Ada amal yang kita kerjakan setiap hari, tetapi sering kita rasakan sebagai rutinitas. Azan terdengar. Kita berwudu. Lalu berdiri menghadap kiblat.
Beberapa menit kemudian salat selesai. Setelah itu kita kembali kepada pekerjaan, keluarga, kesibukan, dan urusan dunia. Padahal, salat bukan sekadar jeda di antara kesibukan.
Salat adalah bekal. Lebih-lebih ketika salat lima waktu dijaga secara berjamaah.
Dalam Tanbihul Ghafilin juz 1 halaman 276 disebutkan sebuah riwayat:
مَنْ دَاوَمَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَةِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى خَمْسَ خِصَالٍ أَوَّلُهَا يَرْفَعُ عَنْهُ ضِيقَ الْعَيْشِ، وَيَرْفَعُ عَنْهُ عَذَابَ الْقَبْرِ، وَيُعْطَى كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ، وَيَمُرُّ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ، وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Barangsiapa istikamah melaksanakan salat lima waktu secara berjamaah, disebutkan akan mendapatkan lima karunia: dihilangkan kesempitan hidupnya, diangkat azab kuburnya, menerima catatan amal dengan tangan kanan, melewati sirat seperti kilat yang menyambar, dan masuk surga tanpa hisab.”
Lima perkara ini tentu bukan alasan untuk menganggap salat sebagai semacam transaksi: salat dilakukan, lalu lima hadiah pasti diterima.
Lebih tepat jika riwayat tersebut dibaca sebagai dorongan agar seorang Muslim tidak meremehkan salat berjamaah dan terus menjaganya dengan istikamah.
Sebab, salat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Ketika hidup terasa sempit Kesempitan hidup tidak selalu berarti kekurangan uang.
Seseorang bisa memiliki penghasilan cukup, tetapi hatinya tidak tenang. Rumahnya nyaman, tetapi pikirannya gelisah. Pekerjaannya baik, tetapi hidup terasa berat.
Karena itu, ketika disebutkan bahwa kesempitan hidup diangkat, maknanya tidak harus dipahami sebatas bertambahnya harta.
Salat dapat menjadi jalan untuk memperoleh ketenangan, keberkahan rezeki, dan kemudahan dalam menjalani urusan kehidupan.
Lima kali sehari seorang Muslim diajak berhenti. Meninggalkan sejenak dunia. Menghadap Allah.
Mengakui bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada seluruh persoalan yang sedang dihadapinya.
Barangkali masalahnya belum selesai setelah salam. Tetapi hati yang menghadap kepada Allah bisa menjadi lebih kuat untuk menghadapinya.
Salat tidak berhenti ketika kita meninggal Bagian paling menggetarkan dari riwayat tersebut adalah ketika pembahasannya berpindah dari kehidupan dunia menuju alam kubur.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan At-Thabrani digambarkan keadaan seorang mukmin setelah diletakkan di dalam kubur.
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa salat berada di dekat kepalanya, puasa di sebelah kanannya, zakat di sebelah kirinya, sedangkan berbagai amal kebaikan berada di dekat kedua kakinya.
Ketika datang gangguan dari arah kepala, salat berkata:
مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ
“Mā qibalī madkhalun.”
“Tidak ada jalan masuk dari arahku.”
Sebuah gambaran yang dalam. Salat yang selama hidup kita kerjakan ternyata digambarkan sebagai penjaga.
Apa yang selama ini kita lakukan dengan tubuh, ternyata menjadi bekal ketika tubuh itu sudah tidak lagi mampu melakukan apa-apa.
Ketika seseorang masih hidup, ia mungkin merasa salat hanya beberapa menit. Namun setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah satu rakaat pun.
Tidak ada lagi kesempatan mengatakan, “Nanti saya salat.”
Tidak ada lagi waktu untuk menunda.
Karena itu, salat yang hari ini terasa sebagai rutinitas sesungguhnya sedang mempersiapkan perjalanan yang pasti akan kita tempuh.
Lima waktu, lima kali mengingat kematian
- Subuh mengajarkan kita meninggalkan kenyamanan tidur.
- Zuhur mengingatkan kita berhenti di tengah kesibukan.
- Asar mengajak kita tidak tenggelam dalam pekerjaan.
- Magrib menandai berakhirnya siang.
- Isya mengantar kita memasuki malam.
Lima kali sehari Allah memberi kesempatan kepada kita untuk kembali.
- Kembali dari kesibukan.
- Kembali dari kelalaian.
- Kembali dari dunia.
- Lalu berdiri di hadapan-Nya.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kita sudah salat. Pertanyaannya: apakah kita menjaga salat? Apakah kita menjaganya ketika sedang sibuk? Apakah kita menjaganya ketika sedang senang?
Apakah kita menjaganya ketika sedang sedih? Dan apakah kita bersedia meninggalkan kesibukan sejenak untuk mendatangi masjid dan salat bersama kaum Muslimin?
Bekal yang tidak ikut terkubur Harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Rumah yang kita bangun akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan. Kendaraan yang kita banggakan juga akan ditinggalkan. Bahkan orang-orang yang paling kita cintai hanya akan mengantar sampai liang lahat.
Setelah itu, kita menghadapi perjalanan seorang diri. Pada saat itulah amal saleh menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Riwayat tentang salat yang berada di sisi kepala seorang mukmin memberi gambaran bahwa ibadah yang kita lakukan di dunia tidak sia-sia. Amal saleh menjadi bekal dan, dengan izin Allah, menjadi sebab datangnya pertolongan dan keselamatan.
Maka jangan menunggu tua untuk rajin salat. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kematian datang untuk menyadari bahwa waktu kita ternyata sangat pendek.
Jika hari ini azan masih terdengar, itu berarti kesempatan masih terbuka. Jika kaki masih mampu melangkah ke masjid, jangan terlalu banyak mencari alasan.
Sebab suatu hari nanti, kita akan dibawa ke sebuah tempat yang tidak bisa kita tinggalkan. Dan ketika itu terjadi, yang kita butuhkan bukan lagi harta, jabatan, atau pujian manusia.
Kita membutuhkan amal yang pernah kita kerjakan dengan ikhlas. Termasuk salat. Maka jagalah salat lima waktu. Dan jika mampu, jagalah berjamaah.
Barangkali kita mengira kitalah yang selama ini menjaga salat. Padahal bisa jadi, suatu hari nanti, salat itulah yang menjaga kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments