Hari keempat kunjungan delegasi Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke sejumlah sekolah di Tiongkok, Kamis (17/9/2026), menghadirkan pengalaman menarik dari Futian Shixia Primary School, Shenzhen.
Pada sesi pertama pagi itu, delegasi berkunjung ke sekolah dasar tersebut. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pemanfaatan ruang koridor sebagai Corridor Corner Activity, sebuah area yang digunakan untuk menampilkan hasil Project Based Learning (PBL) murid.
Penulis Wigatiningsih menyebut konsep tersebut sebagai panggung kecil dengan karya besar yang inspiratif dan berpotensi diadopsi oleh sekolah lain.
“Ini adalah Panggung Kecil, Karya Besar yang menginspirasi dan bisa diadopsi. Terlebih bagi sekolah yang mempunyai cukup ruang kosong dan belum digunakan secara maksimal.”
Di Shixia School, koridor tidak sekadar berfungsi sebagai jalur untuk berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya. Setiap sudutnya dirancang menjadi “Ruang Belajar Ketiga”, setelah kelas dan rumah.
Lorong sekolah dikonsep sebagai tempat interaksi, kolaborasi, sekaligus ruang untuk memamerkan karya murid. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
Salah satu fungsi utama Corridor Corner adalah sebagai galeri belajar. Dinding koridor dimanfaatkan menjadi etalase yang menampilkan karya murid.
Karya-karya tersebut bukan sekadar dekorasi sekolah, melainkan hasil proses belajar yang dikerjakan murid melalui berbagai proyek.
Selain sebagai galeri belajar, area koridor di Shixia School memiliki sejumlah fungsi yang mendukung kreativitas dan kolaborasi murid.
Pertama, Creativity Corner. Area ini dilengkapi meja mini dan papan tulis kapur yang dapat digunakan murid untuk menuangkan ide, mencatat gagasan, atau mengembangkan konsep baru.
Kedua, Collaboration Corner. Tempat duduk lesehan disiapkan sebagai ruang untuk melakukan diskusi kelompok kecil, terutama dalam kegiatan Project Based Learning.
Ketiga, Celebration Corner. Area ini digunakan sebagai papan apresiasi dan tempat memajang karya-karya murid hasil proyek pembelajaran.
Dengan konsep tersebut, karya murid tidak berhenti sebagai tugas yang dikumpulkan setelah pembelajaran selesai. Karya tersebut mendapatkan ruang untuk dilihat, diapresiasi, dan menjadi bagian dari lingkungan belajar sekolah.
Pemanfaatan koridor sebagai ruang belajar juga menunjukkan filosofi bahwa proses belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas.
Bagi murid dengan tipe atau gaya belajar visual, Corridor Activity dapat menjadi pilihan tempat belajar yang aman dan nyaman. Di ruang tersebut, murid tidak hanya dapat melihat karya, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar dari lingkungan di sekitarnya.
Karya yang dipajang juga menjadi bentuk penghargaan terhadap proses dan kreativitas murid. Warga sekolah dapat melihat hasil pembelajaran yang mereka kerjakan sekaligus memberikan apresiasi.
Konsep tersebut menjadi salah satu praktik yang menarik untuk diperhatikan oleh sekolah-sekolah yang memiliki ruang kosong dan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Corridor Corner menunjukkan bahwa keterbatasan ruang tidak selalu menjadi penghalang untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif. Bahkan sebuah sudut koridor pun dapat diubah menjadi ruang untuk belajar, berkolaborasi, berkarya, dan memberikan apresiasi kepada murid.





0 Tanggapan
Empty Comments