Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fortama 2026, Prof Milal Dorong Mahasiswa Berpikir Eksosentris

Iklan Landscape Smamda
Fortama 2026, Prof Milal Dorong Mahasiswa Berpikir Eksosentris
Prof Milal: Mahasiswa tak boleh egosentris (Istimewa/PWMU.CO).
pwmu.co -

Menyambut mahasiswa baru 2026-2027 dalam Forum Ta’aruf Mahasiswa (Fortama) sesi 2, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Prof Dr A Dzo’ul Milal MPd.

Berlangsung di Auditorium Kampus 1 pada Kamis, (17/9/2026), ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya membangun pola pikir egosentris, tapi juga eksosentris.

Dalam penguatannya, Prof Milal menekankan pentingnya mahasiswa memahami bahwa ilmu, keterampilan, dan aktivitas yang dilakukan selama masa perkuliahan harus memiliki dampak sosial.

Menurutnya, salah satu nilai penting yang perlu dikembangkan mahasiswa adalah perubahan cara berpikir dari egosentris menuju eksosentris.

“Umsida ini lembaga pendidikan yang di dalamnya tentu ada nilai-nilai pengetahuan keterampilan yang akan kita jalani bersama, bukan sendiri,” terangnya.

Egosentris merupakan pola pikir yang hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, sementara eksosentris mengarahkan seseorang untuk memikirkan kepentingan masyarakat dan orang lain.

“Jangan berpikir egosentris, berpikirlah untuk kepentingan masyarakat, menjadi mahasiswa yang berdampak positif untuk masyarakat” ujar Prof Milal.

Mengubah Sikap Egosentris 

Prof Milal menjelaskan bahwa nilai-nilai agama yang dipelajari dan diamalkan manusia pada dasarnya tidak hanya memberikan manfaat secara pribadi, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain.

Ia mencontohkan berbagai ibadah mahdhah seperti salat, puasa, hingga menahan amarah.

Menurutnya, nilai dari ibadah tersebut akan terlihat ketika mampu membentuk perilaku yang memberikan kedamaian dan manfaat bagi orang lain.

“Kalau kita tidak berbuat kekejian dan kemungkaran, yang untung siapa? Semua masyarakat akan bahagia dan sejahtera,” jelasnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia juga mengingatkan bahwa sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri dapat menjadi sumber konflik karena seseorang hanya melihat kebenaran dari sudut pandangnya sendiri.

Sebaliknya, kata Prof Milal, pola pikir eksosentris membuat seseorang untuk mempertimbangkan kepentingan bersama.

Harus Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

Karena itulah, Prof Milal mengajak mahasiswa baru agar tidak menjadikan pendidikan hanya sebagai sarana meningkatkan kemampuan pribadi. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah harus diarahkan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Saya dapat ilmu, saya pintar, lalu pintar itulah yang bermanfaat untuk masyarakat, untuk orang lain, jangan egosentris. Saya terampil bukan untuk diri sendiri, tetapi keterampilan yang bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Ia mengaitkan nilai tersebut dengan hadis tentang tiga amalan yang tetap mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.

Menurutnya, ketiga hal tersebut adalah eksosentris, karena memberikan manfaat yang melampaui kepentingan pribadi.

Memanfaatkan Kampus sebagai Ruang Bertumbuh

Dalam kesempatan tersebut, Prof Milal juga mengingatkan mahasiswa baru agar memanfaatkan seluruh fasilitas dan lingkungan akademik Umsida untuk mengembangkan potensi diri.

Menurutnya, perpustakaan, layanan akademik, serta berbagai aktivitas kampus harus menjadi ruang pembelajaran agar mahasiswa mampu memperoleh ilmu yang nantinya dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.

“Gunakan waktu semaksimal mungkin untuk mempelajari apapun yang nanti ilmunya akan menjadi ilmu yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri dan baik bagi orang lain,” pesannya. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 18/09/2026 00:42
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu