penggunaan Gawai dan Pembelajaran Mendalam

Dalam bidang pendidikan, Abdul Mu’ti menyinggung pentingnya pembatasan penggunaan gawai, khususnya bagi anak-anak.

Ia menyampaikan kebijakan pembatasan kepemilikan akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun serta perlunya pengaturan penggunaan telepon seluler di lingkungan sekolah.

“Untuk kegiatan belajar, HP harus disimpan di loker sekolah. Dengan demikian, penggunaan HP bisa dibatasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa proses pembelajaran perlu mengutamakan interaksi langsung atau pembelajaran luring. Penggunaan gawai secara berlebihan, menurutnya, dapat berkontribusi terhadap learning loss, yaitu kondisi ketika peserta didik mengikuti pembelajaran, tetapi tidak memperoleh pemahaman yang optimal.

Sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan tersebut, ia menjelaskan gagasan pembelajaran mendalam atau deep learning. Pembelajaran ini tidak berorientasi pada banyaknya materi yang disampaikan, tetapi pada pemahaman yang lebih mendalam.

Abdul Mu’ti juga mengajak orang tua dan pendidik membiasakan anak-anak untuk berkonsentrasi, berpikir mandiri, serta berani menolak ajakan yang tidak baik.

Menutup kajiannya, Abdul Mu’ti mengimbau para orang tua agar mendampingi anak-anak dengan baik dalam menghadapi perkembangan teknologi.

“Jangan sampai anak-anak kita dijajah oleh teknologi,” pesannya. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 20/09/2026 08:20
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu