Konflik antara Gerakan Houthi di Yaman dan Kerajaan Arab Saudi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade bukan sekadar pertikaian politik atau perang senjata biasa. Di balik ledakan bom, bangunan yang runtuh, dan tangis anak-anak yang kehilangan orang tua, tersimpan pelajaran berharga bagi umat Islam.
Ketika pedang terhunus oleh sesama saudara, yang terluka bukan hanya tubuh. Kehormatan, persaudaraan, dan masa depan umat pun ikut dipertaruhkan. Karena itu, konflik Yaman tidak cukup dilihat hanya dari siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kemanusiaan.
Sebagai bangsa Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, kita tidak boleh terjebak dalam kubu-kubu yang saling menuduh. Kita juga tidak semestinya membagi umat menjadi kelompok yang dianggap “benar” dan “salah” hanya berdasarkan kesukuan, mazhab, atau aliansi politik.
Sikap kita perlu berpijak pada dua hal utama: kebenaran yang berkeadilan dan persaudaraan yang tidak terputus. Dengan prinsip itu, kita dapat melihat konflik secara lebih jernih tanpa kehilangan kepedulian terhadap penderitaan manusia.
Memahami Akar Konflik Secara Sederhana
Konflik ini bermula dari ketimpangan kekuasaan, ketidakadilan dalam pembagian sumber daya, serta campur tangan kekuatan asing yang sejak lama menjadikan Yaman sebagai arena pertarungan kepentingan global. Houthi yang lahir dari kalangan masyarakat terpinggirkan bangkit menuntut keadilan.
Di sisi lain, Arab Saudi melihat gerakan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan di wilayah perbatasannya. Perbedaan kepentingan itu kemudian berkembang menjadi konflik yang semakin kompleks, melibatkan berbagai kelompok dan kepentingan di dalam maupun luar Yaman.
Yang paling menyedihkan, umat Islam menjadi salah satu pihak yang paling menderita akibat konflik tersebut. Lebih dari 377.000 orang tewas, jutaan warga mengungsi, dan Yaman menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat berat.
Anak-anak kehilangan kesempatan hidup dengan aman, ibu-ibu kehilangan anak, sementara masyarakat harus menghadapi kemiskinan dan kehancuran. Negeri yang terkenal dalam sejarah sebagai salah satu tanah penting dalam peradaban Islam itu pun berubah menjadi ruang panjang penderitaan.
Sebagai umat yang beriman, ada beberapa prinsip yang perlu kita pegang teguh dalam menyikapi konflik tersebut. Prinsip pertama adalah menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik, kelompok, maupun perbedaan pemahaman keagamaan.
1. Menempatkan Kemanusiaan di Atas Segala Hal
Islam mengajarkan, “Barangsiapa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang sah, seakan-akan ia membunuh seluruh umat manusia. Dan barangsiapa menyelamatkan satu nyawa, seakan-akan ia menyelamatkan seluruh umat manusia.” (QS. Al-Maidah: 32)
Apa pun perbedaan pendapat di antara para pemimpin, rakyat biasa tidak boleh menjadi korban. Anak-anak, perempuan, dan lansia adalah manusia yang memiliki hak untuk hidup aman dan bermartabat.
Karena itu, setiap bentuk kekerasan yang menimpa warga sipil perlu kita tolak, dari pihak mana pun kekerasan tersebut datang. Membela kemanusiaan tidak boleh bergantung pada identitas kelompok yang menjadi korban.
2. Tidak Memihak Secara Buta
Kita tidak perlu menjadi pendukung Houthi maupun pendukung Saudi secara membabi buta. Kita perlu berpihak pada kebenaran dan perdamaian. Jika ada pihak yang menindas, kita perlu mengingatkannya. Jika ada pihak yang dirugikan, kita perlu mendukung haknya untuk memperoleh perlakuan yang adil.
Ketika kedua pihak saling mengangkat senjata dan rakyat menjadi korban, sikap yang semestinya kita dorong adalah menghentikan pertikaian dan membuka kembali ruang perundingan. Perdamaian tidak lahir dari fanatisme terhadap salah satu pihak.
Rasulullah SAW bersabda, “Bantulah saudaramu yang menindas maupun yang ditindas.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu cara menolong yang ditindas, tetapi bagaimana menolong yang menindas?” Beliau menjawab, “Cegahlah ia dari menindas. Itulah cara menolongnya.” (HR. Bukhari)
3. Memperkuat Ukhuwah, Bukan Memperlebar Celah
Seringkali terjadi eksploitasi konflik untuk memecah belah umat berdasarkan mazhab, seolah-olah Sunni harus berhadapan dengan Syiah. Cara pandang semacam itu justru memperlebar jurang permusuhan dan menjauhkan umat dari semangat persaudaraan.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga persatuan: “Orang-orang sebelum kamu terpecah-pecah dan binasa. Berpeganglah teguh-teguh pada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103)
Perbedaan pendapat dan pemahaman agama merupakan hal yang wajar dalam kehidupan umat. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menjatuhkan atau membunuh saudara seiman.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menumpahkan darah. Di situlah terdapat batas moral dan kemanusiaan yang tidak boleh dilanggar.
4. Mendukung Penyelesaian Damai
Jalan keluar dari konflik ini bukan kemenangan satu pihak atas pihak lainnya. Kemenangan sejati tercapai ketika terjaadi peletakan senjata, terbukanya meja perundingan, dan tegaknya keadilan bagi semua pihak.
Indonesia, sebagai negara yang hidup berdampingan dalam keberagaman, memiliki pengalaman berharga untuk dibagikan. Kekuatan kita bukan terletak pada senjata, melainkan pada kemampuan untuk duduk bersama, berbicara, dan mencari solusi yang adil.
Kepada saudara-saudara kita di Yaman dan Semenanjung Arab, ketahuilah bahwa doa kita tidak pernah putus untuk kalian. Darah yang mengalir dalam tubuh kalian adalah darah manusia yang sama dengan kita, dan persaudaraan kemanusiaan tidak boleh runtuh karena konflik.
Kepada kita semua di tanah pertiwi ini, jangan biarkan media sosial membuat kita saling membenci hanya karena konflik yang terjadi jauh di sana. Jadilah orang yang menyebarkan kedamaian, bukan api permusuhan.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Semoga Allah SWT menenangkan hati para pemimpin, menghentikan pertumpahan darah, dan mengembalikan kedamaian ke tanah Yaman serta seluruh negeri kaum muslimin. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.





0 Tanggapan
Empty Comments