Penampilan bernuansa gelap dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah videonya beredar di media sosial.
Kostum menyeramkan, peti mati, hingga adegan penyembelihan kambing dalam pertunjukan tersebut dinilai sebagian warganet memiliki kemiripan dengan visual yang mereka asosiasikan dengan ritual satanik.
SKNC 2026 digelar Kamis malam (10/9/2026) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal ke-61.
Beredarnya video tersebut kemudian memunculkan beragam respons publik. Panitia dan peserta menyampaikan permintaan maaf terkait penampilan yang menimbulkan polemik.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan estetika pertunjukan. Ketika simbol bernuansa gelap ditampilkan dalam rangkaian kegiatan Maulid Nabi, muncul pertanyaan mengenai bagaimana pesan visual diproduksi, diterima, dan dimaknai oleh masyarakat.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Dr. Muhammad Syarifuddin, M.Sos., mengatakan simbol dalam sebuah pertunjukan merupakan bagian dari proses komunikasi.
“Ketika kostum, properti, gerakan, dan ekspresi ditampilkan di ruang publik, semuanya dapat menjadi pesan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah makna yang dimaksudkan oleh komunikator sama dengan makna yang diterima masyarakat,” ujar Syarifuddin.
Syarifuddin menjelaskan, komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Visual juga memiliki kemampuan kuat dalam membentuk persepsi khalayak.
“Masyarakat membaca simbol berdasarkan pengalaman, pengetahuan, budaya, dan konteks sosialnya. Karena itu, sebuah simbol yang dimaksudkan sebagai ekspresi seni dapat dimaknai berbeda oleh masyarakat,” katanya.
Menurutnya, konteks Maulid Nabi menjadi faktor penting dalam memahami sebuah simbol. Simbol tidak dibaca secara terpisah dari tempat dan situasi ketika simbol tersebut ditampilkan.
“Ketika sebuah pertunjukan hadir dalam kegiatan Maulid Nabi, masyarakat akan membacanya dalam konteks keagamaan. Karena itu, simbol yang digunakan perlu dipertimbangkan kesesuaiannya dengan nilai dan tujuan kegiatan,” jelasnya.
Syarifuddin mengatakan kreativitas bukan sesuatu yang bertentangan dengan dakwah. Seni dan budaya justru dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.
Namun, menurutnya, kreativitas perlu memiliki arah dan mempertimbangkan konteks kegiatan.
“Kreativitas tetap diperlukan, tetapi harus sesuai dengan nilai dakwah. Dalam kegiatan Maulid, pesan tentang akhlak, keteladanan, kasih sayang, persaudaraan, dan kemaslahatan seharusnya menjadi orientasi,” tuturnya.
Ia menilai persoalan dapat muncul ketika bentuk pertunjukan justru lebih kuat menarik perhatian dibandingkan pesan yang hendak disampaikan.
“Jangan sampai masyarakat lebih mengingat simbol atau adegannya daripada pesan keteladanan Rasulullah SAW. Dalam komunikasi dakwah, daya tarik seharusnya menjadi pintu masuk menuju pesan kebaikan,” ujarnya.
Dalam perspektif komunikasi dakwah, Syarifuddin menyebut keberhasilan penyampaian pesan tidak hanya ditentukan oleh isi, tetapi juga cara, media, bahasa, simbol, serta respons penerima pesan.
Prinsip hikmah dan mau’izhah hasanah, menurutnya, menjadi penting dalam mengemas kegiatan keagamaan.
“Dakwah perlu disampaikan dengan cara yang bijaksana dan baik. Karena itu, kreativitas harus mampu mendukung pesan dakwah, bukan justru membuat pesan tersebut kehilangan konteks,” katanya.
Ia menambahkan, penyelenggara kegiatan dapat melakukan proses kurasi sebelum sebuah pertunjukan digelar.
“Perlu dilihat apa pesan yang ingin disampaikan, dari mana simbol itu berasal, apa maknanya, bagaimana kemungkinan masyarakat menafsirkannya, dan apakah sesuai dengan tema kegiatan,” jelas Syarifuddin.
Syarifuddin berharap persoalan tersebut tidak berhenti sebagai perdebatan mengenai siapa yang benar atau salah.
Menurutnya, polemik tersebut dapat menjadi momentum evaluasi agar penyelenggaraan kegiatan keagamaan ke depan semakin matang dalam mengelola pesan dan simbol.
“Kita tetap membutuhkan kreativitas, tetapi kreativitas tersebut harus selaras dengan pesan, konteks, dan tujuan dakwah. Ini yang penting menjadi pembelajaran,” pungkasnya.
SKNC 2026 memperlihatkan bahwa simbol dalam ruang publik dapat memiliki konsekuensi komunikasi. Sebuah kostum, properti, atau adegan dapat memperoleh makna berbeda ketika diterima masyarakat dengan latar pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang beragam.
Dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kreativitas tetap dapat dikembangkan. Namun, kreativitas perlu diselaraskan dengan nilai dakwah, akhlak, keteladanan, hikmah, kesantunan, dan kemaslahatan.
Dengan demikian, kemeriahan kegiatan tetap dapat menjadi sarana menyampaikan pesan utama, yakni menghidupkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments