Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Setiap Nikmat Punya Tanggung Jawab, Kajian di Masjid Al Ikrom Wage

Iklan Landscape Smamda
Setiap Nikmat Punya Tanggung Jawab, Kajian di Masjid Al Ikrom Wage
Kajian di Masjid Al Ikrom Diponegoro, Wage, Taman, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026). Foto: Masjid Al Ikrom

Mengucapkan Alhamdulillah adalah bentuk syukur. Tetapi syukur tidak berhenti di lisan. Ia harus sampai kepada hati dan terlihat dalam cara seseorang menggunakan nikmat Allah.

Gagasan itulah yang menjadi pokok pembahasan KH Muhammad Sholeh Drehem, Lc, M.Ag, dalam kajian Tazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Islam karya Dr. Ahmad Farid di Masjid Al Ikrom Diponegoro, Wage, Taman, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).

Sekitar 250 jamaah mengikuti kajian rutin tersebut. Pembahasan kali ini berfokus pada tema “Syukur”, khususnya materi halaman 320–322.

Menurut KH Muhammad Sholeh Drehem, seorang Muslim perlu memahami bahwa apa pun yang dimilikinya pada hakikatnya merupakan nikmat dari Allah.

“Karena itu, kesadaran terhadap nikmat tidak cukup hanya melahirkan ucapan pujian, tetapi juga menuntut tanggung jawab dalam menggunakannya,” katanya

Dia lalu menjelaskan, nikmat Allah tidak mungkin dihitung satu per satu. Iman dan Islam adalah nikmat terbesar. Setelah itu ada keluarga, pasangan, anak-anak, rezeki, kesehatan, ilmu, waktu, tenaga, dan berbagai fasilitas kehidupan.

“Masalahnya, manusia sering lebih mudah menikmati nikmat daripada menyadari bahwa dirinya sedang menerima nikmat,” ujar Sholeh Drehem.

Kesehatan, misalnya, baru terasa berharga ketika sakit datang. Waktu sering dianggap biasa ketika masih tersedia. Keluarga baru benar-benar dirasakan sebagai nikmat ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya.

Padahal, setiap nikmat semestinya melahirkan kesadaran: untuk apa Allah memberikannya?

“Di sinilah syukur tidak lagi sekadar persoalan ucapan. Kesehatan disyukuri dengan menggunakan tubuh untuk kebaikan. Waktu disyukuri dengan mengisinya dengan amal yang bermanfaat. Ilmu disyukuri dengan mengajarkannya. Harta disyukuri dengan membelanjakannya di jalan yang benar,” papar Sholeh Drehem.

Begitu pula keluarga. Mensyukuri pasangan bukan sekadar mengatakan bahwa dirinya beruntung memiliki suami atau istri yang baik.

Menurut dia, syukur diwujudkan dengan menjaga, menghormati, dan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga.

Dengan demikian, ukuran syukur bukan hanya seberapa sering seseorang mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga bagaimana nikmat itu digunakan.

Pembahasan menjadi menarik ketika dikaitkan dengan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: ucapan Alhamdulillah yang keluar dari seorang hamba juga merupakan nikmat Allah.

SMPM 5 Pucang SBY

Seseorang memuji Allah karena memperoleh nikmat. Namun kemampuan untuk menyadari nikmat, mengingat Allah, lalu mengucapkan Alhamdulillah juga tidak terlepas dari nikmat Allah. Kesadaran ini membuat syukur tidak memiliki titik akhir.

Dikatakan Sholeh Drehem, ketika seseorang bersyukur atas kesehatan, ia sesungguhnya sedang menikmati nikmat kesehatan sekaligus nikmat kemampuan untuk bersyukur. Ketika ia memuji Allah atas rezeki, kemampuan lisannya untuk memuji Allah pun merupakan nikmat lain.

“Karena itu, semakin seseorang menyadari nikmat Allah, semakin banyak pula alasan baginya untuk bersyukur,” tegasnya

Syukur Harus Berujung pada Amal

Sholeh Drehem menejlaskan, Al-Qur’an menempatkan syukur berdekatan dengan iman. Dalam QS An-Nisa’: 147, Allah berfirman, “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”

Dalam QS Al-Insan: 3, manusia juga diingatkan bahwa Allah telah menunjukkan jalan kepadanya. Ada yang bersyukur dan ada yang kufur.

“Syukur, dengan demikian, bukan hanya perasaan positif karena mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Ia merupakan sikap seorang hamba dalam mengenali sumber nikmat sekaligus menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah,” katanya.

Doa Nabi Sulaiman dalam QS An-Naml: 40 memperlihatkan hal itu. Setelah menerima nikmat, Nabi Sulaiman memohon pertolongan Allah agar dapat mensyukuri nikmat-Nya dan mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya.

Sholeh Drehem menuturkan, ada dua hal yang berjalan bersama: syukur dan amal. Sebab, nikmat yang tidak digunakan untuk kebaikan berpotensi hanya menjadi kesenangan. Sementara syukur mengubah kesenangan itu menjadi kesadaran dan tanggung jawab.

Maka, pertanyaan penting setelah menerima nikmat bukan hanya, “Apa yang saya dapat?” Tetapi juga, “Apa yang akan saya lakukan dengan nikmat ini?”

“Di situlah hakikat syukur menemukan bentuknya. Iman disyukuri dengan ketaatan. Keluarga disyukuri dengan tanggung jawab. Rezeki disyukuri dengan penggunaan yang benar. Kesehatan disyukuri dengan amal. Ilmu disyukuri dengan kemanfaatan. Dan seluruhnya bermuara pada satu hal: menjadikan nikmat Allah sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya,” jelas Sholeh Drehem. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 17/09/2026 21:29
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu