Talenan plastik, kaos polyester, kerudung berbahan jersey, air minum dalam kemasan, hingga kantong teh celup ternyata bisa menjadi bagian dari persoalan mikroplastik. Fakta itu dikenalkan kepada siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Mudipat 2026, Kamis (17/9/2026).
Bersama Tim Ecoton, para siswa diajak melihat persoalan lingkungan bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Plastik yang digunakan sehari-hari dapat mengalami peluruhan menjadi partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.
Materi tersebut disampaikan Thara dan Tasya dari Ecoton dengan mengusung semangat “Everyone is Scientist, Everyone is Activist.” Siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak mengamati persoalan mikroplastik secara langsung.
Tasya memperkenalkan beberapa jenis mikroplastik berdasarkan bentuk dan sumbernya. Ada fiber, berupa serat dari kain sintetis; film, berupa plastik tipis seperti kantong kresek; fragmen, yakni pecahan plastik keras seperti tutup botol; serta foam, seperti styrofoam.
Yang membuat siswa terkejut adalah sumber mikroplastik ternyata dapat ditemukan dari benda-benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Talenan plastik, lapisan teflon, pengharum ruangan otomatis, pakaian berbahan polyester, kerudung berbahan jersey, air minum dalam kemasan, kemasan makanan ringan, hingga kantong teh celup menjadi contoh yang diperkenalkan dalam materi.
Para siswa juga dikenalkan dengan jalur masuk mikroplastik ke tubuh manusia, antara lain melalui udara, makanan dan minuman, serta paparan pada kulit.
“Mikroplastik telah menjadi persoalan lingkungan karena dapat mencemari lingkungan dan rantai makanan. Partikelnya juga telah ditemukan dalam sejumlah bagian tubuh manusia, termasuk paru-paru, hati, ginjal, dan aliran darah,” jelas Tasya.
Karena itu, siswa lantas diajak memulai pencegahan dari kebiasaan sederhana.
“Adik-adik, ketika belanja yuk biasakan memakai kantong belanja sendiri dan selalu membawa tumbler, karena dari langkah kecil kita tersebut sangat berdampak untuk perubahan yang lebih baik,” ujar Tasya.
Pesan itu kemudian tidak berhenti pada teori. Di akhir kegiatan, siswa diajak mengamati tangan atau kulit mereka menggunakan mikroskop untuk melihat apakah terdapat partikel yang diduga mikroplastik.
Pengalaman tersebut membuat pembelajaran lingkungan terasa lebih dekat. Sampah plastik tidak lagi sekadar sesuatu yang dibuang ke tempat sampah. Ada persoalan yang jauh lebih kecil, bahkan tidak kasatmata, yang perlu dipahami.
Kegiatan bersama Ecoton menjadi bagian dari pembelajaran LDK Mudipat 2026 tentang kepemimpinan. Jika sebelumnya siswa belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain, dalam sesi ini mereka diajak memahami makna menjadi khalifah di bumi: memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan yang menjadi tempat hidup bersama.
Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengatur diri atau kelompok. Bagi siswa kelas 6 SD Mudipat, kepemimpinan juga dimulai dari pilihan sederhana: mengurangi plastik sekali pakai, membawa tumbler, dan lebih sadar terhadap benda-benda yang digunakan setiap hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments